- Hikayat Kakek yang Jenius -
Prizega namanya, semua terlihat berantakan lagi sepi. Di dalam sebuah rumah dg atap rumbia, tinggallah seorang diri. Terlihat seorang lelaki dg usia menua duduk di sebuah kursi, namun tak pantas disebut kursi. Dinding rumah yang rentan ambruk, tak membuat ia bersedih hati. Bahkan, menangis pun tak sanggup ia lakukan, air matanya telah habis di masa muda. Menyendiri, berdiam diri, sebenarnya bukan itu yang ia lakukan. Dulu, ia adalah orang jenius yang dianggap gila oleh semua orang. Dendam memang pernah terlintas di pikirannya, namun bukanlah dendam terhadap mereka. Dendam baginya adalah membuktikan bahwa ia bukanlah orang gila. Pada akhirnya, ia melarikan diri ke sebuah tempat yang tak seorang pun merambahnya. Ia tak punya apa-apa, hanya jenius yang ia punya. Keberhasilan hanya membutuhkan modal dan usaha, jenius adalah modalnya dan pelarian diri ini adalah usaha. Itulah prinsip hidup yang selalu memberi semangat dalam diri. Tak jarang, ia membuat berbagai macam alat mutakhir dg sederhana. Tak jarang pula, ia meneliti apa saja yang tak ia ketahui. Sering ia gagal dalam semua itu, namun ia tak pernah berhenti melakukannya. Dalam kurun waktu yang tak lama, ia telah berhasil membuat sebuah pil pengganti makan yang dibuat dari hasil reaksi 50 gram dedaunan+10 gram kulit maupun potongan daging/binatang yang diambil kandungan gizinya+oksigen sebagai pereaksi+K2O sebagai penyerap CO2+H2O->kapsul antilapar. Tak heran, dari sebuah daun dan seekor binatang ia bisa membuat ratusan pil semacam itu dg berbagai jenis dan tidak merusak lingkungan. Pil itulah makanan sehari-harinya, karena ia telah kehabisan bekal.
Suatu hari ia berhasil menyelesaikan sebuah robot assistant yg ia beri nama ''AsisLonev1''. Bentuknya seperti seorang manusia, memiliki otak mutasi dari gen binatang shg ia bisa berpikir, dan tanpa bahan bakar ataupun baterai. Prizega menganggap robot itu sbg teman dan asistant dalam segala hal. Suatu ketika, AsisLonev1 mengalami kerusakan di bagian otak. Prizega kembali dalam kesendirian, ia belum bisa memperbaiki robot itu.
Di lain sisi, ada sekelompok peneliti muda yg akan mengadakan penelitian di dekat rumah Prizega selama seminggu. Seminggu pun berlalu tak terasa, penelitian gagal karena ada gangguan karena gelombang udara asing dan mereka memutuskan kembali pulang. Saat seorang peneliti masih menyibukkan diri, tanpa sadar ia telah di tinggal oleh rekan-rekannya. Karena dirinya tengah disibukkan oleh penelitian fosil-fosil purba, tak lama kemudian ia teringat rekan-rekannya. Sarmiento segera mencari mereka, ia telah ditinggalkan oleh rekan-rekan yang juga sama sekali tak ingat dirinya.
Hari esok telah tiba dengan cepatnya. Pagi yang cerah, Sarmiento mencoba mengajak bicara para penghuni alam yang cukup mencekam itu. Ia berbicara pada batu, burung, jerapah, gajah, kelinci, tikus, monyet, namun mereka semua tak mempedulikan Sarmiento. Ia berniat ingin melanjutkan penelitiannya namun ia terlalu kelaparan, bekalnya telah habis. Ia pun pergi membawa seluruh barang-barangnya dan mencari-cari apa yang bisa ia makan. Sekian jauhnya dan luasnya area tersebut, sampailah ia di sebuah gubuk tua yang disamping rumahnya ada berbagai jenis tanaman dan buah. Itu adalah tanaman hasil kultur jaringan yang berhasil dikembangkan oleh Prizega. Tanpa basa-basi lagi, Sarmiento memetik sebuah jeruk milik Prizega, namun ia tak tahu bahwa gubuk dan tanaman itu ada orang yang tinggal. Mendengar suara gemeresak, Prizega keluar dari gubuknya dan ia melihat ada seseorang telah memetik buah dari tanamannya. ''Hai, anak muda apa yang kau lakukan?'', tanya Prizega. Sarmiento terkejut dan ia menjawab, ''Maafkan saya Kek, saya kelaparan. Karena itu, saya memetik buah tanaman kakek.'' ''Lalu kenapa kau bisa disini? Dari mana kau tau tempat ini?'', sambung Prizega. ''Begini, kek. Seminggu yg lalu saya datang ke sini bersama beberapa rekan saya untuk melakukan penelitian di daerah ini. Namun, kemarin mereka telah kembali dan saya masih tertinggal di sini. Mereka meninggalkan saya, dan akhirnya saya kelaparan. Saya mencari makanan dan akhirnya sampai di sini.'', jelas anak muda itu. '' Baiklah, apakah kau mau tinggal bersama kakek di gubuk yang reot ini?'' kata Prizega. Sarmiento berkata, '' Baik kek. Saya mau tinggal di sini.'' Mereka berdua segera masuk ke dalam gubuk. Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Sarmiento kepada Prizega tentang semua hasil penelitiannya. Sesekali dalam pandangannya yang tampak heran atas semua yang dimiliki oleh seorang kakek jenius. Dalam hatinya ia berkata bahwa Prizega pasti kakek paling jenius sedunia.
Semakin hari, semakin akrab. Prizega telah menganggap Sarmiento sebagai anaknya sendiri. Mereka berdua terus melakukan penelitian, siang malam tak mereka pedulikan. Tiada rasa sedih ataupun tertekan, semangatlah yg menggugah mereka untuk seperti ini. Sarmiento tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya, ''Em, kakek tau virus yang sedang menyerang di negara Soindural?''. ''Virus yang bagaimana, Nak?'' Prizega berbalik menanya. ''Virus itu sangat mematikan, kek. Sekali orang terjangkit, maka dalam waktu 1 jam ia akan segera mati. Apa kakek bisa membantu membuatkan vaksin atau obatnya?'' tanya Sarmiento. ''Mungkin, tapi apa kau sudah pernah menelitinya, Nak?'' terus Prizega. Anak muda menjawab, '' Ya, saya pernah menelitinya dan kebetulan saya masih membawa data-datanya.'' ''Baiklah, mari kita berjuang bersama.'' pekik kakek jenius itu. Kemudian, penelitian dan pembuatan vaksin dimulai. Seorang peneliti kimia dan seorang geologist tengah memadukan kejeniusannya. Akhirnya, 2 hari mereka berdua berhasil menyelesaikan misi yang sangat luar biasa itu.
Setelah puas atas segala hal yang ia dapat dari seorang kakek jenius yang gigih berjuang seorang diri di tengah sebuah hunian yang tak pernah dirambah siapapun itu. Sarmiento berniat hendak pulang dan mengajak kakek Prizega untuk ikut dengannya. Jurus rayuan gombal kini dilontarkan untuk kakek yang sangat ia kagumi itu. Butuh waktu yang tak sebentar untuk merayu kakek yang sangat kritis itu, karena ia selalu berpikiran apa yang akan terjadi. Akhirnya, Sarmiento berhasil membujuk dengan rayuan yang cukup dramatis. Mereka berdua diam-diam telah membuat sebuah kapsul terbang untuk dua penumpang, tanpa bahan bakar, tapi menyerap elektron-elektron sebagai energinya. Dan itulah yang mereka gunakan untuk pulang menuju rumah Sarmiento, di Parzojava.
Menakjubkan, dari sekian mil jarak yang ditempuh, mereka terbang hanya 1 jam satu menit lima puluh detik, wajarlah dengan kecepatan 200 mil/jam mereka terbang supercepat. Sarmiento dan Prizega mendarat dengan selamat dan tepat di depan rumahnya. Tetangga-tetangga Sarmiento terheran-heran melihat kapsul terbangnya. Sarmiento dan Prizega segera memasukkan barang-barangnya ke dalam rumah pribadi Sarmiento, jadi ia juga masih tinggal sendirian disana. Beruntung ada seorang kakek yang superhebat mau tinggal bersamanya, Prizega pun senang tinggal bersama Sarmiento. Hari sudah malam, mereka pun tidur dengan gunungan kecapekan.
Keesokan harinya, Sarmiento mengajak Prizega ke markas peneliti tempatnya bekerja. Sesampainya di sana, Sarmiento memperkenalkan kakek itu kepada rekan-rekannya. Rekan-rekannya pun terkejut setelah mendengar bahwa selama ia tertinggal di hutan, ia bertemu Prizega dan belajar banyak hal darinya dan ia pula yang menyelamatkan hidupnya. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa dan tentunya takkan terlupakan, itulah baginya. Di sana Prizega telah membawa obat antivirus dan obat penyembuh virus yang mematikan itu. Ia mempublikasikan di sebuah saluran televisi yang bekerja sama dengan markas peneliti tersebut. Seseorang yang terjangkit virus itu mencoba menelan pil tersebut dan terbukti sudah ia langsung sembuh dan hasilnya negative ketika di rontgen.Prizega mulai mendapat berbagai penghargaan dari markas peneliti dari hasil penelitiannya yang luar biasa. Sejak saat itulah, Prizega mulai terkenal sebagai kakek yang jenius. Bahkan dalam sebuah teknologi baru yang ia revolusikan elektron sebagai energi yang sangat berarti bagi kehidupan. Ingat, motivasi adalah keberhasilan. Dan keyakinan adalah pendukung keberhasilan itu. Walaupun terbuang, tetaplah berjuang. Itulah pesan terakhir yang Prizega sampaikan menjelang hembusan nafas terakhirnya sebelum ia wafat dalam usianya yang sudah menuntutnya kembali ke Tuhan.
__THE END__
No comments:
Post a Comment