>>>MENEMBUS LANGIT<<<
'Angkasa YoGa Inspira'
Diriku ini hanyalah orang biasa, biasa menanggung beban berat yang sejak awal kujalani hidup ini. Hidup ini hanyalah realitas yang saling terhubung, satu mati lainnya akan mati, satu hidup lainnya akan hidup. Begitulah celoteh angin malam yang berselimut berusaha meyakinkan diriku. Bukan omong kosong, dengarlah detak jantungku yang tak menyembunyikan kebohongan, satu impian masih ku cari jati diri. Impian itu harus terwujud, demi kau dan untuk semuanya aku akan menembus langit dengan luas memandang...
Sosok rembulan yang melengkung di sudut langit, menerka tajam kesunyian. Mendungka semua alam, menyisir kebatinan. Sebuah simphoni yang menertih detik-detik bintang mendaur keheningan. Sepatah jui kata sura yang tak terbayang sebagai angan-angan. Di sana, di sebuah rumah kecil yang beratapkan daun rumbia, tembok menjerit-jerit mau ambruk. Semua terlihat sederhana, dari mewahnya atap rumbia hingga lantai tanah yang beralas sebuah karpet tua. Jauh dari sebuah perkotaan, terpencil di daerah terisolir. Suasana masih kelam kelabu, bentang mori putih yang menutup tubuh abahku jelas terpampang pedih menyisihkan duka sukma terbenggala. Nasib diriku yang harus meneruskan hidup bersama Emak. Tetangga berdo'a untuk abah, sementara aku dan Emak masih menangis tersedu mengenang kepergian abah. Hujan seakan menandakan tangis alam sejagad yang turut berduka cita. Akhir proses pemakaman, kami harus merelakan abah untuk pergi selama-lamanya. Selamat tinggal, abah. . .
Di pagi buta, menyelinap derai-derai sepoi angin yang membawa tetesan embun dan menyuarakan kokok ayam jantan. Mentari menyingsing ufuk timur, memberikan sinar kehangatan tak terhingga. Sinyal-sinyal rutinitas mulai berkemelut dengan waktu.
''Le...,Yog. Bangun le. Wis awan, ayo ndang sekolah..''. Tiba-tiba saja aku terbangun dari alam bawah sadarku karena suara Emak yang mengagetkan. ''Nggih, Mak.'', balasku.
Aku adalah aku, dan inilah diriku apa adanya. Kenalkan, namaku Prayoga Ismail. Aku hidup dengan segala kesederhanaan. Namun, hal itu tak menghalangiku untuk bermimpi menembus langit. Setinggi apapun, sejauh apapun, aku pasti bisa meraihnya. Mimpi itu adalah meraih medali emas tingkat dunia.
Seusai mandi di sumur belakang rumah, aku bergegas cepat menuju ke sekolah.
''Mak, aku berangkat dulu..'', sembari berpamitan dan mencium tangan Emak aku mulai mengayuh pedal sepeda bututku. Ya mungkin terlihat buruk, sepeda ini adalah peninggalan abah. Oleh karena itu, aku tidak mau menjualnya. Heling keramaian mulai terdengar membising di setiap ruangan. Sesampainya di sekolah, teman-temanku menyambut hangat diriku dengan menyuntikkan senyuman ke arahku. Di ruang kelas yang sudah retak gemeretak atap-atapnya, tembok yang sudah menua dan meja kursi tua, aku bersama teman-temanku menimba ilmu di sana. Walau tak berdaya, keyakinan tetap menata sudut kerisihan terkikis kebersamaan. Enam jam kemudian, bel tanda berakhirnya kegiatan belajar dibunyikan. Segera ku ambil sepedaku dan bergegas untuk pulang. Teringat, aku sudah membuat janji bersama 2 orang sahabatku yaitu Maman dan Jojo. Mereka juga memberikan arti bagi kehidupanku, setiap hari aku selalu belajar dan bermain bersama mereka. Waktu bukanlah penghalangku.
''Mak, Assalamualaikum. Aku pulang...'' Tampaknya tidak ada orang di rumah. ''Wa'alaikumussalam, sudah pulang?'', sahut Emak dari belakang rumah. Hari yang sangat menguras pikiran, pagi hari ulangan bergandengan, sore hari tugas membentuk gunungan. Tidak ada kata sulit, semua pasti akan menjadi mudah. Maman dan Jojo tiba di rumahku. Lantas, kami bertiga melanjutkan belajar kelompok kemarin. Belajar tentang geografi. ''Eh, penyebabnya tsunami itu apa saja ya??'', tanya Jojo. ''Penyebab tsunami antara lain adalah adanya gerakan konvergen yang menyebabkan lempeng benua dan lempeng samudra bertabrakan di dasar laut, lalu adanya aktivitas vulkanik di dasar laut, kemudian jatuhnya meteor ke laut juga bisa.'', jelasku. ''Kalau proses terjadinya tsunami itu gimana??'', tanya Maman. ''Tsunami bisa terjadi karena adanya gerak konvergen yang menyebabkan tumbukan antara lempeng samudra dan lempeng benua di dasar lautan. Kemudian lempeng samudra menunjam di bawah lempeng benua karena massa jenisnya lebih kecil. Nah, dari tunjaman tersebut air laut masuk dan mengisi, di daerah pantai terlihat air laut akan surut. Saat lempeng itu bergerak lagi, maka tekanan yang timbul akan menumpahkan kembali air laut ke daratan dengan energi yang besar. Awalnya hanya terbentuk ombak kecil, namun semakin dekat dengan daratan, ombak itu semakin besar dengan kecepatan yang terus bertambah pula Terjadilah tsunami. Bener nggak, Yog??'', jelas Jojo. ''Wah, tepat sekali. Perfect!'', sahutku. ''Eh, Yog. Kamu bener pengen ikut seleksi olimpiade geosains?'', tanya Jojo. ''He'em, memangnya kenapa?'', balasku. Maman menjawab, ''Kalo begitu, bagaimana kalo kita bertiga ikut saja? Mau, nggak?''. ''Oke juga tuh. Nanti diantara kita yang lolos seleksi, akan kita bimbing dan belajar bersama.'', jelas Maman. “Aku janji, suatu hari aku pasti bisa meraih medali emas tingkat nasional.”, jawabku penuh keyakinan. Listrik belum sepenuhnya sampai di desaku, untunglah aku masih bisa belajar walau hanya dengan bola-bola lampu 5 watt dan ditemani oleh uplik yang berkedip-kedip. Hari sudah beruban, Maman dan Jojo memutuskan untuk pulang.
Sepi menjeli anggokan cicak yang memanjat dinding, malam kini tiba melepas kesumat. Tak gera kemira satu-satunya penerjang dunia. Sebenarnya, aku bukanlah anak tunggal, aku anak yang kedua. Tapi, sekarang kakakku sedang bekerja di Jepang sebagai seorang guru Bahasa Indonesia. Namun, semenjak tsunami dan gempa 8,9 SR yang meluluhlantakkan sebagian Jepang, aku dan Emak tidak tau kabarnya karena tak bisa dihubungi. Apalagi, kami semakin mengkhawatirkan wilayah Jepang yang tercemar radioaktif. Terakhir kali, kakak mengirimkan sepeda motor ini untuk Emak. Semoga kakak selamat di sana, aku rindu kakak. Aku berusaha memejamkan mata, terbias citra semu bayang-bayang kakak di pikiranku. Detik ke lima puluh sembilan jam sembilan, sorot cahaya bulan menyeru alam untuk segera tidur. Aku pun tertidur.
Di sekolah, pagi hari.
''Yeeeeeiyyy...!!'', sorak sorai meriah teman-teman sekelas setelah mendengar pengumuman pulang pagi karena guru akan mengadakan rapat. Semua siswa SMA Gelatik menyebar gerat-gerat sepanjang jalan pulang. Di tengah perjalanan, aku mampir ke sawah. Sawah dengan padi yang mulai menguning, menyiratkan keheningan yang terbaur dengan hembus angin menyejukkan hati. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang mirip sekali dengan abah berdiri di hadapanku. Sepedaku tak punya rem, sepatu yang aku gesekkan ke rodanya agar berhenti. ''Assalamualaikum anakku.''. ''Waalaikumussalam. Anda siapa??''. ''Aku abahmu.''. ''Abah sudah meninggal 3 hari yang lalu. Tapi... Ada apa??''.''Benar, ini adalah arwah abah. Abah hanya ingin mengingatkan di desa Karangima akan ada puting beliung. Segeralah pergi.''.Aku sedikit terkejut bertemu arwah abah. ''Tidak mungkin, abah sudah meninggal. Tapi, apakah itu benar-benar akan terjadi?''. ''Benar, anakku. Sudah, abah mau pergi dulu. Jaga Emakmu, ya. Assalamualaikum''. ''Baik abah. Waalaikumussalam.''. Semenjak bertemu dengan arwah abah, aku merasakan pikiranku semakin kuat dan memiliki keyakinan hidup, satu hal yang luar biasa. ''Mak, Emak. Kita harus cepat pergi dari sini, ada bahaya Mak.''. ''Bahaya apa, Le? Kamu ini aneh-aneh saja.''.'' Kata abah, sebentar lagi akan ada puting beliung menyerang desa ini, Mak.''. ''Husss!! Abah sudah meninggal. Sadar,Le..''. ''Iya,Mak. Tadi waktu aku di sawah ketemu arwah abah. Katanya begitu tadi. Ayo, Mak kita harus cepat pergi.''. ''Apa benar itu??Berarti itu peringatan dari Allah lewat abah kamu.'' Aku sempatkan memperingatkan beberapa orang di masjid yang sedang pengajian. Tapi, mereka tidak percaya padaku. . .
Tiba-tiba saja bumi bergeming, semi lati menjungga perisi alam. Turbulensi kencang meniup segalanya, menghempas dalam pusarannya. Seret putih berkilat menggelegar suara petir. Langit kelam, mendung memendam. Keji memang, alam tengah garang. Dalam sekejap, semua telah sirna. Beruntung, aku dan Emak sudah pergi sebelum beliung mengusik desa. Satu jam kemudian, kami kembali dengan cemas. Lihatlah, di sekeliling badan jalan yang berbatu rumah-rumah ambruk, barang-barang berpincangan, pohon-pohon tumbang menindih pemukiman. Bersyukur, di balik serbuan lengga angin beliung, rumahku masih utuh berdiri tegaknya bersama sebuah masjid kecil yang berada di sisi kirinya. 10 orang tewas seketika, puluhan warga luka-luka, semua hancur tiada tara. Berbondong-bondong warga yang selamat bahu-membahu memperbaiki segalanya. Beberapa orang selamat yang sempat kuperingatkan datang menemuiku dan mereka menyesali ketidakpercayaannya saat itu. Sayang sekali, Maman dan Jojo adalah 2 dari 10 korban tewas dari keganasan beliung. Kini aku hidup sendiri, tanpa sahabat dan teman lagi. Tak ada teman belajar, tak ada teman bermain. Menduka selendang merah terbesut penyesalan geru termusi. Hilang, musnah, terbilah seputih ani. Aku terus teringat saat-saat aku masih bersama Maman dan Jojo, terkadang mereka menjadi bunga dalam tidurku. Semenjak itu, aku tak tau apa yang harus kulakukan sendiri. Aku mulai menulis apa yang sedang ku pikirkan. Itulah inspirasi, terlahir serangkaian kata bersastra. Aku semakin tertarik di bidang sastra, aku ingin menjadi seorang penulis yang terkenal karya-karyanya. Kesibukan baru bagi diriku, di setiap waktu luang aku sempatkan menulis sebuah puisi ataupun sebuah cerita pendek. Hidup sebatang kara, agaknya tak menjadi penghalang diriku untuk terus bermimpi untuk menembus langit. Sekian bilion detik peluhku menetes temaram, tubuh ringkihku benerak kasang pendam sukma bahtera hidup.
Tak lama dari kejadian yang merenggut tak sedikit nyawa, tiba-tiba saja langit semakin kelam dalam temaram, gelap tiada secercah cahaya pun yang mampu menembus eratnya rantai awan-awan mendung yang bergelantung. Gempa sebesar 8,1 SR mengguncang dari Pantai Timur Sumatra. Semua panik, bangunan-bangunan roboh, pohon-pohon tumbang, petir menyambar-nyambar, gedung-gedung yang menjulang ambruk karena tak kuat menyangga. Semburat kuning yang kian berpendar tenggak di balik gunung, sejenak gempa telah menghancurkan segalanya termasuk rumah kami satu-satunya. Bersyukur aku dan Emak masih dilindungi Allah, walaupun tiada lagi barang yang kami punya. Di setiap sudut mata memandang, korban-korban berjatuhan, semua hancur berantakan. Beberapa warga yang selamat dengan cepat mengungsi ke posko terdekat. Namun, aku dan Emak semakin kebingungan. '' Iki piye,Le.. Barang-barang rusak kabeh, omahmu ambruk, piye neh, le???'', tangis Emak yang semakin deras mengalirkan air mata dari kerut pipinya. ''Sudah, Mak. Kita harus sabar. Allah masih memberi kita kesempatan untuk lebih baik. Bagaimana kalau kita kembali ke Pati saja, Mak???'', sahutku memberi saran Emak.
Benar-benar lenyap, Mozaik yang kini pecah sebelah, tak mampu lagi menghadirkan sebuli senyum yang menyisakan duka remba. Dengan tergopoh, aku dan Emak membawa helai pakaian dan bekal uang yang tersisa untuk kembali ke Pati.
Perjalanan ku tempuh bersama Emak dengan kapal dan bus antarprovinsi. Aku duduk di samping bilik jendela, sementara Emak di sisi kiriku. Cemas masih menghantui kala mentari tepat memancang di tengah jalan, sementara fatamorgana pun terus mendahului jalannya bus antarprovinsi yang kami tumpangi. Aku tertidur selama perjalanan itu. 10 jam berlalu dengan cepatnya.
''Ding..diing...ding..cesssss...'', suara rem yang begitu mengejutkan. ''Mak, Emak, Emak, jangan pergi, Emaaaak.......''. ''Hus, hus, bangun, Le. Jangan ngigau, kita sudah sampai.'', bisik Emak di samping telinga kiriku. Aku pun terkejut dan lekas bangun dari mimpi dan tidurku. Akhirnya, kami telah sampai di halte Puri, Pati. Waktu telah menunjukkan pukul 16.00, Emak mengajakku untuk shalat Ashar terlebih dahulu sebelum pulang. Usai shalat Ashar, kami menanti bus jurusan Pati-Jepara. Lima menit kemudian, akhirnya ada sebuah bus bertuliskan papan Pati-Jepara yang terpampang di atasnya. Di sana, ada seorang kernet yang meneriakkan ''Pati-Jepara, Jepara Pak, Jepara Buk''. Sesaat setelah masuk, aku dan Emak tidak mendapat tempat duduk lagi, terpaksa kami harus berdiri sambil memandangi sepanjang jalan pulang.
''Kiri, kiri, Pak..'', sahut Emak kepada kernet bus tersebut. Sampai di tepi jalan raya Desa Mojosemi, aku dan Emak harus berjalan sejauh 3 kilometer untuk sampai ke rumah kami di Desa Karangwage. Kaki ini serasa mau patah menyusuri jalan-jalan berbatu sejauh itu.
Akhirnya, terlihat sudah rumah nenek yang tak jauh berbeda dari dulu saat aku masih tinggal di sana. Tetangga-tetanggaku agak pangling dengan wajahku yang mungkin sudah berubah. Namun, mereka masih mengenali Emak dan menyapa kami. Begitulah, suasana yang asri, tenang, ramah, dan rukun, inilah yang akan menghiasi hari-hari di tempat tinggalku sekarang. Lingkungan baru akan menjadi tantangan baru untuk terus bermimpi menembus langit. Tiba di depan pintu, kami disambut hangat oleh kakek, nenek, Pakdhe, dan Budhe serta sepupuku. ''Assalamualaikum, Mbah. .'' ''Waalaikumussalam. Lho Yogo iki mau. Kok wis suwe ora bali-bali. Ana apa kok bali?''. Kakekku dan tetanggaku dulu biasa memanggilku dengan nama Yogo. ''Nggih, Mbah ngapuntenipun. Wingi teng Sumatra wonten bencana, barang-barang ajur sedanten.. Mula, kula ngajak Emak wangsul mriki mawon.'' ''Ya, Allah, le..le.. Alhamdulillah, kowe karo Emakmu diparingi selamet kalihan Gusti.'' ''Nggih, Mbah.'' Suasana haru sontak menyelimuti tangis-tangis yang begitu tersedu. Namun, seorang pejuang hidup haruslah tegar menghadapi segala cobaan. Karena dibalik cobaan, pasti ada energi dan hikmah sebagai motivasi. Untuk selanjutnya, pasti menjadi lebih baik. Hari sudah petang, kami semua menunaikan shalat maghrib berjama'ah dan kakeklah sebagai imamnya. Seusai shalat maghrib, kami makan bersama dengan lauk seadanya. ''Makan itu ya seadanya saja, nggak usah aneh-aneh. Tempe sama sambel aja bisa membuat nasi di wakul itu habis kok. Besok kalo jadi Presiden kamu bebas mau makan apa aja boleh.'', suara Pakdhe membelah kesunyian. '' Nggih...'', balasku dan sepupuku secara bersamaan. Setelah itu, kami menjalankan shalat Isya dan mengaji. ''Yog, besok kamu sekolah nggak?'', tanya sepupuku yang bernama Sugi. ''Oh, ya. Tapi, aku mau sekolah di mana ya?'', jawabku. ''Kamu kan seumuran dengan aku, bagaimana kalo kamu ikut sekolah bareng aku? Mau, nggak?'', lanjut Sugi. Aku menjawab, ''Ya, ya, mau, mau. Berarti kita sekelas dong.. Siip. Ngomong-ngomong, nama sekolahnya apa ?''. ''Ada deh, besok juga tau sendiri. Ya, udah. Besok kita berangkat bareng. Aku tidur duluan ya.'' Derap suara jangkrik yang meramaikan kesunyian malam adalah lantunan harmoni alam yang mengingatkan masa kecilku. Di balik bulan yang melengkung, terbias secercah angan yang terbias cendra mengisahkan indahnya malam itu. Detik-detik terakhir menjelang petualangan mimpi. Aku pun tertidur di atas sebuah kasur tua yang beralaskan debu tipis.
Kokok ayam jantan telah berkumandang, ufuk timur telah memancarkan seberkas cahaya keabadian. Kali ini aku terbangun sendiri, tanpa dibangunkan oleh Emak. Aku bergegas mandi dan shalat Subuh. Setelah itu, aku dan Sugi mampir sebentar ke sawah kakek untuk mengantar rantang yang berisi makanan sarapan pagi untuk kakek. Humm, udara segar nan menyerbit baris awal jajaran padi-padi di sawah yang masih hijau. Tampak beberapa kawanan capung yang terbang menikmati suasana yang sangat nyaman. Perjalanan menuju sekolah baru tampaknya hampir sama dengan yang lalu. Jalan-jalan beraspal masih jarang kutemui, yang ada hanya jalan raya saja. Tak apa, itu sudah biasa bagiku dan sepupuku. ''Stop, stop. Ini nih, sekolahnya.'', kata Sugi. Tepat di depan gerbang terpampang di sebuah papan besar tertulis sebuah nama 'SMAN 1 Bakti'. Saat aku mulai memasuki ruang kelas X-1, kakiku bergetar, mulutku diam terpaku menatap gedung tua itu. Tampaknya, bangunan ini masih kokoh. Sederhana sekali, satu meja untuk 2 anak dan lantainya pun masih memakai ubin. Aku meletakkan tasku dan duduk di sudut kiri belakang di samping Sugi. Tepat pukul 07.00, lonceng tanda masuk dibunyikan. Tiba-tiba, seorang guru datang. Ternyata, guru itu bernama Bu Tutik, beliau ramah dan baik. Lalu aku disuruh memperkenalkan diri kepada teman-teman. Kemudian, pelajaran dilanjutkan. Akhir pelajaran, Bu Tutik memberitahukan bahwa seminggu lagi akan ada seleksi olimpiade. Hal ini mengingatkanku pada dua orang temanku dulu, Maman dan Jojo. Aku sempat berjanji pada mereka untuk mengikuti seleksi olimpiade Geosains. Aku pun mendaftarkan namaku untuk mengikuti seleksi olimpiade Geosains, Sugi pun tertarik dan mendaftar sama denganku.
Baru dua kali melewati jalan menuju sekolah dan pulang sekolah, aku langsung bisa mengingatnya. Sepulang sekolah, aku dan Sugi harus mengirimkan rantang makan siang dan membantu kakek di sawahnya. Setelah ganti baju, kami berdua bergegas ke sawah. Di sawah, kami harus mengusir burung-burung pemakan padi yang terus berdatangan silih berganti dengan menggoyang-goyangkan tali rafia yang diikatkan dengan kaleng, ada juga yang diikatkan di orang-orangan sawah. Di atas sebuah gubuk yang reot, aku sempatkan untuk belajar Geosains dan mengerjakan PR bersama dengan Sugi. Nyaman sekali.... Sedikit waktu kami menundukkan kepala untuk membaca buku, burung-burung itu datang kembali. Oleh karena itu, kami harus bisa 'multitasking'. Tak terasa, matahari hampir terbenam, itu tandanya kami harus pulang. Aku senang saat menyusuri jalan sawah atau galeng untuk beradu cepat dengan Sugi. Tapi, aku mengalah saja karena ingin berjalan bersama kakek saja. Hari-hari yang kulalui senada dengan sepoi bayu yang membiaskan dedaunan kering.
Hari ke-7
Hari ini aku dan Sugi agak berdebar-debar karena sepulang sekolah ada seleksi olimpiade tingkat sekolah. Saat-saat itu kini telah tiba. Pengawas memasuki ruangan, soal telah dibagikan, dan mulailah mengerjakan.
Satu per satu kukerjakan soal-soal yang masih asing dalam benakku. Entahlah dengan Sugi, apakah dia bisa atau tidak. Usai seleksi, aku dan Sugi tawakkal dan berserah diri kepada Allah. Semoga saja kami berdua bisa lolos seleksi ini. Hasilnya akan diumumkan besok pagi.
Seperti biasa, aku dan Sugi belajar di sawah dan membantu kakek mengusir burung-burung sawah. ''Piye mau, tesmu iso nggarap??'', tanya kakek. ''Saged, tapi nggih wonten ingkang mboten saged, Mbah.'', jawab Sugi sambil menggoyang-goyangkan tali orang-orangan sawah. ''Nggih, Mbah. Soalipun wonten ingkang mboten saged'', sahutku. Kakek menjawab, ''Wis ora apa-apa. Sing penting wis usaha, tak dongakke sesuk kowe cah loro lolos kabeh. Kowe mesti dadi juara. Amin''. ''Amin..'', jawabku. ''Sugi??? Aja ngalamun, lho.'', lanjut kakek. ''E,e, nggih Mbah, Amin.'',balas Sugi terkejut. ''Yo wis, ayo padha mulih dhisik. Srengengene wis ambles.'', kata kakek. Kami semua mengemasi barang-barang dan segera pulang. Esok adalah penentuan, setelah perenungan dan perjuangan, kini tinggal harapan. Petang membayang, malam yang menggandeng segala asaku terbang jauh bersama gelembung impian, terhempas dan bergantung pada ranting yang menjulang.
Esok harinya, sepulang sekolah. Aku dan Sugi dengan cepat berlari menuju ke papan pengumuman, mencari nama kami berdua. ''Alhamdulillah, aku lolos!'', kataku. ''Yog, namaku tidak ada disitu...'', tebas Sugi penuh kecewa. ''Masak sih? Coba lihat lagi?'', sahutku. ''Nggak ada. Selamat ya kamu lolos.'', kata Sugi. ''Ya sudahlah, tahun depan kamu pasti lolos. Ah, ini lihat! Ini kan nama kamu?'', balasku. ''Yeeeee.. Aku lolos! Aku lolos! Kok yang diambil cuma 3 orang ya?'', tanya Sugi. Aku menjawab, ''Iya. Hanya 3 saja. Eh, yang peringkat satu itu cewek ya?''. ''He'em, nih namanya Centrya.'', jawab Sugi. Tiba-tiba ada seorang anak yang memotong pembicaraan kami, ''Oh, jadi kamu yang namanya Yoga dan Sugi. Lihat aja, di perlombaan sesungguhnya aku sudah pasti menang dari kalian!''. ''Oke, nggak masalah.'', sahutku. Lalu, Bu Tutik datang dan mengatakan bahwa seminggu lagi ada OSK dan guru pembimbingnya adalah beliau sendiri. Hati kami serasa berbunga-bunga saat perjalanan pulang. Kakek pun ikut bangga mendenini. Namun, pertandingan yang sesungguhnya akan segera dimulai.
Bimbingan akan terus dilakukan sejak 7 hari menjelang olimpiade. Pagi, siang, sore, aku dan Sugi selalu belajar Geosains bersama Bu Tutik. Saat sore hari, aku dan Sugi harus belajar di rumah Bu Tutik yang berjarak kurang lebih 7 km dari rumahku. Terkadang, aku dan Sugi harus pulang larut malam hingga pukul 19.00 malam. Sungguh menguras tenaga. Tapi, selama aku dibimbing oleh Bu Tutik, Centrya tak pernah datang. Entahlah, mungkin ia lebih memilih belajar bersama guru lesnya.
Sekian lama kami berdua belajar bersama Bu Tutik, hari pertandingan itu tiba juga. Hari ini, olimpiade dilaksanakan di Pati. Aku dan Sugi berangkat bersama Bu Tutik dengan bus jurusan Pati-Jepara, sementara Centrya akan menyusul diantar mobil pribadinya.
Setibanya di tempat pelaksanaan Olimpiade Geosains, ternyata Centrya sudah sampai terlebih dahulu. Kemudian, kami semua mendaftarkan diri sebagai peserta. Tepat pukul 08.00, kami mulai mengerjakan soal-soal olimpiade. Dua jam kemudian, semua peserta termasuk aku, Sugi, dan Centrya telah selesai. Hari ini juga pemenang olimpiade diumumkan. Menanti kurang lebih satu setengah jam, akhirnya ada pengumuman. Jantungku serasa berdegup kencang, juara dua sudah diumumkan, juara tiga sudah diumumkan, kami sempat putus asa karena di benak kami mana mungkin juara satu. Akhirnya, ''Juara satu diraih oleh...... Prayoga dari SMAN 1 Bakti.''. Haaa, aku tidak menyangka bisa juara satu. Bahkan, Centrya yang awalnya juara satu di sekolah, disini tidak mendapat juara. Aku bersyukur sekali kepada Allah, Bu Tutik dan Sugi memberiku selamat.
Begitulah perjuanganku di OSK, sampai OSP, aku dibina lebih keras lagi oleh Bu Tutik seorang diri. Begitu seterusnya sampai aku mendapat medali emas kemenangan di tingkat nasional. Semua itu adalah berkat perjuangan Bu Tutik yang bersedia membimbingku siang dan malam. Kapanpun dan di manapun. Terima kasih Bu Tutik, kau adalah guru yang paling mulia dan berjasa atas kemenanganku. Sesungguhnya, kemenangan ini aku persembahkan untuk Maman dan Jojo dan untuk menepati janjiku kepada mereka.
Itulah, akhirnya aku berhasil terbang bersama gelembung impian untuk menembus langit.
''..Seseorang akan melakukan apapun yang ia bisa, untuk meraih mimpinya dan untuk menembus langit..''
Wednesday, April 20, 2011
Monday, April 11, 2011
§ INDONESIA TERLUNTA-LUNTA §
INDONESIA TERLUNTA-LUNTA
‘Angkasa Yoga Inspira’
Indonesia tanah air beta
Apa kabarmu Indonesiaku???
Masihkah engkau mengingat masa-masa itu?
Masa disaat bercucuran darah nan rembah, tak kuasa menggempah, merah mewarna
Sayap garuda yang patah dan dicabuli bulu-bulunya oleh orang-orangnya
Berdiri pada setumpu kaki yang retak tulang-tulangnya, putih kuasnya
Di sana, tangan-tangan pengemis menengadah, kecewa kepadamu, Indonesiaku
Ribuan liter tangis air mata yang terlanjur bergantung padamu, dan yang mengabdi sebagai babu, Indonesiaku
Kala ku teropong satu per satu sudut kota, kudapati gedung-gedung menjulang rapuh
Berbeda dengan yang lalu, setiap hari bergonta-ganti layar percintaan, pendidikan dihancurkan olehnya
Kebebasan yang tak terbatas, menjerumuskan dirimu pada lingkup global yang mengganas, Indonesiaku
Pula, tertancap kuat di seremoni jalan-jalan beraspal, kibas-kibas terpa sang bendera
Namun jangan kau salah arah, itu bukan bendera Indonesia, melainkan wajah-wajah hina petinggi negara yang bertuliskan janji-janji belaka
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Jujur, aku malu menjadi penerusmu,
Ke mana pun ku langkahkan kedua kakiku pasti ku dengar cercaan bangsa barat, bangsa mutakhir teknologinya
Indonesia, ke mana aku harus pergi? Jika engkau tak seperti dulu lagi
Sudahkah kau puas akan semua itu, juara korupsi se-Asia, bandar narkoba terlaris di dunia
Ataukah mau tanduk dengan perilaku hina wakil-wakil rakyat, yang tak pantas mereka lakukan
Gudang-gudang semangat kini hangus terbakar oleh nasonalisme yang kian memudar
Pun angin segar telah tercemar oleh persepsi yang terbolak-balik, carut-marut tak menentu
Sadarlah, Indonesiaku! Benahi dirimu!
Tak ada gunanya ku lantunkan sederet peraduan di sepanjang khatulistiwa, hanya menjadi peredam kecil dari kebisingan
Jangan berhenti berbuat, itu yang kau kata, itu yang kau dusta
Merah jadi putih, dari keberanian menjadi ketakutan, itulah Indonesia
Putih bercampur merah, dari kesucian ternoda oleh darah yang mengucur deras karena kecelakaan yang kau perbuat
Indonesia, di zaman ini dan di abad ini, cukuplah kegilaanmu selama ini
Sadarkanlah dirimu, dari kendali hipnotis alam bawah sadarmu, Indonesia
Berkacalah pada beling-beling nista, pertiwi yang merunta-runta, sekarat
Janganlah kau tenggak arak kebohongan, dan bertobatlah pada Tuhan
Apakah kau ingin berubah? Ataukah kau ingin dirubah, oleh jajahan dunia maya
Musnah, diriku akan segera lenyap bersama tujuh bidadari langit yang telah lelah menasihatimu!
Jika kau mampu tabah, ku yakin kau pasti tergugah
Indonesia, jika kau masih terus semena-mena, dan tidak mau berbenah,
Lebih baik kita berpisah. . .
Ingatlah Indonesiaku, mutiara emasmu hampir saja diserobot tetanggamu
Karena itu, aku inginkan Indonesiaku seperti dulu lagi
Kobar semangat, bara api menyala-nyala dalam sehelai kain putih kesucian
Pemimpin negara yang adil dan bijaksana, menginspirasi segenap pena-pena mungil untuk kembali menggoreskan tinta untuk Indonesia
Indonesia tanah airku, sabdaku hanya untukmu, dan sirnaku ada di batinmu
Tuhan, jangan kau cabut Indonesiaku
Dari dalam hatiku. . .
‘Angkasa Yoga Inspira’
Indonesia tanah air beta
Apa kabarmu Indonesiaku???
Masihkah engkau mengingat masa-masa itu?
Masa disaat bercucuran darah nan rembah, tak kuasa menggempah, merah mewarna
Sayap garuda yang patah dan dicabuli bulu-bulunya oleh orang-orangnya
Berdiri pada setumpu kaki yang retak tulang-tulangnya, putih kuasnya
Di sana, tangan-tangan pengemis menengadah, kecewa kepadamu, Indonesiaku
Ribuan liter tangis air mata yang terlanjur bergantung padamu, dan yang mengabdi sebagai babu, Indonesiaku
Kala ku teropong satu per satu sudut kota, kudapati gedung-gedung menjulang rapuh
Berbeda dengan yang lalu, setiap hari bergonta-ganti layar percintaan, pendidikan dihancurkan olehnya
Kebebasan yang tak terbatas, menjerumuskan dirimu pada lingkup global yang mengganas, Indonesiaku
Pula, tertancap kuat di seremoni jalan-jalan beraspal, kibas-kibas terpa sang bendera
Namun jangan kau salah arah, itu bukan bendera Indonesia, melainkan wajah-wajah hina petinggi negara yang bertuliskan janji-janji belaka
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Jujur, aku malu menjadi penerusmu,
Ke mana pun ku langkahkan kedua kakiku pasti ku dengar cercaan bangsa barat, bangsa mutakhir teknologinya
Indonesia, ke mana aku harus pergi? Jika engkau tak seperti dulu lagi
Sudahkah kau puas akan semua itu, juara korupsi se-Asia, bandar narkoba terlaris di dunia
Ataukah mau tanduk dengan perilaku hina wakil-wakil rakyat, yang tak pantas mereka lakukan
Gudang-gudang semangat kini hangus terbakar oleh nasonalisme yang kian memudar
Pun angin segar telah tercemar oleh persepsi yang terbolak-balik, carut-marut tak menentu
Sadarlah, Indonesiaku! Benahi dirimu!
Tak ada gunanya ku lantunkan sederet peraduan di sepanjang khatulistiwa, hanya menjadi peredam kecil dari kebisingan
Jangan berhenti berbuat, itu yang kau kata, itu yang kau dusta
Merah jadi putih, dari keberanian menjadi ketakutan, itulah Indonesia
Putih bercampur merah, dari kesucian ternoda oleh darah yang mengucur deras karena kecelakaan yang kau perbuat
Indonesia, di zaman ini dan di abad ini, cukuplah kegilaanmu selama ini
Sadarkanlah dirimu, dari kendali hipnotis alam bawah sadarmu, Indonesia
Berkacalah pada beling-beling nista, pertiwi yang merunta-runta, sekarat
Janganlah kau tenggak arak kebohongan, dan bertobatlah pada Tuhan
Apakah kau ingin berubah? Ataukah kau ingin dirubah, oleh jajahan dunia maya
Musnah, diriku akan segera lenyap bersama tujuh bidadari langit yang telah lelah menasihatimu!
Jika kau mampu tabah, ku yakin kau pasti tergugah
Indonesia, jika kau masih terus semena-mena, dan tidak mau berbenah,
Lebih baik kita berpisah. . .
Ingatlah Indonesiaku, mutiara emasmu hampir saja diserobot tetanggamu
Karena itu, aku inginkan Indonesiaku seperti dulu lagi
Kobar semangat, bara api menyala-nyala dalam sehelai kain putih kesucian
Pemimpin negara yang adil dan bijaksana, menginspirasi segenap pena-pena mungil untuk kembali menggoreskan tinta untuk Indonesia
Indonesia tanah airku, sabdaku hanya untukmu, dan sirnaku ada di batinmu
Tuhan, jangan kau cabut Indonesiaku
Dari dalam hatiku. . .
Saturday, April 9, 2011
>>> SEBUAH PESAN, UNTUKMU LANGIT <<< |by Angkasa Yoga Inspira
Remang, jerit sekikil batu yang terlempar sambu
Hempas bayu menyiratkan dedaunan kering yang menggumpal
Satu, dua, detik demi detik loji pasir membolak-balik tubuh rampingnya
Terdengar kabar goreh jamban kehidupan sepantang
Retikan gerimis yang bersimphoni dengan dedauna hijan menginspirasi
Terbuang, diriku memang. Mustahil bagi kalian
Namun, sebuah pesan dari pena mungil yang kehausan tinta
Katanya, ia juga mengemis akan keadilan hidup..
Mencari sebuah jawaban, menelisik masa lalu
Bersahabat dengan waktu, sedih menyepi sendiri
Bersandar di bawah payung rumpang dan kain gombal
Dan seorang teman setia, engkau langit
Aku harus bisa, tanganku adalah sayap, kakiku setumpuk harap
Setiap kata mutiara yang terucap, mengadukan buih-buih nista, mencuri-curi pandang
Kala ku pandang sebutir bintang malam itu
Aku berbagi cerita padanya, memberi arti hidupnya
Hari benar-benar sudah memberontak, kelam
Orang-orang mulai menelusur jalan-jalan desa membawa teplok kesombongan
Sementara aku, apa yang kupunya???
Selain secarik kertas dan pena kurus yang mulai tersedak
Aku mulai menggores sebongkah kata dan berkisah
Menggeluti semua penghalang-penghalangku
Mencari sumber energi dengan inspirasi
Ku tatap nenar sorot tajam langit gempar
Ku teriakkan sederet frasa yang menggema
Aku ingin menembus langit, dan menjadi satu-satunya
Walau derita dupa panah-panah menusuk bingkai tulangku
Sekalipun jiwa ragaku harus ku pertaruhkan
Pun melemparkan sekanting darah penghabisan
Horison langit malam, adalah saksi yang pertama
Dan untuk terakhir kalinya. . .
Hempas bayu menyiratkan dedaunan kering yang menggumpal
Satu, dua, detik demi detik loji pasir membolak-balik tubuh rampingnya
Terdengar kabar goreh jamban kehidupan sepantang
Retikan gerimis yang bersimphoni dengan dedauna hijan menginspirasi
Terbuang, diriku memang. Mustahil bagi kalian
Namun, sebuah pesan dari pena mungil yang kehausan tinta
Katanya, ia juga mengemis akan keadilan hidup..
Mencari sebuah jawaban, menelisik masa lalu
Bersahabat dengan waktu, sedih menyepi sendiri
Bersandar di bawah payung rumpang dan kain gombal
Dan seorang teman setia, engkau langit
Aku harus bisa, tanganku adalah sayap, kakiku setumpuk harap
Setiap kata mutiara yang terucap, mengadukan buih-buih nista, mencuri-curi pandang
Kala ku pandang sebutir bintang malam itu
Aku berbagi cerita padanya, memberi arti hidupnya
Hari benar-benar sudah memberontak, kelam
Orang-orang mulai menelusur jalan-jalan desa membawa teplok kesombongan
Sementara aku, apa yang kupunya???
Selain secarik kertas dan pena kurus yang mulai tersedak
Aku mulai menggores sebongkah kata dan berkisah
Menggeluti semua penghalang-penghalangku
Mencari sumber energi dengan inspirasi
Ku tatap nenar sorot tajam langit gempar
Ku teriakkan sederet frasa yang menggema
Aku ingin menembus langit, dan menjadi satu-satunya
Walau derita dupa panah-panah menusuk bingkai tulangku
Sekalipun jiwa ragaku harus ku pertaruhkan
Pun melemparkan sekanting darah penghabisan
Horison langit malam, adalah saksi yang pertama
Dan untuk terakhir kalinya. . .
^^^SENANDUNG ILALANG^^^|by Angkasa Yoga Inspira
Sirna, elak ludah yang kian terbesut oleh laring
Menyematkan sebutir tapal yang terendam
Mendengar kabar di balik bulan yang berlekuk
Menandakan dirinya yang teramat malu
Akan mozaik yang retak gemeretak sebingkah
Hidupmu pula hidupmu
Celoteh ilalang yang kian melapuk tergusur alir hujan
Deretan hijau yang terbentang
Sepanjang jalan dan garis perbatasan
Kini tak mampu lagi ia merunta
Oleh tingkah-tingkah beringas nan kejam
Yang dulu menjadi kawan
Tak pernah lagi kudengar sayupmu
Senandungmu kepada langit sebagai gantungan amarahmu, dan tempat membuyar segala hitamku
Janji setiamu yang kian meragu, yang kian rapuh terbias hempas sudra ilalang
Begitu mudah patahmu, begitu senat bicaramu
Kala kudengar peraduan anyir bingar sore itu
Di tengah pelayar semburat kuning yang hampir tenggak di balik gunung
Kalau ku tahu, hujan rintah darah adalah tangismu dan senandung terakhirmu
Kan ku lahap lendir-lendir yang berselimut dalam daging yang menggelonggong
Kan ku basuh muka hina ini dengan embun-embun yang kau tebarkan
Tiba-tiba saja, sosok sejati mencuat dari gersangnya humus
Sebagian lagi jatuh terkapar dari petir yang menghantar
Detik terakhir antara hidup dan matimu
Menyatu dengan simphoni yang kian terpejam, luluh bersama ragaku
Lalu, jeritan-jeritan maut yang terdengar menjemput nyawamu
Hujan kembali menitikkan air matanya
Lalu, tumbuh secercah ilalang terbang yang merindang
Dari relung nadiku, dan dari serambi jantungku, menaungi dunia
Rimba berdentang untuk langit lebam
Menyematkan sebutir tapal yang terendam
Mendengar kabar di balik bulan yang berlekuk
Menandakan dirinya yang teramat malu
Akan mozaik yang retak gemeretak sebingkah
Hidupmu pula hidupmu
Celoteh ilalang yang kian melapuk tergusur alir hujan
Deretan hijau yang terbentang
Sepanjang jalan dan garis perbatasan
Kini tak mampu lagi ia merunta
Oleh tingkah-tingkah beringas nan kejam
Yang dulu menjadi kawan
Tak pernah lagi kudengar sayupmu
Senandungmu kepada langit sebagai gantungan amarahmu, dan tempat membuyar segala hitamku
Janji setiamu yang kian meragu, yang kian rapuh terbias hempas sudra ilalang
Begitu mudah patahmu, begitu senat bicaramu
Kala kudengar peraduan anyir bingar sore itu
Di tengah pelayar semburat kuning yang hampir tenggak di balik gunung
Kalau ku tahu, hujan rintah darah adalah tangismu dan senandung terakhirmu
Kan ku lahap lendir-lendir yang berselimut dalam daging yang menggelonggong
Kan ku basuh muka hina ini dengan embun-embun yang kau tebarkan
Tiba-tiba saja, sosok sejati mencuat dari gersangnya humus
Sebagian lagi jatuh terkapar dari petir yang menghantar
Detik terakhir antara hidup dan matimu
Menyatu dengan simphoni yang kian terpejam, luluh bersama ragaku
Lalu, jeritan-jeritan maut yang terdengar menjemput nyawamu
Hujan kembali menitikkan air matanya
Lalu, tumbuh secercah ilalang terbang yang merindang
Dari relung nadiku, dan dari serambi jantungku, menaungi dunia
Rimba berdentang untuk langit lebam
Subscribe to:
Posts (Atom)