AKU TAK BISA LAGI MENULIS_ _ _ _ _
Bentang dari Sabang hingga Merauke, perlahan garis itu tergores surut
Garis yang berduri-duri itu menusuk ragaku hingga rintih
Dari sejengkal langkah yang karat dan geming suara bergantian
Satu persatu pena-pena itu melambai penuh sayu
Mereka datang dengan jumlah ribuan
Lalu mereka berbaris rapi, membentuk sebuah antrean
Salah satu dari mereka berkata padaku, ''Gunakanlah aku untuk menulis. Biarlah aku jadi pena yang menulis mahakaryamu.''
Tiba-tiba mereka menghampiriku, sayang aku tak bisa lagi menulis
Menulis ragam puisi ataupun cerita-cerita pendek
Mereka semua menjauh dariku, menjauh dari angan dan kehidupanku
Pula, inspirasi yang dulu terus mengucur deras
Kini, ia lekang melihat lembaran-lembaran kusam
Aku tak tahu, mungkin semua itu hanya pilu sembilu
Tanganku tak lagi berdaya, bahkan tuk menggerakkannya
Hanya kau yang berani mampir kepadaku
Ku tahu, kau bukanlah penakut. Meskipun malaikat pencabut nyawa menemuimu
Dan kau pula yang telah mengajariku menulis
Namun, pena maafkan aku, aku bukan lagi orang penulis
Gaya bahasa rompis, rima dan sajak berpuitis, pilihan kata yang titis
Dulu aku punyai semua itu
Tapi, sekarang mereka lenyap entah kemana
Aku pun sedih kehilangan semua itu, semua yang telah menghidupkan tulisanku
Mungkin inilah tabir hidup, dan semua itu membuatku makin redup
Maafkan aku, pena. Aku tak bisa bersamamu
Karena aku tak kuat lagi menulis
Karena aku tak mampu lagi menulis
Karena aku tak bisa lagi menulis, untuk dirimu, diriku, dan pembaca karyaku
Tuesday, July 5, 2011
Sunday, May 29, 2011
[CERPEN] BOM WAKTU
“Ditulis Oleh Prayoga Ismail”
Hari itu, langit berkata pada barisan mega-mega putih yang bersemayam. Pada bias mentari yang merendah, di belahan angin yang berpusara. Di sana burung-burung beterbangan mengatur lintas cuaca. Terdengar riuh kicau burung tengah bersua, memeluk erat rantai-rantai sayap yang berjatuhan. Tarian mimpi dari kaki langit sejenak menyemaikan waktu yang mulai goyah.
Vera, seorang gadis belia terbaring di atas hamparan hijau rerumputan di halaman rumahnya yang cukup luas. Matanya terbelalak memandangi horison. Tubuhnya kurus, cukup ramping untuk memakai baju berukuran L. Ke manapun ia selalu mengenakan baju warna ungu. Ungu? Bukankah itu warna janda. Baginya ungu tak harus berarti warna janda. Ia menyukai warna ungu semenjak ia ditinggal mati oleh mamanya. Mamanya meninggal dua tahun lalu karena penyakit jantung. Dan mungkin penyakit itu akan menurun padanya. Terakhir kali, sebelum meninggal dunia mamanya memberikan sebuah baju dan rok berwarna ungu sebagai kado ulang tahunnya. Pada akhirnya, ia terus memakai pakaian warna ungu karena ia teringat hal itu.
Untuk ke sekian kalinya, ia membuka buku itu. Buku yang berisikan lembaran-lembaran kusam yang terselimut oleh debu tipis pula terbungkus rapi oleh sampul biru bergambar kupu-kupu bertuliskan 'Keadilan Hidup'. Apalah arti keadilan baginya, jikalau ia belum pernah merasakan keadilan itu semasa hidupnya. Ia terlalu sering mendengar perkataan itu di pikirannya. Sebenarnya ia tak suka membahas masalah itu. Tapi, harus bagaimana lagi, saat ini ia sedang dihadapkan dengan masalah keadilan. Tak jarang, air matanya perlahan menetes di sudut pipinya acapkali ia membaca buku itu ia teringat mamanya. Ia tersadar dan menghapus air matanya dan menilik dentang waktu yang terikat di tangannya. Ternyata sudah jam sembilan, ia menutup buku itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Rumah, Vera lebih senang menghabiskan hidupnya di rumah. Rumahnya terletak di Perumahan Runting, salah satu perumahan yang cukup dikenal oleh masyarakat di Kota Pati. Tepatnya, berada di paling pojok dari arah barat. Sederhana, tapi tak ketinggalan zaman karena desain rumahnya minimalis. Ada banyak rencana di benaknya. Menata beranda, menghias kamar, bersih-bersih rumah, membuat kolam kecil, dan rencana kecil lainnya. Baginya, rumah adalah istana yang harus ia tata sedemikian rupa. Tak ada tempat lain untuk menghabiskan waktu selain di rumah. Padahal, di rumah hanya ada dia dan ayah. Tapi, ia tak pernah merasa bosan. Walaupun, terkadang ia merasa dikurung dalam penjara tirai besi yang ditinggikan ataupun ia merasa hidupnya seperti humor putri raja. Namun, ia tak tahu harus pergi ke mana. Mau ke rumah teman, semuanya jauh. Ya, memang hidup sepenuhnya berada di rumah. Ketika ia berdebat dengan ayahnya, suasana yang terbangun sangatlah ramai, seperti debat sungguhan. Bahkan di dalam rumah, Vera dan ayahnya acapkali memakai pengeras suara ketika berdebat. Tak jarang, suaranya terdengar sampai ke rumah-rumah tetangga. Kalau sudah begitu, ia bisa merasa terlepas dari jerat-jerat masalah yang membuatnya stres.
Ia berjalan dengan tergopoh. Perlahan pintu rumahnya terkuak oleh bias mentari pagi yang merendah. Jemari kakinya terlihat basah karena embun pagi yang pekat. Ia berhenti sejenak di tepian kolam untuk membilas kakinya. Lalu kakinya digosok-gosokkan pada keset yang terbentang di depan pintu rumah. Kemudian ia masuk begitu saja. Di dalam rumah, terlihat ayahnya sedang duduk di sofa asyik menonton berita di televisi sambil berbicara pada seseorang lewat telepon. Tampaknya, ayahnya akan mendapat tugas baru. Maklumlah, betapa sibuknya seorang pengacara. Ia mengabdikan dirinya untuk keadilan dengan membela orang-orang yang berkasus. Namanya cukup terkenal karena ia selalu berhasil memenangkan perhelatan di meja hijau, sehingga orang-orang yang meminta bantuannya tak pernah merasa kecewa. Vera adalah anak satu-satunya. Dan ia berobsesi kelak anak sematawayangnya itu hendak menjadi seorang pengacara sepertinya. Karena ia bisa melihat bahwa anaknya itu memiliki bakat yang luar biasa dalam berdebat. Hal itu jelas terbukti. Lihatlah, di dalam almari kaca yang berada di sudut rumah dipenuhi oleh trofi-trofi, piala, bahkan medali hasil jerih payah Vera. Vera memang hebat dalam berdebat, seringkali ia memenangkan lomba-lomba seperti itu.
''Seandainya saja mama masih ada. Pasti ia akan bangga sepertiku.''
Gadis berbaju ungu itu langsung saja masuk ke kamarnya. Kamar yang dibuat khusus untuknya. Dindingnya dipenuhi oleh beberapa foto dan gambar diri. Lantainya dipasangi keramik warna hijau tua nan lembut. Di dekat jendela terdapat meja dan kursi belajar beserta tumpukan buku-buku pelajaran yang tertata rapi. Di tengah-tengah kamar terdapat sebuah ranjam spring-bed untuk beristirahat. Ada sebuah almari besar yang letaknya persis di sebelah pintu toilet dalam kamarnya. Vera lantas berbaring di ranjamnya. Ia hendak melanjutkan membaca buku 'Keadilan Hidup', buku milik ayahnya. Semakin ia mendalami deretan frasa yang berjajar, terasa kian hambar baginya. Kini ia mencoba menyalakan sebuah televisi di kamarnya. Jam berapa sekarang, sudah jam dua siang. Ditatapnya gambar-gambar semu, namun semuanya juga membosankan. Isinya hanya gosip-gosip selebriti, berita-berita terasa hambar, dan omong-omong tinggal kosong. Dimatikannya kembali televisi itu. Lalu, ia mencoba membuka beranda facebooknya. Ia harap bisa menatap wajah-wajah temannya dalam dunia maya. Ternyata isinya hanyalah notifikasi yang bertumpuk-tumpuk atau beberapa colekan dari teman, statusnya kian senyap dan lenyap. Ia pun segera log-out dari jejaring sosial itu. Vera merasa sangat bosan karena tak ada seorang pun yang mengajaknya berdebat. Sudah lama tak ada lomba debat. Ia merindu akan perdebatan seputar politik negeri, wakil rakyat, atau sekedar masalah pelajaran kuliah. Buku itu pun terus-menerus ia baca sudah 100 halaman, tapi buku itu masih terlihat tebal. Hingga matahari tenggak di balik gunung, ia tunda membacanya.
Senja hari, suasana terasa lengang di hatinya. Vera terus menatap tajam sebuah lukisan yang terpampang di dinding dan terjepit diantara foto dan gambar diri. Entahlah, apa yang membuatnya tertarik pada lukisan itu. Padahal, itu hanya sebuah lukisan ruang kosong. Lukisan itu dibelinya bersama mama dua tahun lalu di sebuah pameran. Semakin ia menatap, semakin terasa kosong, pikirannya seperti dihipnotis. Terkadang ia ingin membuang lukisan itu, tapi seperti ada yang menghalau otaknya untuk memberikan instruksi kedua tangannya. Tak lama kemudian, ia pun tersadar karena ada seekor kucing yang melompat dari atas genteng. Ia pun segera mengalihkan pandanganya ke luar jendela. Tiba-tiba saja ada dua orang lelaki paruh baya yang membawa sepeda motor berboncengan menuju rumahnya. Ditatapnya sekilas dan ia segera menutup tirai dari jendela itu.
Malam hari, dua orang paruh baya yang dilihatnya tadi bertamu di rumahnya. Vera pun menyuguhi dengan segelas teh hangat buatannya. Ditaruhnya gelas-gelas itu di depan para tamu dan ia menambah dengan senyum manisnya sambil mengangguk. Setelah itu, ia menuju ke kamarnya lagi. Vera tak mau mengganggu ayahnya menjamu tamu-tamunya. Terkadang hatinya gundah dan merasa terganggu karena setiap malam pasti ada tamu.
''Huuh, setiap malam pasti ada pelanggan ayah datang. Bosan! Tapi, ayah hebat juga. Banyak orang yang membutuhkannya.''
Hari semakin kelam, televisi masih menyala, tamu yang sedari tadi masih saja kuat berbicara. Padahal, ini tengah malam.
''Dasar, tamu kok tidak tahu waktu. Mengganggu saja. Aku tidak bisa tidur!!!''
Insomnia, acapkali ia mengalami hal itu. Tamu-tamu ayahnya lah yang menebar derita insomnia kepadanya. Bagaikan vektor yang menghantarkan penyakit. Padahal, esok hari ia harus wisuda kelulusan di Fakultas Hukum. Tengah malam itu ia mempersiapkan pakaian dan beberapa ornamen sebagai aksesoris. Pun kata-kata yang hendak ia ucapkan besok telah dirangkainya malam itu juga. Akhirnya, saat malam yang makin lelap, gerimis pun datang. Gerimis yang ritmis bersimphoni dengan dentum jarum jam yang kedua belas. Tamu-tamu sudah berpulang, diintipnya dari bilik tirai. Tak kuat lagi ia menahan kantuk, ia pun tertidur dengan wajah rumpang di saat gerimis yang ritmis berubah menjadi gerimis yang magis.
_* * *_
Derai-derai cemara yang mengapit rumahnya menggugurkan dedaunan kering. Ranting-ranting nan rapuh terbias oleh sepoi bayu yang menyemaikan udara dingin di sekitar rumahnya. Dari sudut timur, kokok ayam jantan menatap tajam mentari yang meninggi. Pagi yang membuta, orang-orang dibuatnya menggigil oleh setetes embun pekis. Dan hari itu Vera akan diwisuda. Ia berharap kali ini ayah meluangkan sedikit waktunya untuk mengantar gadis yang berbaju ungu itu.
Dan ternyata benar, ayahnya bersedia mengantarnya. Karena hari itu ia absen tugas sebagai pengacara. Setibanya di kampus, acara pun segera dimulai. Jantungnya berdebar kencang, meletup-letup tanpa henti. Dan ketika namanya dipanggil oleh mahaguru untuk berdiri di atas podium, bibirnya terasa kaku. Mulutnya seperti terkunci oleh gembok, kata-kata yang sempat ia persiapkan hilang begitu saja. Ia terdiam dan menghela nafas. Dengan begitu ia bisa berbicara dengan tenang. Seusai wisuda, Vera berfoto bersama ayah dan mahaguru. Sayangnya, kebahagiaan kali ini terasa rumpang. Karena hatinya yang dibuat bimbang.
''Mama, aku pasti bisa. Lihat, Mah. Aku sudah lulus. Mama bangga, kan?''
Itulah yang terucap ketika ia mampir ke makam mamanya. Ia menunduk dan setengah jongkok. Perlahan, kepalanya menengadah ke atas langit dan matanya terpejam. Air mata mengalir silih berganti dari sepasang mata Vera dan ayahnya. Sesekali mendecap dalam hati, ''Aku rindu mama. Aku dan ayah akan selalu sayang mama.'' Selepas itu, Vera dan ayahnya bergegas pulang dan berusaha melengkapi kebahagiaan yang rumpang. Gelar sarjana hukum telah ia raih, dan mulai dari sekarang ia belajar menjadi seorang pengacara. Seperti ayahnya, yang berjuang demi keadilan. Dalam perjalanan ia membaca buku itu lagi. Tampaknya ia hobi membaca. Khususnya buku-buku milik ayahnya, tentang keadilan.
Sesampainya di rumah, Vera diajarkan menjadi seorang pengacara oleh ayahnya. Tampaknya ia cukup paham teknik-tekniknya, bagaimana pembelaan dilakukan, dan bagaimana menanggapi kritikan dan cara mengungkap bukti. Esok hari ia pertama kali beralih profesi dari seorang mahasiswa menjadi seorang pengacara. Ia berharap ia bisa menjadi pengacara profesional semacam ayahnya. ''Sudahlah, tak perlu bingung. Negeri yang katanya demokrasi, ternyata malah menjadi demonstrasi. Negeri yang katanya bersih, ternyata malah mengotori dirinya sendiri dengan basuhan korupsi. Petinggi negeri yang obral janji, malah membubarkan gagasan yang telah diyakini. Termasuk juga, hukum yang terbolak-balik. Sesungguhnya di manakah letak keadilan? Selama ini hanya omong kosong, tak ada realisasi sama sekali. Rencana hanya tinggal rencana, tapi nyatanya apa? Nol besar. Kinerja pemerintahan patut dipertanyakan. Kalau perlu jabatannya dipertaruhkan. Tinggal menunggu waktu untuk meledakkan bom waktu.'', gumam Vera.
Hari itu adalah hari pertama ia menjadi seorang pengacara. Ia bekerja sekantor dengan ayahnya. Vera pun memperkenalkan dirinya kepada rekan kerja ayahnya. Namun di saat ia menjadi seorang pengacara, ia harus bekerja profesional. Dirinya berbeda ketika ia sedang di rumah dan di kantor. Tiba-tiba saja, ada seorang buronan yang hendak dihukum mati datang menghampiri kantor tempat kerjanya itu. Ia membisikkan sesuatu kepada ayah Vera. “Saya akan bayar Anda dua kali lipat, jika Anda bisa memenangkan sidang untuk saya.”, begitulah yang dikatakan oleh buronan itu. Ini adalah pertama kali ayahnya menerima klien seorang buronan, setahunya selama ini. Vera sempat heran kepada ayahnya, mengapa ayahnya mau menerima klien seperti itu. Di saat yang bersamaan, ada juga orang yang menjadi lawan buronan tersebut saat sidang nanti. Mereka itu adalah pihak keluarga korban. Pada hari itu, semua rekan kerja ayahnya memiliki jadwal penuh. Dan akhirnya, Vera mendapat klien untuk kali pertama. Ia menerima klien dari keluarga korban. “Seharusnya ayah memilih yang satu ini. Bukan buronan itu.”, berontaknya dalam hati. Kesepakatan telah dibuat dan esok hari sidang dimulai.
Malam itu adalah malam yang paling pekat bagi kedua pengacara itu. Meskipun, pengacara itu adalah anak dan ayah. Vera bahkan tak mengira jikalau pembelaan dalam sidang juga diperuntukkan bagi orang-orang yang bersalah. Sungguh ironis, dahulu ia kira ayahnya itu berjuang demi keadilan untuk orang-orang yang tertindas, bukan untuk yang menindas. Benar-benar panas, hatinya bagai tersiram air panas oleh ayahnya sendiri. Perang mulut pun tak bisa dihindari.
''Mengapa Anda mau membela orang yang salah?''
''Orang yang salah juga perlu pembelaan. Karena itu adalah haknya sebagai warga negara.''
''Hak? Apakah hanya karena itu Anda mau membelanya?''
''Saya kasihan. Lagipula ini sudah menjadi kewajiban saya.''
''Apa? Kasihan? Lalu apa Anda tidak merasa kasihan pada pihak korban?''
''Tapi, semua ini demi keadilan.''
''Keadilan? Apa maksud Anda? Sebenarnya di mana letak keadilan? Apakah keadilan pantas bagi
orang-orang yang sudah terbukti bersalah?''
''Bukan begitu.''
''Lalu bagaimana? Saya minta pendapat Anda?''
''Sudahlah, kau masih terlalu bersih dari masalah ini. Bersiaplah untuk besok.''
''Begitu ya? Baiklah! Tunggu besok!''
''Menurut Anda, apakah saya tidak pantas menjadi seorang pangacara?''
''Jika ternyata seperti ini, jelas tidak pantas.''
''Bukan masalah.''
“Mungkinkah gara-gara Anda dibayar dua kali lipat olehnya?”
“Bukan. Sudahlah pikirkan untuk besok saja.”
Terus seperti itu, perdebatan malam itu membuat Vera ingin menegakkan keadilan yang sebenarnya. Ia akan menemukan arti sesungguhnya dari keadilan, walaupun sebatas pengacara junior. Ia tampak kecewa dengan keputusan ayahnya. Ia akan melanjutkan perdebatannya besok pagi saat di pengadilan. Ia merasa harus memenangkan sidang esok hari. ''Jangan sampai buronan itu menang dalam sidang. Jika ia menang, keadilan memang benar-benar sudah rusak. Aku harus membenahi persepsi yang terbolak-balik ini.'' Sebenarnya ayahnya sudah tahu keadilan. Ia sudah paham karena lebih dari sepuluh tahun ia menjadi seorang pengacara. Tapi, di samping itu baru-baru ini ia sedang membutuhkan uang untuk melunasi hutang-hutangnya karena dua hari lalu ia sudah ditagih. Dua orang yang bertamu kemarin adalah pesuruh dari orang yang menghutanginya.
Hari itu pun datang dengan cepat. Segala macam dokumen-dokumen penting dan segenap bukti-bukti telah disiapkan oleh Vera. Ayahnya pun tampaknya sudah bersiap untuk berperang dalam sidang. Mereka berdua tidak berangkat secara bersamaan. Mana mungkin dua orang pengacara yang sedang dihadapkan pada masalah yang bersilangan berangkat bersamaan. Yang ada Vera berangkat lebih dahulu. Beberapa menit kemudian, ayahnya menyusul dari belakang mengendarai motor bebeknya.
Sesampainya di sana, terlihat Vera sudah bersama dengan pihak keluarga korban. Kemudian ayahnya tiba dan segera bergabung bersama seorang buronan yang hendak dibelanya. Para hakim dan pihak yang berkepentingan serta beberapa wartawan mulai memasuki ruangan sidang. Yang terakhir masuk adalah pimpinan sidang. Beliau mengenakan jubah hitam dan memakai kacu leher warna putih. Beliau pun segera mengambil alih pimpinan sidang.
''Dok..dok..dok.. Sidang dimulai.''
Pimpinan sidang memberi tanda dimulainya persidangan. Kedua pengacara itu benar-benar bekerja secara profesional. Vera menganggap sidang hari itu adalah lomba debat baginya. Dahulu ia pernah mengikuti lomba debat pengacara dan ia merasa harus menang kali ini. Perdebatan pun tak henti walau sesaat. Tak ingin berlama-lama, perdebatan pun telah berakhir. Sidang di-skors selama kurang lebih satu jam. Di sela-sela waktu itu, wajah Vera terlihat suram. Ia khawatir jika pihak keluarga korban tidak memenangkan sidang tersebut. Jantungnya berdebar semakin kencang, setiap detiknya mengalami percepatan. Mulutnya sedari tadi komat-kamit dan sesekali memejamkan matanya. Satu jam kemudian, hasil sidang dibacakan. ''Berdasarkan keputusan sidang, maka terdakwa dijatuhi hukuman........mati.''.
Saat ia mendengar keputusan itu, jantungnya seperti mau copot, tapi akhirnya ia lega bisa memenangkan pembelaannya. Dengan spontan ia mengucap alhamdulillah sebagai tanda syukur kepada Tuhan dan sontak memeluk keluarga korban. Untuk pertama kali Vera berhasil memenangkan sidang dan pihak keluarga korban cukup puas atas hasil kerjanya. Vera berhasil. Anehnya, untuk pertama kali pengacara senior itu kalah dalam persidangan. Bahkan dirinya pun tak menyangka dengan hasil sidang saat itu. Vera berkata pada ayahnya,
''Ayah, maafkan aku.''
''Tak apa-apa. Kau hebat anakku. Ayah bangga denganmu.''
''Yah, kutunjukkan engkau dengan keadilan sejati. Seperti inilah.''
''Kau benar. Mulai sekarang, ayah akan belajar dari sidang kali ini. Ayah yakin kau akan lebih
hebat dari ayah.''
''Aku bangga bisa menegakkan keadilan. Keadilan yang sebenarnya, bukan keadilan yang buta.''
“Ayah tahu, anakku. Sebenarnya ayah terpaksa menerima buronan itu sebagai klien. Karena ayah sangat membutuhkan uang itu untuk membayar hutang.”
“Ayah? Mengapa ayah seperti itu? Ayah jangan semakin menambah ruwet keadilan di negeri ini. Cukuplah keadilan yang menggila selama ini. Ayah jangan sekali-kali mempermainkan keadilan!”
“Ya, ayah tahu. Ayah sadar, selama ini ternyata ayah salah.”
“Ingat, Yah. Keadilan itu untuk kebenaran, bukan karena terpaksa ataupun karena sesuatu yang lain. Jika kita sudah mengabdikan diri untuk keadilan, maka jangan sampai kita menyalahkan keadilan itu.”
“Kamu benar, anakku.”
Kemudian Vera memeluk ayahnya dengan erat. Semenjak saat itu, Vera menjadi pengacara hebat bahkan ia bisa melebihi ayahnya. Seringkali jika ayahnya hendak mengambil sebuah keputusan, Vera lah yang dimintai saran, terutama masalah keadilan. Ketika ayahnya pensiun, ialah penerusnya. Media pun terus menyorot keberhasilan pengacara berbaju ungu itu. Sejak saat itu pula, keadilan benar-benar terbangun sejati. Dan ia pun berhasil memperbaiki polemik keadilan di negeri tercintanya. Kemunculannya bagaikan bom waktu bagi keadilan yang memalsu. Untuk menuai keadilan yang seadil-adilnya.
___* * *___
Pati, Mei 2011
Hari itu, langit berkata pada barisan mega-mega putih yang bersemayam. Pada bias mentari yang merendah, di belahan angin yang berpusara. Di sana burung-burung beterbangan mengatur lintas cuaca. Terdengar riuh kicau burung tengah bersua, memeluk erat rantai-rantai sayap yang berjatuhan. Tarian mimpi dari kaki langit sejenak menyemaikan waktu yang mulai goyah.
Vera, seorang gadis belia terbaring di atas hamparan hijau rerumputan di halaman rumahnya yang cukup luas. Matanya terbelalak memandangi horison. Tubuhnya kurus, cukup ramping untuk memakai baju berukuran L. Ke manapun ia selalu mengenakan baju warna ungu. Ungu? Bukankah itu warna janda. Baginya ungu tak harus berarti warna janda. Ia menyukai warna ungu semenjak ia ditinggal mati oleh mamanya. Mamanya meninggal dua tahun lalu karena penyakit jantung. Dan mungkin penyakit itu akan menurun padanya. Terakhir kali, sebelum meninggal dunia mamanya memberikan sebuah baju dan rok berwarna ungu sebagai kado ulang tahunnya. Pada akhirnya, ia terus memakai pakaian warna ungu karena ia teringat hal itu.
Untuk ke sekian kalinya, ia membuka buku itu. Buku yang berisikan lembaran-lembaran kusam yang terselimut oleh debu tipis pula terbungkus rapi oleh sampul biru bergambar kupu-kupu bertuliskan 'Keadilan Hidup'. Apalah arti keadilan baginya, jikalau ia belum pernah merasakan keadilan itu semasa hidupnya. Ia terlalu sering mendengar perkataan itu di pikirannya. Sebenarnya ia tak suka membahas masalah itu. Tapi, harus bagaimana lagi, saat ini ia sedang dihadapkan dengan masalah keadilan. Tak jarang, air matanya perlahan menetes di sudut pipinya acapkali ia membaca buku itu ia teringat mamanya. Ia tersadar dan menghapus air matanya dan menilik dentang waktu yang terikat di tangannya. Ternyata sudah jam sembilan, ia menutup buku itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Rumah, Vera lebih senang menghabiskan hidupnya di rumah. Rumahnya terletak di Perumahan Runting, salah satu perumahan yang cukup dikenal oleh masyarakat di Kota Pati. Tepatnya, berada di paling pojok dari arah barat. Sederhana, tapi tak ketinggalan zaman karena desain rumahnya minimalis. Ada banyak rencana di benaknya. Menata beranda, menghias kamar, bersih-bersih rumah, membuat kolam kecil, dan rencana kecil lainnya. Baginya, rumah adalah istana yang harus ia tata sedemikian rupa. Tak ada tempat lain untuk menghabiskan waktu selain di rumah. Padahal, di rumah hanya ada dia dan ayah. Tapi, ia tak pernah merasa bosan. Walaupun, terkadang ia merasa dikurung dalam penjara tirai besi yang ditinggikan ataupun ia merasa hidupnya seperti humor putri raja. Namun, ia tak tahu harus pergi ke mana. Mau ke rumah teman, semuanya jauh. Ya, memang hidup sepenuhnya berada di rumah. Ketika ia berdebat dengan ayahnya, suasana yang terbangun sangatlah ramai, seperti debat sungguhan. Bahkan di dalam rumah, Vera dan ayahnya acapkali memakai pengeras suara ketika berdebat. Tak jarang, suaranya terdengar sampai ke rumah-rumah tetangga. Kalau sudah begitu, ia bisa merasa terlepas dari jerat-jerat masalah yang membuatnya stres.
Ia berjalan dengan tergopoh. Perlahan pintu rumahnya terkuak oleh bias mentari pagi yang merendah. Jemari kakinya terlihat basah karena embun pagi yang pekat. Ia berhenti sejenak di tepian kolam untuk membilas kakinya. Lalu kakinya digosok-gosokkan pada keset yang terbentang di depan pintu rumah. Kemudian ia masuk begitu saja. Di dalam rumah, terlihat ayahnya sedang duduk di sofa asyik menonton berita di televisi sambil berbicara pada seseorang lewat telepon. Tampaknya, ayahnya akan mendapat tugas baru. Maklumlah, betapa sibuknya seorang pengacara. Ia mengabdikan dirinya untuk keadilan dengan membela orang-orang yang berkasus. Namanya cukup terkenal karena ia selalu berhasil memenangkan perhelatan di meja hijau, sehingga orang-orang yang meminta bantuannya tak pernah merasa kecewa. Vera adalah anak satu-satunya. Dan ia berobsesi kelak anak sematawayangnya itu hendak menjadi seorang pengacara sepertinya. Karena ia bisa melihat bahwa anaknya itu memiliki bakat yang luar biasa dalam berdebat. Hal itu jelas terbukti. Lihatlah, di dalam almari kaca yang berada di sudut rumah dipenuhi oleh trofi-trofi, piala, bahkan medali hasil jerih payah Vera. Vera memang hebat dalam berdebat, seringkali ia memenangkan lomba-lomba seperti itu.
''Seandainya saja mama masih ada. Pasti ia akan bangga sepertiku.''
Gadis berbaju ungu itu langsung saja masuk ke kamarnya. Kamar yang dibuat khusus untuknya. Dindingnya dipenuhi oleh beberapa foto dan gambar diri. Lantainya dipasangi keramik warna hijau tua nan lembut. Di dekat jendela terdapat meja dan kursi belajar beserta tumpukan buku-buku pelajaran yang tertata rapi. Di tengah-tengah kamar terdapat sebuah ranjam spring-bed untuk beristirahat. Ada sebuah almari besar yang letaknya persis di sebelah pintu toilet dalam kamarnya. Vera lantas berbaring di ranjamnya. Ia hendak melanjutkan membaca buku 'Keadilan Hidup', buku milik ayahnya. Semakin ia mendalami deretan frasa yang berjajar, terasa kian hambar baginya. Kini ia mencoba menyalakan sebuah televisi di kamarnya. Jam berapa sekarang, sudah jam dua siang. Ditatapnya gambar-gambar semu, namun semuanya juga membosankan. Isinya hanya gosip-gosip selebriti, berita-berita terasa hambar, dan omong-omong tinggal kosong. Dimatikannya kembali televisi itu. Lalu, ia mencoba membuka beranda facebooknya. Ia harap bisa menatap wajah-wajah temannya dalam dunia maya. Ternyata isinya hanyalah notifikasi yang bertumpuk-tumpuk atau beberapa colekan dari teman, statusnya kian senyap dan lenyap. Ia pun segera log-out dari jejaring sosial itu. Vera merasa sangat bosan karena tak ada seorang pun yang mengajaknya berdebat. Sudah lama tak ada lomba debat. Ia merindu akan perdebatan seputar politik negeri, wakil rakyat, atau sekedar masalah pelajaran kuliah. Buku itu pun terus-menerus ia baca sudah 100 halaman, tapi buku itu masih terlihat tebal. Hingga matahari tenggak di balik gunung, ia tunda membacanya.
Senja hari, suasana terasa lengang di hatinya. Vera terus menatap tajam sebuah lukisan yang terpampang di dinding dan terjepit diantara foto dan gambar diri. Entahlah, apa yang membuatnya tertarik pada lukisan itu. Padahal, itu hanya sebuah lukisan ruang kosong. Lukisan itu dibelinya bersama mama dua tahun lalu di sebuah pameran. Semakin ia menatap, semakin terasa kosong, pikirannya seperti dihipnotis. Terkadang ia ingin membuang lukisan itu, tapi seperti ada yang menghalau otaknya untuk memberikan instruksi kedua tangannya. Tak lama kemudian, ia pun tersadar karena ada seekor kucing yang melompat dari atas genteng. Ia pun segera mengalihkan pandanganya ke luar jendela. Tiba-tiba saja ada dua orang lelaki paruh baya yang membawa sepeda motor berboncengan menuju rumahnya. Ditatapnya sekilas dan ia segera menutup tirai dari jendela itu.
Malam hari, dua orang paruh baya yang dilihatnya tadi bertamu di rumahnya. Vera pun menyuguhi dengan segelas teh hangat buatannya. Ditaruhnya gelas-gelas itu di depan para tamu dan ia menambah dengan senyum manisnya sambil mengangguk. Setelah itu, ia menuju ke kamarnya lagi. Vera tak mau mengganggu ayahnya menjamu tamu-tamunya. Terkadang hatinya gundah dan merasa terganggu karena setiap malam pasti ada tamu.
''Huuh, setiap malam pasti ada pelanggan ayah datang. Bosan! Tapi, ayah hebat juga. Banyak orang yang membutuhkannya.''
Hari semakin kelam, televisi masih menyala, tamu yang sedari tadi masih saja kuat berbicara. Padahal, ini tengah malam.
''Dasar, tamu kok tidak tahu waktu. Mengganggu saja. Aku tidak bisa tidur!!!''
Insomnia, acapkali ia mengalami hal itu. Tamu-tamu ayahnya lah yang menebar derita insomnia kepadanya. Bagaikan vektor yang menghantarkan penyakit. Padahal, esok hari ia harus wisuda kelulusan di Fakultas Hukum. Tengah malam itu ia mempersiapkan pakaian dan beberapa ornamen sebagai aksesoris. Pun kata-kata yang hendak ia ucapkan besok telah dirangkainya malam itu juga. Akhirnya, saat malam yang makin lelap, gerimis pun datang. Gerimis yang ritmis bersimphoni dengan dentum jarum jam yang kedua belas. Tamu-tamu sudah berpulang, diintipnya dari bilik tirai. Tak kuat lagi ia menahan kantuk, ia pun tertidur dengan wajah rumpang di saat gerimis yang ritmis berubah menjadi gerimis yang magis.
_* * *_
Derai-derai cemara yang mengapit rumahnya menggugurkan dedaunan kering. Ranting-ranting nan rapuh terbias oleh sepoi bayu yang menyemaikan udara dingin di sekitar rumahnya. Dari sudut timur, kokok ayam jantan menatap tajam mentari yang meninggi. Pagi yang membuta, orang-orang dibuatnya menggigil oleh setetes embun pekis. Dan hari itu Vera akan diwisuda. Ia berharap kali ini ayah meluangkan sedikit waktunya untuk mengantar gadis yang berbaju ungu itu.
Dan ternyata benar, ayahnya bersedia mengantarnya. Karena hari itu ia absen tugas sebagai pengacara. Setibanya di kampus, acara pun segera dimulai. Jantungnya berdebar kencang, meletup-letup tanpa henti. Dan ketika namanya dipanggil oleh mahaguru untuk berdiri di atas podium, bibirnya terasa kaku. Mulutnya seperti terkunci oleh gembok, kata-kata yang sempat ia persiapkan hilang begitu saja. Ia terdiam dan menghela nafas. Dengan begitu ia bisa berbicara dengan tenang. Seusai wisuda, Vera berfoto bersama ayah dan mahaguru. Sayangnya, kebahagiaan kali ini terasa rumpang. Karena hatinya yang dibuat bimbang.
''Mama, aku pasti bisa. Lihat, Mah. Aku sudah lulus. Mama bangga, kan?''
Itulah yang terucap ketika ia mampir ke makam mamanya. Ia menunduk dan setengah jongkok. Perlahan, kepalanya menengadah ke atas langit dan matanya terpejam. Air mata mengalir silih berganti dari sepasang mata Vera dan ayahnya. Sesekali mendecap dalam hati, ''Aku rindu mama. Aku dan ayah akan selalu sayang mama.'' Selepas itu, Vera dan ayahnya bergegas pulang dan berusaha melengkapi kebahagiaan yang rumpang. Gelar sarjana hukum telah ia raih, dan mulai dari sekarang ia belajar menjadi seorang pengacara. Seperti ayahnya, yang berjuang demi keadilan. Dalam perjalanan ia membaca buku itu lagi. Tampaknya ia hobi membaca. Khususnya buku-buku milik ayahnya, tentang keadilan.
Sesampainya di rumah, Vera diajarkan menjadi seorang pengacara oleh ayahnya. Tampaknya ia cukup paham teknik-tekniknya, bagaimana pembelaan dilakukan, dan bagaimana menanggapi kritikan dan cara mengungkap bukti. Esok hari ia pertama kali beralih profesi dari seorang mahasiswa menjadi seorang pengacara. Ia berharap ia bisa menjadi pengacara profesional semacam ayahnya. ''Sudahlah, tak perlu bingung. Negeri yang katanya demokrasi, ternyata malah menjadi demonstrasi. Negeri yang katanya bersih, ternyata malah mengotori dirinya sendiri dengan basuhan korupsi. Petinggi negeri yang obral janji, malah membubarkan gagasan yang telah diyakini. Termasuk juga, hukum yang terbolak-balik. Sesungguhnya di manakah letak keadilan? Selama ini hanya omong kosong, tak ada realisasi sama sekali. Rencana hanya tinggal rencana, tapi nyatanya apa? Nol besar. Kinerja pemerintahan patut dipertanyakan. Kalau perlu jabatannya dipertaruhkan. Tinggal menunggu waktu untuk meledakkan bom waktu.'', gumam Vera.
Hari itu adalah hari pertama ia menjadi seorang pengacara. Ia bekerja sekantor dengan ayahnya. Vera pun memperkenalkan dirinya kepada rekan kerja ayahnya. Namun di saat ia menjadi seorang pengacara, ia harus bekerja profesional. Dirinya berbeda ketika ia sedang di rumah dan di kantor. Tiba-tiba saja, ada seorang buronan yang hendak dihukum mati datang menghampiri kantor tempat kerjanya itu. Ia membisikkan sesuatu kepada ayah Vera. “Saya akan bayar Anda dua kali lipat, jika Anda bisa memenangkan sidang untuk saya.”, begitulah yang dikatakan oleh buronan itu. Ini adalah pertama kali ayahnya menerima klien seorang buronan, setahunya selama ini. Vera sempat heran kepada ayahnya, mengapa ayahnya mau menerima klien seperti itu. Di saat yang bersamaan, ada juga orang yang menjadi lawan buronan tersebut saat sidang nanti. Mereka itu adalah pihak keluarga korban. Pada hari itu, semua rekan kerja ayahnya memiliki jadwal penuh. Dan akhirnya, Vera mendapat klien untuk kali pertama. Ia menerima klien dari keluarga korban. “Seharusnya ayah memilih yang satu ini. Bukan buronan itu.”, berontaknya dalam hati. Kesepakatan telah dibuat dan esok hari sidang dimulai.
Malam itu adalah malam yang paling pekat bagi kedua pengacara itu. Meskipun, pengacara itu adalah anak dan ayah. Vera bahkan tak mengira jikalau pembelaan dalam sidang juga diperuntukkan bagi orang-orang yang bersalah. Sungguh ironis, dahulu ia kira ayahnya itu berjuang demi keadilan untuk orang-orang yang tertindas, bukan untuk yang menindas. Benar-benar panas, hatinya bagai tersiram air panas oleh ayahnya sendiri. Perang mulut pun tak bisa dihindari.
''Mengapa Anda mau membela orang yang salah?''
''Orang yang salah juga perlu pembelaan. Karena itu adalah haknya sebagai warga negara.''
''Hak? Apakah hanya karena itu Anda mau membelanya?''
''Saya kasihan. Lagipula ini sudah menjadi kewajiban saya.''
''Apa? Kasihan? Lalu apa Anda tidak merasa kasihan pada pihak korban?''
''Tapi, semua ini demi keadilan.''
''Keadilan? Apa maksud Anda? Sebenarnya di mana letak keadilan? Apakah keadilan pantas bagi
orang-orang yang sudah terbukti bersalah?''
''Bukan begitu.''
''Lalu bagaimana? Saya minta pendapat Anda?''
''Sudahlah, kau masih terlalu bersih dari masalah ini. Bersiaplah untuk besok.''
''Begitu ya? Baiklah! Tunggu besok!''
''Menurut Anda, apakah saya tidak pantas menjadi seorang pangacara?''
''Jika ternyata seperti ini, jelas tidak pantas.''
''Bukan masalah.''
“Mungkinkah gara-gara Anda dibayar dua kali lipat olehnya?”
“Bukan. Sudahlah pikirkan untuk besok saja.”
Terus seperti itu, perdebatan malam itu membuat Vera ingin menegakkan keadilan yang sebenarnya. Ia akan menemukan arti sesungguhnya dari keadilan, walaupun sebatas pengacara junior. Ia tampak kecewa dengan keputusan ayahnya. Ia akan melanjutkan perdebatannya besok pagi saat di pengadilan. Ia merasa harus memenangkan sidang esok hari. ''Jangan sampai buronan itu menang dalam sidang. Jika ia menang, keadilan memang benar-benar sudah rusak. Aku harus membenahi persepsi yang terbolak-balik ini.'' Sebenarnya ayahnya sudah tahu keadilan. Ia sudah paham karena lebih dari sepuluh tahun ia menjadi seorang pengacara. Tapi, di samping itu baru-baru ini ia sedang membutuhkan uang untuk melunasi hutang-hutangnya karena dua hari lalu ia sudah ditagih. Dua orang yang bertamu kemarin adalah pesuruh dari orang yang menghutanginya.
Hari itu pun datang dengan cepat. Segala macam dokumen-dokumen penting dan segenap bukti-bukti telah disiapkan oleh Vera. Ayahnya pun tampaknya sudah bersiap untuk berperang dalam sidang. Mereka berdua tidak berangkat secara bersamaan. Mana mungkin dua orang pengacara yang sedang dihadapkan pada masalah yang bersilangan berangkat bersamaan. Yang ada Vera berangkat lebih dahulu. Beberapa menit kemudian, ayahnya menyusul dari belakang mengendarai motor bebeknya.
Sesampainya di sana, terlihat Vera sudah bersama dengan pihak keluarga korban. Kemudian ayahnya tiba dan segera bergabung bersama seorang buronan yang hendak dibelanya. Para hakim dan pihak yang berkepentingan serta beberapa wartawan mulai memasuki ruangan sidang. Yang terakhir masuk adalah pimpinan sidang. Beliau mengenakan jubah hitam dan memakai kacu leher warna putih. Beliau pun segera mengambil alih pimpinan sidang.
''Dok..dok..dok.. Sidang dimulai.''
Pimpinan sidang memberi tanda dimulainya persidangan. Kedua pengacara itu benar-benar bekerja secara profesional. Vera menganggap sidang hari itu adalah lomba debat baginya. Dahulu ia pernah mengikuti lomba debat pengacara dan ia merasa harus menang kali ini. Perdebatan pun tak henti walau sesaat. Tak ingin berlama-lama, perdebatan pun telah berakhir. Sidang di-skors selama kurang lebih satu jam. Di sela-sela waktu itu, wajah Vera terlihat suram. Ia khawatir jika pihak keluarga korban tidak memenangkan sidang tersebut. Jantungnya berdebar semakin kencang, setiap detiknya mengalami percepatan. Mulutnya sedari tadi komat-kamit dan sesekali memejamkan matanya. Satu jam kemudian, hasil sidang dibacakan. ''Berdasarkan keputusan sidang, maka terdakwa dijatuhi hukuman........mati.''.
Saat ia mendengar keputusan itu, jantungnya seperti mau copot, tapi akhirnya ia lega bisa memenangkan pembelaannya. Dengan spontan ia mengucap alhamdulillah sebagai tanda syukur kepada Tuhan dan sontak memeluk keluarga korban. Untuk pertama kali Vera berhasil memenangkan sidang dan pihak keluarga korban cukup puas atas hasil kerjanya. Vera berhasil. Anehnya, untuk pertama kali pengacara senior itu kalah dalam persidangan. Bahkan dirinya pun tak menyangka dengan hasil sidang saat itu. Vera berkata pada ayahnya,
''Ayah, maafkan aku.''
''Tak apa-apa. Kau hebat anakku. Ayah bangga denganmu.''
''Yah, kutunjukkan engkau dengan keadilan sejati. Seperti inilah.''
''Kau benar. Mulai sekarang, ayah akan belajar dari sidang kali ini. Ayah yakin kau akan lebih
hebat dari ayah.''
''Aku bangga bisa menegakkan keadilan. Keadilan yang sebenarnya, bukan keadilan yang buta.''
“Ayah tahu, anakku. Sebenarnya ayah terpaksa menerima buronan itu sebagai klien. Karena ayah sangat membutuhkan uang itu untuk membayar hutang.”
“Ayah? Mengapa ayah seperti itu? Ayah jangan semakin menambah ruwet keadilan di negeri ini. Cukuplah keadilan yang menggila selama ini. Ayah jangan sekali-kali mempermainkan keadilan!”
“Ya, ayah tahu. Ayah sadar, selama ini ternyata ayah salah.”
“Ingat, Yah. Keadilan itu untuk kebenaran, bukan karena terpaksa ataupun karena sesuatu yang lain. Jika kita sudah mengabdikan diri untuk keadilan, maka jangan sampai kita menyalahkan keadilan itu.”
“Kamu benar, anakku.”
Kemudian Vera memeluk ayahnya dengan erat. Semenjak saat itu, Vera menjadi pengacara hebat bahkan ia bisa melebihi ayahnya. Seringkali jika ayahnya hendak mengambil sebuah keputusan, Vera lah yang dimintai saran, terutama masalah keadilan. Ketika ayahnya pensiun, ialah penerusnya. Media pun terus menyorot keberhasilan pengacara berbaju ungu itu. Sejak saat itu pula, keadilan benar-benar terbangun sejati. Dan ia pun berhasil memperbaiki polemik keadilan di negeri tercintanya. Kemunculannya bagaikan bom waktu bagi keadilan yang memalsu. Untuk menuai keadilan yang seadil-adilnya.
___* * *___
Pati, Mei 2011
Saturday, May 7, 2011
[PUISI] ~LANGIT MENDUNG~ |Angkasa Yoga Inspira
LANGIT MENDUNG
Sesaat aku memejamkan mata, melihat seisi alam tanpa kedip
Di sini aku sendiri, menanti seberkas cahaya cinta
Menatap seekor kupu-kupu yang kembali ke sarangnya
Gerak-gerik awan pun tak pernah kulewatkan
Bahkan untuk menanti hujan
Langit telah dipenuhi oleh jejal awan-awan hitam
Yang bergelantung dan sesekali mendecap pada rantai pelangi
Udara menjadi panas, namun langit tak meninggalkan bekas
Yang ia rajut dengan jarum kukunya
Kenapa kerut wajah petani terlihat murung?
Kenapa orang-orang telah sedia payung?
Kenapa semut-semut berlarian menuju huma?
Kenapa dengan para loper koran berhenti menjajakan surat kabarnya?
Lalu dari mana aku harus mendapatkan gosip hari ini?
Atau sekedar menilik berita yang heboh saat ini?
Kenapa listrik tiba-tiba berpulang? Pada saklar yang dimatikan
Kenapa pula dengan dirimu yang kelam?
Ada apa sebenarnya? Apakah engkau sedang membalas dendam?
Ataukah engkau ingin bercanda dengan nyawa?
Bukan salah siapa-siapa, tapi kaulah yang tidak merasa
Merasa diberi susu oleh ibumu dan diberi makan oleh bapakmu
Oleh tanah yang semakin sempit, oleh air yang semakin keruh
Mereka semua memang telah ternoda
Kini biarlah mereka memberimu sekali cambuk untuk membangunkan dirimu
Padahal sedetik sebelumnya, ia masih bersabar
Tapi, kau makin keterlaluan
Tahukah kamu? Langit sedang mendung
Sebentar lagi yang akan turun adalah batu, bukan air
Karena kau telah membuat air menangis
Denyut nadiku terasa kembang-kempis, ketakutanku belum menepis
Langit sedang mendung, ia juga mengandung 6 bulan
Lihatlah perutnya buncit karena terus kau jejali tiap hari
Aku tak mau tahu, jika langit telah membakar jagung
Untuk memenuhi hasrat bayi dalam perutnya
Dan aku tak mau tahu karena langit semakin mendung
Ia mendung, mendung, mendung, mendung, mendung, mendung
Tidak, aku tidak tahu jika kau mau menanggung
Semua kini terlambat, hujan turun lebat
Menghanyutkan dirimu, dan membinasakan dirimu
Pada lubang liang kubur, dan sekarang langit tengah merenung
Ia merenung dan memutuskan untuk menjadi mendung
Mendung lagi, setiap hari,
Hingga mengakhiri
Sesaat aku memejamkan mata, melihat seisi alam tanpa kedip
Di sini aku sendiri, menanti seberkas cahaya cinta
Menatap seekor kupu-kupu yang kembali ke sarangnya
Gerak-gerik awan pun tak pernah kulewatkan
Bahkan untuk menanti hujan
Langit telah dipenuhi oleh jejal awan-awan hitam
Yang bergelantung dan sesekali mendecap pada rantai pelangi
Udara menjadi panas, namun langit tak meninggalkan bekas
Yang ia rajut dengan jarum kukunya
Kenapa kerut wajah petani terlihat murung?
Kenapa orang-orang telah sedia payung?
Kenapa semut-semut berlarian menuju huma?
Kenapa dengan para loper koran berhenti menjajakan surat kabarnya?
Lalu dari mana aku harus mendapatkan gosip hari ini?
Atau sekedar menilik berita yang heboh saat ini?
Kenapa listrik tiba-tiba berpulang? Pada saklar yang dimatikan
Kenapa pula dengan dirimu yang kelam?
Ada apa sebenarnya? Apakah engkau sedang membalas dendam?
Ataukah engkau ingin bercanda dengan nyawa?
Bukan salah siapa-siapa, tapi kaulah yang tidak merasa
Merasa diberi susu oleh ibumu dan diberi makan oleh bapakmu
Oleh tanah yang semakin sempit, oleh air yang semakin keruh
Mereka semua memang telah ternoda
Kini biarlah mereka memberimu sekali cambuk untuk membangunkan dirimu
Padahal sedetik sebelumnya, ia masih bersabar
Tapi, kau makin keterlaluan
Tahukah kamu? Langit sedang mendung
Sebentar lagi yang akan turun adalah batu, bukan air
Karena kau telah membuat air menangis
Denyut nadiku terasa kembang-kempis, ketakutanku belum menepis
Langit sedang mendung, ia juga mengandung 6 bulan
Lihatlah perutnya buncit karena terus kau jejali tiap hari
Aku tak mau tahu, jika langit telah membakar jagung
Untuk memenuhi hasrat bayi dalam perutnya
Dan aku tak mau tahu karena langit semakin mendung
Ia mendung, mendung, mendung, mendung, mendung, mendung
Tidak, aku tidak tahu jika kau mau menanggung
Semua kini terlambat, hujan turun lebat
Menghanyutkan dirimu, dan membinasakan dirimu
Pada lubang liang kubur, dan sekarang langit tengah merenung
Ia merenung dan memutuskan untuk menjadi mendung
Mendung lagi, setiap hari,
Hingga mengakhiri
Friday, May 6, 2011
--->BANGUN PAGI<--- |Angkasa Yoga Inspira
BANGUN PAGI
Saat mentari memulai hari
Dari ufuk timur ia melepas selimut, untuk mandi di parit nan sempit
Sembari menilik arloji yang bersandar di atas bukit dan gambar diri
Kau berhenti sesaat menghitung-hitung waktu
Ternyata kau bangun sepagi itu
Belum terdengar kokok pejantan dari kandang belakang rumah
Dan genta bedug subuh menyusul dibunyikan
Tak usah bingung, lebih baik bangun pagi daripada selama ini
Barangkali kau mau mengambil air wudlu dari pancuran
Dan sembahyang subuh sebelum mengirim doa
Piring nasi dan sendok-sendok kecil pun telah menanti untuk kau mandi
Lihatlah hamparan daun-daun kering yang berguguran jua menanti untuk kau goyahkan sapu-sapu lidi
Menikmati udara yang sejuk ini, lumayan untuk menggganjal pelangi
Sementara kau masih tertegun memandang belantara sawah nan hijau
Bukankah kau bangun sepagi ini untuk membantu orang tuamu
Mencetak batu bata, merajang sayur di dapur, atau mencuci baju-baju lusuh
Segeralah bergegas menuju pesta kerja
Sebelum waktu menutup pintu, sebelum matahari setinggi bahu
Bangun pagi, besok lagi dan lain kali.
Saat mentari memulai hari
Dari ufuk timur ia melepas selimut, untuk mandi di parit nan sempit
Sembari menilik arloji yang bersandar di atas bukit dan gambar diri
Kau berhenti sesaat menghitung-hitung waktu
Ternyata kau bangun sepagi itu
Belum terdengar kokok pejantan dari kandang belakang rumah
Dan genta bedug subuh menyusul dibunyikan
Tak usah bingung, lebih baik bangun pagi daripada selama ini
Barangkali kau mau mengambil air wudlu dari pancuran
Dan sembahyang subuh sebelum mengirim doa
Piring nasi dan sendok-sendok kecil pun telah menanti untuk kau mandi
Lihatlah hamparan daun-daun kering yang berguguran jua menanti untuk kau goyahkan sapu-sapu lidi
Menikmati udara yang sejuk ini, lumayan untuk menggganjal pelangi
Sementara kau masih tertegun memandang belantara sawah nan hijau
Bukankah kau bangun sepagi ini untuk membantu orang tuamu
Mencetak batu bata, merajang sayur di dapur, atau mencuci baju-baju lusuh
Segeralah bergegas menuju pesta kerja
Sebelum waktu menutup pintu, sebelum matahari setinggi bahu
Bangun pagi, besok lagi dan lain kali.
Thursday, May 5, 2011
¿¿¿MENGAPA LANGIT BERWARNA BIRU¿¿¿ |Angkasa Yoga Inspira
Tahukah kau, mengapa langit berwarna biru?
Aku pun tak tahu, hanya sedikit saja kutahu
Langit berwarna biru, sebab ia iri pada samudera
Yang juga berwarna biru
Dari ketinggian ia terus memandang
Ada juga yang berkata, langit kian berpendar
Jauh dari teropong bintang yang menjadi pengamat angsa-angsa bisa terbang
Menyusur belantara dan belum juga berbalas
***
Apakah semburat yang memecah di langit
Kan tetap menyatu pada bayang-bayang semu
Yang dulu pernah terurai di sebuah buku lawas
Di sana jelas terkemas
Oleh bias tangis yang mereda
Di tengah perebutan podium sengsara
***
Sementara di belahan bumi utara
Kudapati jeritan bayi-bayi penguin
Erangan makin keras
Ke dengar menyesali akan hidupnya
Bahkan terdengar dari puncak kemajuan
***
Mengapa langit berwarna biru?
Tidak hitam, putih, atau warna magis
Terbias bayu utara kembali ke jurang atlantis
Sempat ku menatap, hingga mata ini mengeluarkan tangis
Padahal langit berwarna biru
Tapi, biru adalah warna yang pantas
Untuk menaungi dunia yang makin panas
Saking panasnya, artis-artis ikut panas
Dalam kamar diskotik setiap Kamis dan Jumat
***
Jangan biarkan ia luntur karena dosa
Yang ia pungut sepanjang jalan menuju kota
Gubris akan tipis baju yang ia kena
Ulah dari asap-asap mengendara
Sepanjang lintas horison di dalam bola
***
Adakah seorang yang tahu?
Mengapa langit berwarna biru?
Dan berganti merah di kala senja
Tampaknya, ia tak kuat menahan kantuk
Dari jejal bola-bola surya
Kapan ini berakhir?
Mungkin kapan-kapan
Kata seorang penyair yang mahir
Dalam diksi rona pelangi, untuk kata yang ia iris, dari bungkus sebuah puisi
***
Hari terakhir, langit makin membiru
Sepasang mata mulai tertuju
Pada tenggak seribu arak, yang ia minum dengan elak
Kini wajahnya merah merona, bukan biru
Karena ajal yang tak bisa diganjal
Dengan setitik rona biru
Aku pun tak tahu, hanya sedikit saja kutahu
Langit berwarna biru, sebab ia iri pada samudera
Yang juga berwarna biru
Dari ketinggian ia terus memandang
Ada juga yang berkata, langit kian berpendar
Jauh dari teropong bintang yang menjadi pengamat angsa-angsa bisa terbang
Menyusur belantara dan belum juga berbalas
***
Apakah semburat yang memecah di langit
Kan tetap menyatu pada bayang-bayang semu
Yang dulu pernah terurai di sebuah buku lawas
Di sana jelas terkemas
Oleh bias tangis yang mereda
Di tengah perebutan podium sengsara
***
Sementara di belahan bumi utara
Kudapati jeritan bayi-bayi penguin
Erangan makin keras
Ke dengar menyesali akan hidupnya
Bahkan terdengar dari puncak kemajuan
***
Mengapa langit berwarna biru?
Tidak hitam, putih, atau warna magis
Terbias bayu utara kembali ke jurang atlantis
Sempat ku menatap, hingga mata ini mengeluarkan tangis
Padahal langit berwarna biru
Tapi, biru adalah warna yang pantas
Untuk menaungi dunia yang makin panas
Saking panasnya, artis-artis ikut panas
Dalam kamar diskotik setiap Kamis dan Jumat
***
Jangan biarkan ia luntur karena dosa
Yang ia pungut sepanjang jalan menuju kota
Gubris akan tipis baju yang ia kena
Ulah dari asap-asap mengendara
Sepanjang lintas horison di dalam bola
***
Adakah seorang yang tahu?
Mengapa langit berwarna biru?
Dan berganti merah di kala senja
Tampaknya, ia tak kuat menahan kantuk
Dari jejal bola-bola surya
Kapan ini berakhir?
Mungkin kapan-kapan
Kata seorang penyair yang mahir
Dalam diksi rona pelangi, untuk kata yang ia iris, dari bungkus sebuah puisi
***
Hari terakhir, langit makin membiru
Sepasang mata mulai tertuju
Pada tenggak seribu arak, yang ia minum dengan elak
Kini wajahnya merah merona, bukan biru
Karena ajal yang tak bisa diganjal
Dengan setitik rona biru
Wednesday, April 20, 2011
§+MENEMBUS LANGIT+§ [CERPEN]
>>>MENEMBUS LANGIT<<<
'Angkasa YoGa Inspira'
Diriku ini hanyalah orang biasa, biasa menanggung beban berat yang sejak awal kujalani hidup ini. Hidup ini hanyalah realitas yang saling terhubung, satu mati lainnya akan mati, satu hidup lainnya akan hidup. Begitulah celoteh angin malam yang berselimut berusaha meyakinkan diriku. Bukan omong kosong, dengarlah detak jantungku yang tak menyembunyikan kebohongan, satu impian masih ku cari jati diri. Impian itu harus terwujud, demi kau dan untuk semuanya aku akan menembus langit dengan luas memandang...
Sosok rembulan yang melengkung di sudut langit, menerka tajam kesunyian. Mendungka semua alam, menyisir kebatinan. Sebuah simphoni yang menertih detik-detik bintang mendaur keheningan. Sepatah jui kata sura yang tak terbayang sebagai angan-angan. Di sana, di sebuah rumah kecil yang beratapkan daun rumbia, tembok menjerit-jerit mau ambruk. Semua terlihat sederhana, dari mewahnya atap rumbia hingga lantai tanah yang beralas sebuah karpet tua. Jauh dari sebuah perkotaan, terpencil di daerah terisolir. Suasana masih kelam kelabu, bentang mori putih yang menutup tubuh abahku jelas terpampang pedih menyisihkan duka sukma terbenggala. Nasib diriku yang harus meneruskan hidup bersama Emak. Tetangga berdo'a untuk abah, sementara aku dan Emak masih menangis tersedu mengenang kepergian abah. Hujan seakan menandakan tangis alam sejagad yang turut berduka cita. Akhir proses pemakaman, kami harus merelakan abah untuk pergi selama-lamanya. Selamat tinggal, abah. . .
Di pagi buta, menyelinap derai-derai sepoi angin yang membawa tetesan embun dan menyuarakan kokok ayam jantan. Mentari menyingsing ufuk timur, memberikan sinar kehangatan tak terhingga. Sinyal-sinyal rutinitas mulai berkemelut dengan waktu.
''Le...,Yog. Bangun le. Wis awan, ayo ndang sekolah..''. Tiba-tiba saja aku terbangun dari alam bawah sadarku karena suara Emak yang mengagetkan. ''Nggih, Mak.'', balasku.
Aku adalah aku, dan inilah diriku apa adanya. Kenalkan, namaku Prayoga Ismail. Aku hidup dengan segala kesederhanaan. Namun, hal itu tak menghalangiku untuk bermimpi menembus langit. Setinggi apapun, sejauh apapun, aku pasti bisa meraihnya. Mimpi itu adalah meraih medali emas tingkat dunia.
Seusai mandi di sumur belakang rumah, aku bergegas cepat menuju ke sekolah.
''Mak, aku berangkat dulu..'', sembari berpamitan dan mencium tangan Emak aku mulai mengayuh pedal sepeda bututku. Ya mungkin terlihat buruk, sepeda ini adalah peninggalan abah. Oleh karena itu, aku tidak mau menjualnya. Heling keramaian mulai terdengar membising di setiap ruangan. Sesampainya di sekolah, teman-temanku menyambut hangat diriku dengan menyuntikkan senyuman ke arahku. Di ruang kelas yang sudah retak gemeretak atap-atapnya, tembok yang sudah menua dan meja kursi tua, aku bersama teman-temanku menimba ilmu di sana. Walau tak berdaya, keyakinan tetap menata sudut kerisihan terkikis kebersamaan. Enam jam kemudian, bel tanda berakhirnya kegiatan belajar dibunyikan. Segera ku ambil sepedaku dan bergegas untuk pulang. Teringat, aku sudah membuat janji bersama 2 orang sahabatku yaitu Maman dan Jojo. Mereka juga memberikan arti bagi kehidupanku, setiap hari aku selalu belajar dan bermain bersama mereka. Waktu bukanlah penghalangku.
''Mak, Assalamualaikum. Aku pulang...'' Tampaknya tidak ada orang di rumah. ''Wa'alaikumussalam, sudah pulang?'', sahut Emak dari belakang rumah. Hari yang sangat menguras pikiran, pagi hari ulangan bergandengan, sore hari tugas membentuk gunungan. Tidak ada kata sulit, semua pasti akan menjadi mudah. Maman dan Jojo tiba di rumahku. Lantas, kami bertiga melanjutkan belajar kelompok kemarin. Belajar tentang geografi. ''Eh, penyebabnya tsunami itu apa saja ya??'', tanya Jojo. ''Penyebab tsunami antara lain adalah adanya gerakan konvergen yang menyebabkan lempeng benua dan lempeng samudra bertabrakan di dasar laut, lalu adanya aktivitas vulkanik di dasar laut, kemudian jatuhnya meteor ke laut juga bisa.'', jelasku. ''Kalau proses terjadinya tsunami itu gimana??'', tanya Maman. ''Tsunami bisa terjadi karena adanya gerak konvergen yang menyebabkan tumbukan antara lempeng samudra dan lempeng benua di dasar lautan. Kemudian lempeng samudra menunjam di bawah lempeng benua karena massa jenisnya lebih kecil. Nah, dari tunjaman tersebut air laut masuk dan mengisi, di daerah pantai terlihat air laut akan surut. Saat lempeng itu bergerak lagi, maka tekanan yang timbul akan menumpahkan kembali air laut ke daratan dengan energi yang besar. Awalnya hanya terbentuk ombak kecil, namun semakin dekat dengan daratan, ombak itu semakin besar dengan kecepatan yang terus bertambah pula Terjadilah tsunami. Bener nggak, Yog??'', jelas Jojo. ''Wah, tepat sekali. Perfect!'', sahutku. ''Eh, Yog. Kamu bener pengen ikut seleksi olimpiade geosains?'', tanya Jojo. ''He'em, memangnya kenapa?'', balasku. Maman menjawab, ''Kalo begitu, bagaimana kalo kita bertiga ikut saja? Mau, nggak?''. ''Oke juga tuh. Nanti diantara kita yang lolos seleksi, akan kita bimbing dan belajar bersama.'', jelas Maman. “Aku janji, suatu hari aku pasti bisa meraih medali emas tingkat nasional.”, jawabku penuh keyakinan. Listrik belum sepenuhnya sampai di desaku, untunglah aku masih bisa belajar walau hanya dengan bola-bola lampu 5 watt dan ditemani oleh uplik yang berkedip-kedip. Hari sudah beruban, Maman dan Jojo memutuskan untuk pulang.
Sepi menjeli anggokan cicak yang memanjat dinding, malam kini tiba melepas kesumat. Tak gera kemira satu-satunya penerjang dunia. Sebenarnya, aku bukanlah anak tunggal, aku anak yang kedua. Tapi, sekarang kakakku sedang bekerja di Jepang sebagai seorang guru Bahasa Indonesia. Namun, semenjak tsunami dan gempa 8,9 SR yang meluluhlantakkan sebagian Jepang, aku dan Emak tidak tau kabarnya karena tak bisa dihubungi. Apalagi, kami semakin mengkhawatirkan wilayah Jepang yang tercemar radioaktif. Terakhir kali, kakak mengirimkan sepeda motor ini untuk Emak. Semoga kakak selamat di sana, aku rindu kakak. Aku berusaha memejamkan mata, terbias citra semu bayang-bayang kakak di pikiranku. Detik ke lima puluh sembilan jam sembilan, sorot cahaya bulan menyeru alam untuk segera tidur. Aku pun tertidur.
Di sekolah, pagi hari.
''Yeeeeeiyyy...!!'', sorak sorai meriah teman-teman sekelas setelah mendengar pengumuman pulang pagi karena guru akan mengadakan rapat. Semua siswa SMA Gelatik menyebar gerat-gerat sepanjang jalan pulang. Di tengah perjalanan, aku mampir ke sawah. Sawah dengan padi yang mulai menguning, menyiratkan keheningan yang terbaur dengan hembus angin menyejukkan hati. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang mirip sekali dengan abah berdiri di hadapanku. Sepedaku tak punya rem, sepatu yang aku gesekkan ke rodanya agar berhenti. ''Assalamualaikum anakku.''. ''Waalaikumussalam. Anda siapa??''. ''Aku abahmu.''. ''Abah sudah meninggal 3 hari yang lalu. Tapi... Ada apa??''.''Benar, ini adalah arwah abah. Abah hanya ingin mengingatkan di desa Karangima akan ada puting beliung. Segeralah pergi.''.Aku sedikit terkejut bertemu arwah abah. ''Tidak mungkin, abah sudah meninggal. Tapi, apakah itu benar-benar akan terjadi?''. ''Benar, anakku. Sudah, abah mau pergi dulu. Jaga Emakmu, ya. Assalamualaikum''. ''Baik abah. Waalaikumussalam.''. Semenjak bertemu dengan arwah abah, aku merasakan pikiranku semakin kuat dan memiliki keyakinan hidup, satu hal yang luar biasa. ''Mak, Emak. Kita harus cepat pergi dari sini, ada bahaya Mak.''. ''Bahaya apa, Le? Kamu ini aneh-aneh saja.''.'' Kata abah, sebentar lagi akan ada puting beliung menyerang desa ini, Mak.''. ''Husss!! Abah sudah meninggal. Sadar,Le..''. ''Iya,Mak. Tadi waktu aku di sawah ketemu arwah abah. Katanya begitu tadi. Ayo, Mak kita harus cepat pergi.''. ''Apa benar itu??Berarti itu peringatan dari Allah lewat abah kamu.'' Aku sempatkan memperingatkan beberapa orang di masjid yang sedang pengajian. Tapi, mereka tidak percaya padaku. . .
Tiba-tiba saja bumi bergeming, semi lati menjungga perisi alam. Turbulensi kencang meniup segalanya, menghempas dalam pusarannya. Seret putih berkilat menggelegar suara petir. Langit kelam, mendung memendam. Keji memang, alam tengah garang. Dalam sekejap, semua telah sirna. Beruntung, aku dan Emak sudah pergi sebelum beliung mengusik desa. Satu jam kemudian, kami kembali dengan cemas. Lihatlah, di sekeliling badan jalan yang berbatu rumah-rumah ambruk, barang-barang berpincangan, pohon-pohon tumbang menindih pemukiman. Bersyukur, di balik serbuan lengga angin beliung, rumahku masih utuh berdiri tegaknya bersama sebuah masjid kecil yang berada di sisi kirinya. 10 orang tewas seketika, puluhan warga luka-luka, semua hancur tiada tara. Berbondong-bondong warga yang selamat bahu-membahu memperbaiki segalanya. Beberapa orang selamat yang sempat kuperingatkan datang menemuiku dan mereka menyesali ketidakpercayaannya saat itu. Sayang sekali, Maman dan Jojo adalah 2 dari 10 korban tewas dari keganasan beliung. Kini aku hidup sendiri, tanpa sahabat dan teman lagi. Tak ada teman belajar, tak ada teman bermain. Menduka selendang merah terbesut penyesalan geru termusi. Hilang, musnah, terbilah seputih ani. Aku terus teringat saat-saat aku masih bersama Maman dan Jojo, terkadang mereka menjadi bunga dalam tidurku. Semenjak itu, aku tak tau apa yang harus kulakukan sendiri. Aku mulai menulis apa yang sedang ku pikirkan. Itulah inspirasi, terlahir serangkaian kata bersastra. Aku semakin tertarik di bidang sastra, aku ingin menjadi seorang penulis yang terkenal karya-karyanya. Kesibukan baru bagi diriku, di setiap waktu luang aku sempatkan menulis sebuah puisi ataupun sebuah cerita pendek. Hidup sebatang kara, agaknya tak menjadi penghalang diriku untuk terus bermimpi untuk menembus langit. Sekian bilion detik peluhku menetes temaram, tubuh ringkihku benerak kasang pendam sukma bahtera hidup.
Tak lama dari kejadian yang merenggut tak sedikit nyawa, tiba-tiba saja langit semakin kelam dalam temaram, gelap tiada secercah cahaya pun yang mampu menembus eratnya rantai awan-awan mendung yang bergelantung. Gempa sebesar 8,1 SR mengguncang dari Pantai Timur Sumatra. Semua panik, bangunan-bangunan roboh, pohon-pohon tumbang, petir menyambar-nyambar, gedung-gedung yang menjulang ambruk karena tak kuat menyangga. Semburat kuning yang kian berpendar tenggak di balik gunung, sejenak gempa telah menghancurkan segalanya termasuk rumah kami satu-satunya. Bersyukur aku dan Emak masih dilindungi Allah, walaupun tiada lagi barang yang kami punya. Di setiap sudut mata memandang, korban-korban berjatuhan, semua hancur berantakan. Beberapa warga yang selamat dengan cepat mengungsi ke posko terdekat. Namun, aku dan Emak semakin kebingungan. '' Iki piye,Le.. Barang-barang rusak kabeh, omahmu ambruk, piye neh, le???'', tangis Emak yang semakin deras mengalirkan air mata dari kerut pipinya. ''Sudah, Mak. Kita harus sabar. Allah masih memberi kita kesempatan untuk lebih baik. Bagaimana kalau kita kembali ke Pati saja, Mak???'', sahutku memberi saran Emak.
Benar-benar lenyap, Mozaik yang kini pecah sebelah, tak mampu lagi menghadirkan sebuli senyum yang menyisakan duka remba. Dengan tergopoh, aku dan Emak membawa helai pakaian dan bekal uang yang tersisa untuk kembali ke Pati.
Perjalanan ku tempuh bersama Emak dengan kapal dan bus antarprovinsi. Aku duduk di samping bilik jendela, sementara Emak di sisi kiriku. Cemas masih menghantui kala mentari tepat memancang di tengah jalan, sementara fatamorgana pun terus mendahului jalannya bus antarprovinsi yang kami tumpangi. Aku tertidur selama perjalanan itu. 10 jam berlalu dengan cepatnya.
''Ding..diing...ding..cesssss...'', suara rem yang begitu mengejutkan. ''Mak, Emak, Emak, jangan pergi, Emaaaak.......''. ''Hus, hus, bangun, Le. Jangan ngigau, kita sudah sampai.'', bisik Emak di samping telinga kiriku. Aku pun terkejut dan lekas bangun dari mimpi dan tidurku. Akhirnya, kami telah sampai di halte Puri, Pati. Waktu telah menunjukkan pukul 16.00, Emak mengajakku untuk shalat Ashar terlebih dahulu sebelum pulang. Usai shalat Ashar, kami menanti bus jurusan Pati-Jepara. Lima menit kemudian, akhirnya ada sebuah bus bertuliskan papan Pati-Jepara yang terpampang di atasnya. Di sana, ada seorang kernet yang meneriakkan ''Pati-Jepara, Jepara Pak, Jepara Buk''. Sesaat setelah masuk, aku dan Emak tidak mendapat tempat duduk lagi, terpaksa kami harus berdiri sambil memandangi sepanjang jalan pulang.
''Kiri, kiri, Pak..'', sahut Emak kepada kernet bus tersebut. Sampai di tepi jalan raya Desa Mojosemi, aku dan Emak harus berjalan sejauh 3 kilometer untuk sampai ke rumah kami di Desa Karangwage. Kaki ini serasa mau patah menyusuri jalan-jalan berbatu sejauh itu.
Akhirnya, terlihat sudah rumah nenek yang tak jauh berbeda dari dulu saat aku masih tinggal di sana. Tetangga-tetanggaku agak pangling dengan wajahku yang mungkin sudah berubah. Namun, mereka masih mengenali Emak dan menyapa kami. Begitulah, suasana yang asri, tenang, ramah, dan rukun, inilah yang akan menghiasi hari-hari di tempat tinggalku sekarang. Lingkungan baru akan menjadi tantangan baru untuk terus bermimpi menembus langit. Tiba di depan pintu, kami disambut hangat oleh kakek, nenek, Pakdhe, dan Budhe serta sepupuku. ''Assalamualaikum, Mbah. .'' ''Waalaikumussalam. Lho Yogo iki mau. Kok wis suwe ora bali-bali. Ana apa kok bali?''. Kakekku dan tetanggaku dulu biasa memanggilku dengan nama Yogo. ''Nggih, Mbah ngapuntenipun. Wingi teng Sumatra wonten bencana, barang-barang ajur sedanten.. Mula, kula ngajak Emak wangsul mriki mawon.'' ''Ya, Allah, le..le.. Alhamdulillah, kowe karo Emakmu diparingi selamet kalihan Gusti.'' ''Nggih, Mbah.'' Suasana haru sontak menyelimuti tangis-tangis yang begitu tersedu. Namun, seorang pejuang hidup haruslah tegar menghadapi segala cobaan. Karena dibalik cobaan, pasti ada energi dan hikmah sebagai motivasi. Untuk selanjutnya, pasti menjadi lebih baik. Hari sudah petang, kami semua menunaikan shalat maghrib berjama'ah dan kakeklah sebagai imamnya. Seusai shalat maghrib, kami makan bersama dengan lauk seadanya. ''Makan itu ya seadanya saja, nggak usah aneh-aneh. Tempe sama sambel aja bisa membuat nasi di wakul itu habis kok. Besok kalo jadi Presiden kamu bebas mau makan apa aja boleh.'', suara Pakdhe membelah kesunyian. '' Nggih...'', balasku dan sepupuku secara bersamaan. Setelah itu, kami menjalankan shalat Isya dan mengaji. ''Yog, besok kamu sekolah nggak?'', tanya sepupuku yang bernama Sugi. ''Oh, ya. Tapi, aku mau sekolah di mana ya?'', jawabku. ''Kamu kan seumuran dengan aku, bagaimana kalo kamu ikut sekolah bareng aku? Mau, nggak?'', lanjut Sugi. Aku menjawab, ''Ya, ya, mau, mau. Berarti kita sekelas dong.. Siip. Ngomong-ngomong, nama sekolahnya apa ?''. ''Ada deh, besok juga tau sendiri. Ya, udah. Besok kita berangkat bareng. Aku tidur duluan ya.'' Derap suara jangkrik yang meramaikan kesunyian malam adalah lantunan harmoni alam yang mengingatkan masa kecilku. Di balik bulan yang melengkung, terbias secercah angan yang terbias cendra mengisahkan indahnya malam itu. Detik-detik terakhir menjelang petualangan mimpi. Aku pun tertidur di atas sebuah kasur tua yang beralaskan debu tipis.
Kokok ayam jantan telah berkumandang, ufuk timur telah memancarkan seberkas cahaya keabadian. Kali ini aku terbangun sendiri, tanpa dibangunkan oleh Emak. Aku bergegas mandi dan shalat Subuh. Setelah itu, aku dan Sugi mampir sebentar ke sawah kakek untuk mengantar rantang yang berisi makanan sarapan pagi untuk kakek. Humm, udara segar nan menyerbit baris awal jajaran padi-padi di sawah yang masih hijau. Tampak beberapa kawanan capung yang terbang menikmati suasana yang sangat nyaman. Perjalanan menuju sekolah baru tampaknya hampir sama dengan yang lalu. Jalan-jalan beraspal masih jarang kutemui, yang ada hanya jalan raya saja. Tak apa, itu sudah biasa bagiku dan sepupuku. ''Stop, stop. Ini nih, sekolahnya.'', kata Sugi. Tepat di depan gerbang terpampang di sebuah papan besar tertulis sebuah nama 'SMAN 1 Bakti'. Saat aku mulai memasuki ruang kelas X-1, kakiku bergetar, mulutku diam terpaku menatap gedung tua itu. Tampaknya, bangunan ini masih kokoh. Sederhana sekali, satu meja untuk 2 anak dan lantainya pun masih memakai ubin. Aku meletakkan tasku dan duduk di sudut kiri belakang di samping Sugi. Tepat pukul 07.00, lonceng tanda masuk dibunyikan. Tiba-tiba, seorang guru datang. Ternyata, guru itu bernama Bu Tutik, beliau ramah dan baik. Lalu aku disuruh memperkenalkan diri kepada teman-teman. Kemudian, pelajaran dilanjutkan. Akhir pelajaran, Bu Tutik memberitahukan bahwa seminggu lagi akan ada seleksi olimpiade. Hal ini mengingatkanku pada dua orang temanku dulu, Maman dan Jojo. Aku sempat berjanji pada mereka untuk mengikuti seleksi olimpiade Geosains. Aku pun mendaftarkan namaku untuk mengikuti seleksi olimpiade Geosains, Sugi pun tertarik dan mendaftar sama denganku.
Baru dua kali melewati jalan menuju sekolah dan pulang sekolah, aku langsung bisa mengingatnya. Sepulang sekolah, aku dan Sugi harus mengirimkan rantang makan siang dan membantu kakek di sawahnya. Setelah ganti baju, kami berdua bergegas ke sawah. Di sawah, kami harus mengusir burung-burung pemakan padi yang terus berdatangan silih berganti dengan menggoyang-goyangkan tali rafia yang diikatkan dengan kaleng, ada juga yang diikatkan di orang-orangan sawah. Di atas sebuah gubuk yang reot, aku sempatkan untuk belajar Geosains dan mengerjakan PR bersama dengan Sugi. Nyaman sekali.... Sedikit waktu kami menundukkan kepala untuk membaca buku, burung-burung itu datang kembali. Oleh karena itu, kami harus bisa 'multitasking'. Tak terasa, matahari hampir terbenam, itu tandanya kami harus pulang. Aku senang saat menyusuri jalan sawah atau galeng untuk beradu cepat dengan Sugi. Tapi, aku mengalah saja karena ingin berjalan bersama kakek saja. Hari-hari yang kulalui senada dengan sepoi bayu yang membiaskan dedaunan kering.
Hari ke-7
Hari ini aku dan Sugi agak berdebar-debar karena sepulang sekolah ada seleksi olimpiade tingkat sekolah. Saat-saat itu kini telah tiba. Pengawas memasuki ruangan, soal telah dibagikan, dan mulailah mengerjakan.
Satu per satu kukerjakan soal-soal yang masih asing dalam benakku. Entahlah dengan Sugi, apakah dia bisa atau tidak. Usai seleksi, aku dan Sugi tawakkal dan berserah diri kepada Allah. Semoga saja kami berdua bisa lolos seleksi ini. Hasilnya akan diumumkan besok pagi.
Seperti biasa, aku dan Sugi belajar di sawah dan membantu kakek mengusir burung-burung sawah. ''Piye mau, tesmu iso nggarap??'', tanya kakek. ''Saged, tapi nggih wonten ingkang mboten saged, Mbah.'', jawab Sugi sambil menggoyang-goyangkan tali orang-orangan sawah. ''Nggih, Mbah. Soalipun wonten ingkang mboten saged'', sahutku. Kakek menjawab, ''Wis ora apa-apa. Sing penting wis usaha, tak dongakke sesuk kowe cah loro lolos kabeh. Kowe mesti dadi juara. Amin''. ''Amin..'', jawabku. ''Sugi??? Aja ngalamun, lho.'', lanjut kakek. ''E,e, nggih Mbah, Amin.'',balas Sugi terkejut. ''Yo wis, ayo padha mulih dhisik. Srengengene wis ambles.'', kata kakek. Kami semua mengemasi barang-barang dan segera pulang. Esok adalah penentuan, setelah perenungan dan perjuangan, kini tinggal harapan. Petang membayang, malam yang menggandeng segala asaku terbang jauh bersama gelembung impian, terhempas dan bergantung pada ranting yang menjulang.
Esok harinya, sepulang sekolah. Aku dan Sugi dengan cepat berlari menuju ke papan pengumuman, mencari nama kami berdua. ''Alhamdulillah, aku lolos!'', kataku. ''Yog, namaku tidak ada disitu...'', tebas Sugi penuh kecewa. ''Masak sih? Coba lihat lagi?'', sahutku. ''Nggak ada. Selamat ya kamu lolos.'', kata Sugi. ''Ya sudahlah, tahun depan kamu pasti lolos. Ah, ini lihat! Ini kan nama kamu?'', balasku. ''Yeeeee.. Aku lolos! Aku lolos! Kok yang diambil cuma 3 orang ya?'', tanya Sugi. Aku menjawab, ''Iya. Hanya 3 saja. Eh, yang peringkat satu itu cewek ya?''. ''He'em, nih namanya Centrya.'', jawab Sugi. Tiba-tiba ada seorang anak yang memotong pembicaraan kami, ''Oh, jadi kamu yang namanya Yoga dan Sugi. Lihat aja, di perlombaan sesungguhnya aku sudah pasti menang dari kalian!''. ''Oke, nggak masalah.'', sahutku. Lalu, Bu Tutik datang dan mengatakan bahwa seminggu lagi ada OSK dan guru pembimbingnya adalah beliau sendiri. Hati kami serasa berbunga-bunga saat perjalanan pulang. Kakek pun ikut bangga mendenini. Namun, pertandingan yang sesungguhnya akan segera dimulai.
Bimbingan akan terus dilakukan sejak 7 hari menjelang olimpiade. Pagi, siang, sore, aku dan Sugi selalu belajar Geosains bersama Bu Tutik. Saat sore hari, aku dan Sugi harus belajar di rumah Bu Tutik yang berjarak kurang lebih 7 km dari rumahku. Terkadang, aku dan Sugi harus pulang larut malam hingga pukul 19.00 malam. Sungguh menguras tenaga. Tapi, selama aku dibimbing oleh Bu Tutik, Centrya tak pernah datang. Entahlah, mungkin ia lebih memilih belajar bersama guru lesnya.
Sekian lama kami berdua belajar bersama Bu Tutik, hari pertandingan itu tiba juga. Hari ini, olimpiade dilaksanakan di Pati. Aku dan Sugi berangkat bersama Bu Tutik dengan bus jurusan Pati-Jepara, sementara Centrya akan menyusul diantar mobil pribadinya.
Setibanya di tempat pelaksanaan Olimpiade Geosains, ternyata Centrya sudah sampai terlebih dahulu. Kemudian, kami semua mendaftarkan diri sebagai peserta. Tepat pukul 08.00, kami mulai mengerjakan soal-soal olimpiade. Dua jam kemudian, semua peserta termasuk aku, Sugi, dan Centrya telah selesai. Hari ini juga pemenang olimpiade diumumkan. Menanti kurang lebih satu setengah jam, akhirnya ada pengumuman. Jantungku serasa berdegup kencang, juara dua sudah diumumkan, juara tiga sudah diumumkan, kami sempat putus asa karena di benak kami mana mungkin juara satu. Akhirnya, ''Juara satu diraih oleh...... Prayoga dari SMAN 1 Bakti.''. Haaa, aku tidak menyangka bisa juara satu. Bahkan, Centrya yang awalnya juara satu di sekolah, disini tidak mendapat juara. Aku bersyukur sekali kepada Allah, Bu Tutik dan Sugi memberiku selamat.
Begitulah perjuanganku di OSK, sampai OSP, aku dibina lebih keras lagi oleh Bu Tutik seorang diri. Begitu seterusnya sampai aku mendapat medali emas kemenangan di tingkat nasional. Semua itu adalah berkat perjuangan Bu Tutik yang bersedia membimbingku siang dan malam. Kapanpun dan di manapun. Terima kasih Bu Tutik, kau adalah guru yang paling mulia dan berjasa atas kemenanganku. Sesungguhnya, kemenangan ini aku persembahkan untuk Maman dan Jojo dan untuk menepati janjiku kepada mereka.
Itulah, akhirnya aku berhasil terbang bersama gelembung impian untuk menembus langit.
''..Seseorang akan melakukan apapun yang ia bisa, untuk meraih mimpinya dan untuk menembus langit..''
'Angkasa YoGa Inspira'
Diriku ini hanyalah orang biasa, biasa menanggung beban berat yang sejak awal kujalani hidup ini. Hidup ini hanyalah realitas yang saling terhubung, satu mati lainnya akan mati, satu hidup lainnya akan hidup. Begitulah celoteh angin malam yang berselimut berusaha meyakinkan diriku. Bukan omong kosong, dengarlah detak jantungku yang tak menyembunyikan kebohongan, satu impian masih ku cari jati diri. Impian itu harus terwujud, demi kau dan untuk semuanya aku akan menembus langit dengan luas memandang...
Sosok rembulan yang melengkung di sudut langit, menerka tajam kesunyian. Mendungka semua alam, menyisir kebatinan. Sebuah simphoni yang menertih detik-detik bintang mendaur keheningan. Sepatah jui kata sura yang tak terbayang sebagai angan-angan. Di sana, di sebuah rumah kecil yang beratapkan daun rumbia, tembok menjerit-jerit mau ambruk. Semua terlihat sederhana, dari mewahnya atap rumbia hingga lantai tanah yang beralas sebuah karpet tua. Jauh dari sebuah perkotaan, terpencil di daerah terisolir. Suasana masih kelam kelabu, bentang mori putih yang menutup tubuh abahku jelas terpampang pedih menyisihkan duka sukma terbenggala. Nasib diriku yang harus meneruskan hidup bersama Emak. Tetangga berdo'a untuk abah, sementara aku dan Emak masih menangis tersedu mengenang kepergian abah. Hujan seakan menandakan tangis alam sejagad yang turut berduka cita. Akhir proses pemakaman, kami harus merelakan abah untuk pergi selama-lamanya. Selamat tinggal, abah. . .
Di pagi buta, menyelinap derai-derai sepoi angin yang membawa tetesan embun dan menyuarakan kokok ayam jantan. Mentari menyingsing ufuk timur, memberikan sinar kehangatan tak terhingga. Sinyal-sinyal rutinitas mulai berkemelut dengan waktu.
''Le...,Yog. Bangun le. Wis awan, ayo ndang sekolah..''. Tiba-tiba saja aku terbangun dari alam bawah sadarku karena suara Emak yang mengagetkan. ''Nggih, Mak.'', balasku.
Aku adalah aku, dan inilah diriku apa adanya. Kenalkan, namaku Prayoga Ismail. Aku hidup dengan segala kesederhanaan. Namun, hal itu tak menghalangiku untuk bermimpi menembus langit. Setinggi apapun, sejauh apapun, aku pasti bisa meraihnya. Mimpi itu adalah meraih medali emas tingkat dunia.
Seusai mandi di sumur belakang rumah, aku bergegas cepat menuju ke sekolah.
''Mak, aku berangkat dulu..'', sembari berpamitan dan mencium tangan Emak aku mulai mengayuh pedal sepeda bututku. Ya mungkin terlihat buruk, sepeda ini adalah peninggalan abah. Oleh karena itu, aku tidak mau menjualnya. Heling keramaian mulai terdengar membising di setiap ruangan. Sesampainya di sekolah, teman-temanku menyambut hangat diriku dengan menyuntikkan senyuman ke arahku. Di ruang kelas yang sudah retak gemeretak atap-atapnya, tembok yang sudah menua dan meja kursi tua, aku bersama teman-temanku menimba ilmu di sana. Walau tak berdaya, keyakinan tetap menata sudut kerisihan terkikis kebersamaan. Enam jam kemudian, bel tanda berakhirnya kegiatan belajar dibunyikan. Segera ku ambil sepedaku dan bergegas untuk pulang. Teringat, aku sudah membuat janji bersama 2 orang sahabatku yaitu Maman dan Jojo. Mereka juga memberikan arti bagi kehidupanku, setiap hari aku selalu belajar dan bermain bersama mereka. Waktu bukanlah penghalangku.
''Mak, Assalamualaikum. Aku pulang...'' Tampaknya tidak ada orang di rumah. ''Wa'alaikumussalam, sudah pulang?'', sahut Emak dari belakang rumah. Hari yang sangat menguras pikiran, pagi hari ulangan bergandengan, sore hari tugas membentuk gunungan. Tidak ada kata sulit, semua pasti akan menjadi mudah. Maman dan Jojo tiba di rumahku. Lantas, kami bertiga melanjutkan belajar kelompok kemarin. Belajar tentang geografi. ''Eh, penyebabnya tsunami itu apa saja ya??'', tanya Jojo. ''Penyebab tsunami antara lain adalah adanya gerakan konvergen yang menyebabkan lempeng benua dan lempeng samudra bertabrakan di dasar laut, lalu adanya aktivitas vulkanik di dasar laut, kemudian jatuhnya meteor ke laut juga bisa.'', jelasku. ''Kalau proses terjadinya tsunami itu gimana??'', tanya Maman. ''Tsunami bisa terjadi karena adanya gerak konvergen yang menyebabkan tumbukan antara lempeng samudra dan lempeng benua di dasar lautan. Kemudian lempeng samudra menunjam di bawah lempeng benua karena massa jenisnya lebih kecil. Nah, dari tunjaman tersebut air laut masuk dan mengisi, di daerah pantai terlihat air laut akan surut. Saat lempeng itu bergerak lagi, maka tekanan yang timbul akan menumpahkan kembali air laut ke daratan dengan energi yang besar. Awalnya hanya terbentuk ombak kecil, namun semakin dekat dengan daratan, ombak itu semakin besar dengan kecepatan yang terus bertambah pula Terjadilah tsunami. Bener nggak, Yog??'', jelas Jojo. ''Wah, tepat sekali. Perfect!'', sahutku. ''Eh, Yog. Kamu bener pengen ikut seleksi olimpiade geosains?'', tanya Jojo. ''He'em, memangnya kenapa?'', balasku. Maman menjawab, ''Kalo begitu, bagaimana kalo kita bertiga ikut saja? Mau, nggak?''. ''Oke juga tuh. Nanti diantara kita yang lolos seleksi, akan kita bimbing dan belajar bersama.'', jelas Maman. “Aku janji, suatu hari aku pasti bisa meraih medali emas tingkat nasional.”, jawabku penuh keyakinan. Listrik belum sepenuhnya sampai di desaku, untunglah aku masih bisa belajar walau hanya dengan bola-bola lampu 5 watt dan ditemani oleh uplik yang berkedip-kedip. Hari sudah beruban, Maman dan Jojo memutuskan untuk pulang.
Sepi menjeli anggokan cicak yang memanjat dinding, malam kini tiba melepas kesumat. Tak gera kemira satu-satunya penerjang dunia. Sebenarnya, aku bukanlah anak tunggal, aku anak yang kedua. Tapi, sekarang kakakku sedang bekerja di Jepang sebagai seorang guru Bahasa Indonesia. Namun, semenjak tsunami dan gempa 8,9 SR yang meluluhlantakkan sebagian Jepang, aku dan Emak tidak tau kabarnya karena tak bisa dihubungi. Apalagi, kami semakin mengkhawatirkan wilayah Jepang yang tercemar radioaktif. Terakhir kali, kakak mengirimkan sepeda motor ini untuk Emak. Semoga kakak selamat di sana, aku rindu kakak. Aku berusaha memejamkan mata, terbias citra semu bayang-bayang kakak di pikiranku. Detik ke lima puluh sembilan jam sembilan, sorot cahaya bulan menyeru alam untuk segera tidur. Aku pun tertidur.
Di sekolah, pagi hari.
''Yeeeeeiyyy...!!'', sorak sorai meriah teman-teman sekelas setelah mendengar pengumuman pulang pagi karena guru akan mengadakan rapat. Semua siswa SMA Gelatik menyebar gerat-gerat sepanjang jalan pulang. Di tengah perjalanan, aku mampir ke sawah. Sawah dengan padi yang mulai menguning, menyiratkan keheningan yang terbaur dengan hembus angin menyejukkan hati. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang mirip sekali dengan abah berdiri di hadapanku. Sepedaku tak punya rem, sepatu yang aku gesekkan ke rodanya agar berhenti. ''Assalamualaikum anakku.''. ''Waalaikumussalam. Anda siapa??''. ''Aku abahmu.''. ''Abah sudah meninggal 3 hari yang lalu. Tapi... Ada apa??''.''Benar, ini adalah arwah abah. Abah hanya ingin mengingatkan di desa Karangima akan ada puting beliung. Segeralah pergi.''.Aku sedikit terkejut bertemu arwah abah. ''Tidak mungkin, abah sudah meninggal. Tapi, apakah itu benar-benar akan terjadi?''. ''Benar, anakku. Sudah, abah mau pergi dulu. Jaga Emakmu, ya. Assalamualaikum''. ''Baik abah. Waalaikumussalam.''. Semenjak bertemu dengan arwah abah, aku merasakan pikiranku semakin kuat dan memiliki keyakinan hidup, satu hal yang luar biasa. ''Mak, Emak. Kita harus cepat pergi dari sini, ada bahaya Mak.''. ''Bahaya apa, Le? Kamu ini aneh-aneh saja.''.'' Kata abah, sebentar lagi akan ada puting beliung menyerang desa ini, Mak.''. ''Husss!! Abah sudah meninggal. Sadar,Le..''. ''Iya,Mak. Tadi waktu aku di sawah ketemu arwah abah. Katanya begitu tadi. Ayo, Mak kita harus cepat pergi.''. ''Apa benar itu??Berarti itu peringatan dari Allah lewat abah kamu.'' Aku sempatkan memperingatkan beberapa orang di masjid yang sedang pengajian. Tapi, mereka tidak percaya padaku. . .
Tiba-tiba saja bumi bergeming, semi lati menjungga perisi alam. Turbulensi kencang meniup segalanya, menghempas dalam pusarannya. Seret putih berkilat menggelegar suara petir. Langit kelam, mendung memendam. Keji memang, alam tengah garang. Dalam sekejap, semua telah sirna. Beruntung, aku dan Emak sudah pergi sebelum beliung mengusik desa. Satu jam kemudian, kami kembali dengan cemas. Lihatlah, di sekeliling badan jalan yang berbatu rumah-rumah ambruk, barang-barang berpincangan, pohon-pohon tumbang menindih pemukiman. Bersyukur, di balik serbuan lengga angin beliung, rumahku masih utuh berdiri tegaknya bersama sebuah masjid kecil yang berada di sisi kirinya. 10 orang tewas seketika, puluhan warga luka-luka, semua hancur tiada tara. Berbondong-bondong warga yang selamat bahu-membahu memperbaiki segalanya. Beberapa orang selamat yang sempat kuperingatkan datang menemuiku dan mereka menyesali ketidakpercayaannya saat itu. Sayang sekali, Maman dan Jojo adalah 2 dari 10 korban tewas dari keganasan beliung. Kini aku hidup sendiri, tanpa sahabat dan teman lagi. Tak ada teman belajar, tak ada teman bermain. Menduka selendang merah terbesut penyesalan geru termusi. Hilang, musnah, terbilah seputih ani. Aku terus teringat saat-saat aku masih bersama Maman dan Jojo, terkadang mereka menjadi bunga dalam tidurku. Semenjak itu, aku tak tau apa yang harus kulakukan sendiri. Aku mulai menulis apa yang sedang ku pikirkan. Itulah inspirasi, terlahir serangkaian kata bersastra. Aku semakin tertarik di bidang sastra, aku ingin menjadi seorang penulis yang terkenal karya-karyanya. Kesibukan baru bagi diriku, di setiap waktu luang aku sempatkan menulis sebuah puisi ataupun sebuah cerita pendek. Hidup sebatang kara, agaknya tak menjadi penghalang diriku untuk terus bermimpi untuk menembus langit. Sekian bilion detik peluhku menetes temaram, tubuh ringkihku benerak kasang pendam sukma bahtera hidup.
Tak lama dari kejadian yang merenggut tak sedikit nyawa, tiba-tiba saja langit semakin kelam dalam temaram, gelap tiada secercah cahaya pun yang mampu menembus eratnya rantai awan-awan mendung yang bergelantung. Gempa sebesar 8,1 SR mengguncang dari Pantai Timur Sumatra. Semua panik, bangunan-bangunan roboh, pohon-pohon tumbang, petir menyambar-nyambar, gedung-gedung yang menjulang ambruk karena tak kuat menyangga. Semburat kuning yang kian berpendar tenggak di balik gunung, sejenak gempa telah menghancurkan segalanya termasuk rumah kami satu-satunya. Bersyukur aku dan Emak masih dilindungi Allah, walaupun tiada lagi barang yang kami punya. Di setiap sudut mata memandang, korban-korban berjatuhan, semua hancur berantakan. Beberapa warga yang selamat dengan cepat mengungsi ke posko terdekat. Namun, aku dan Emak semakin kebingungan. '' Iki piye,Le.. Barang-barang rusak kabeh, omahmu ambruk, piye neh, le???'', tangis Emak yang semakin deras mengalirkan air mata dari kerut pipinya. ''Sudah, Mak. Kita harus sabar. Allah masih memberi kita kesempatan untuk lebih baik. Bagaimana kalau kita kembali ke Pati saja, Mak???'', sahutku memberi saran Emak.
Benar-benar lenyap, Mozaik yang kini pecah sebelah, tak mampu lagi menghadirkan sebuli senyum yang menyisakan duka remba. Dengan tergopoh, aku dan Emak membawa helai pakaian dan bekal uang yang tersisa untuk kembali ke Pati.
Perjalanan ku tempuh bersama Emak dengan kapal dan bus antarprovinsi. Aku duduk di samping bilik jendela, sementara Emak di sisi kiriku. Cemas masih menghantui kala mentari tepat memancang di tengah jalan, sementara fatamorgana pun terus mendahului jalannya bus antarprovinsi yang kami tumpangi. Aku tertidur selama perjalanan itu. 10 jam berlalu dengan cepatnya.
''Ding..diing...ding..cesssss...'', suara rem yang begitu mengejutkan. ''Mak, Emak, Emak, jangan pergi, Emaaaak.......''. ''Hus, hus, bangun, Le. Jangan ngigau, kita sudah sampai.'', bisik Emak di samping telinga kiriku. Aku pun terkejut dan lekas bangun dari mimpi dan tidurku. Akhirnya, kami telah sampai di halte Puri, Pati. Waktu telah menunjukkan pukul 16.00, Emak mengajakku untuk shalat Ashar terlebih dahulu sebelum pulang. Usai shalat Ashar, kami menanti bus jurusan Pati-Jepara. Lima menit kemudian, akhirnya ada sebuah bus bertuliskan papan Pati-Jepara yang terpampang di atasnya. Di sana, ada seorang kernet yang meneriakkan ''Pati-Jepara, Jepara Pak, Jepara Buk''. Sesaat setelah masuk, aku dan Emak tidak mendapat tempat duduk lagi, terpaksa kami harus berdiri sambil memandangi sepanjang jalan pulang.
''Kiri, kiri, Pak..'', sahut Emak kepada kernet bus tersebut. Sampai di tepi jalan raya Desa Mojosemi, aku dan Emak harus berjalan sejauh 3 kilometer untuk sampai ke rumah kami di Desa Karangwage. Kaki ini serasa mau patah menyusuri jalan-jalan berbatu sejauh itu.
Akhirnya, terlihat sudah rumah nenek yang tak jauh berbeda dari dulu saat aku masih tinggal di sana. Tetangga-tetanggaku agak pangling dengan wajahku yang mungkin sudah berubah. Namun, mereka masih mengenali Emak dan menyapa kami. Begitulah, suasana yang asri, tenang, ramah, dan rukun, inilah yang akan menghiasi hari-hari di tempat tinggalku sekarang. Lingkungan baru akan menjadi tantangan baru untuk terus bermimpi menembus langit. Tiba di depan pintu, kami disambut hangat oleh kakek, nenek, Pakdhe, dan Budhe serta sepupuku. ''Assalamualaikum, Mbah. .'' ''Waalaikumussalam. Lho Yogo iki mau. Kok wis suwe ora bali-bali. Ana apa kok bali?''. Kakekku dan tetanggaku dulu biasa memanggilku dengan nama Yogo. ''Nggih, Mbah ngapuntenipun. Wingi teng Sumatra wonten bencana, barang-barang ajur sedanten.. Mula, kula ngajak Emak wangsul mriki mawon.'' ''Ya, Allah, le..le.. Alhamdulillah, kowe karo Emakmu diparingi selamet kalihan Gusti.'' ''Nggih, Mbah.'' Suasana haru sontak menyelimuti tangis-tangis yang begitu tersedu. Namun, seorang pejuang hidup haruslah tegar menghadapi segala cobaan. Karena dibalik cobaan, pasti ada energi dan hikmah sebagai motivasi. Untuk selanjutnya, pasti menjadi lebih baik. Hari sudah petang, kami semua menunaikan shalat maghrib berjama'ah dan kakeklah sebagai imamnya. Seusai shalat maghrib, kami makan bersama dengan lauk seadanya. ''Makan itu ya seadanya saja, nggak usah aneh-aneh. Tempe sama sambel aja bisa membuat nasi di wakul itu habis kok. Besok kalo jadi Presiden kamu bebas mau makan apa aja boleh.'', suara Pakdhe membelah kesunyian. '' Nggih...'', balasku dan sepupuku secara bersamaan. Setelah itu, kami menjalankan shalat Isya dan mengaji. ''Yog, besok kamu sekolah nggak?'', tanya sepupuku yang bernama Sugi. ''Oh, ya. Tapi, aku mau sekolah di mana ya?'', jawabku. ''Kamu kan seumuran dengan aku, bagaimana kalo kamu ikut sekolah bareng aku? Mau, nggak?'', lanjut Sugi. Aku menjawab, ''Ya, ya, mau, mau. Berarti kita sekelas dong.. Siip. Ngomong-ngomong, nama sekolahnya apa ?''. ''Ada deh, besok juga tau sendiri. Ya, udah. Besok kita berangkat bareng. Aku tidur duluan ya.'' Derap suara jangkrik yang meramaikan kesunyian malam adalah lantunan harmoni alam yang mengingatkan masa kecilku. Di balik bulan yang melengkung, terbias secercah angan yang terbias cendra mengisahkan indahnya malam itu. Detik-detik terakhir menjelang petualangan mimpi. Aku pun tertidur di atas sebuah kasur tua yang beralaskan debu tipis.
Kokok ayam jantan telah berkumandang, ufuk timur telah memancarkan seberkas cahaya keabadian. Kali ini aku terbangun sendiri, tanpa dibangunkan oleh Emak. Aku bergegas mandi dan shalat Subuh. Setelah itu, aku dan Sugi mampir sebentar ke sawah kakek untuk mengantar rantang yang berisi makanan sarapan pagi untuk kakek. Humm, udara segar nan menyerbit baris awal jajaran padi-padi di sawah yang masih hijau. Tampak beberapa kawanan capung yang terbang menikmati suasana yang sangat nyaman. Perjalanan menuju sekolah baru tampaknya hampir sama dengan yang lalu. Jalan-jalan beraspal masih jarang kutemui, yang ada hanya jalan raya saja. Tak apa, itu sudah biasa bagiku dan sepupuku. ''Stop, stop. Ini nih, sekolahnya.'', kata Sugi. Tepat di depan gerbang terpampang di sebuah papan besar tertulis sebuah nama 'SMAN 1 Bakti'. Saat aku mulai memasuki ruang kelas X-1, kakiku bergetar, mulutku diam terpaku menatap gedung tua itu. Tampaknya, bangunan ini masih kokoh. Sederhana sekali, satu meja untuk 2 anak dan lantainya pun masih memakai ubin. Aku meletakkan tasku dan duduk di sudut kiri belakang di samping Sugi. Tepat pukul 07.00, lonceng tanda masuk dibunyikan. Tiba-tiba, seorang guru datang. Ternyata, guru itu bernama Bu Tutik, beliau ramah dan baik. Lalu aku disuruh memperkenalkan diri kepada teman-teman. Kemudian, pelajaran dilanjutkan. Akhir pelajaran, Bu Tutik memberitahukan bahwa seminggu lagi akan ada seleksi olimpiade. Hal ini mengingatkanku pada dua orang temanku dulu, Maman dan Jojo. Aku sempat berjanji pada mereka untuk mengikuti seleksi olimpiade Geosains. Aku pun mendaftarkan namaku untuk mengikuti seleksi olimpiade Geosains, Sugi pun tertarik dan mendaftar sama denganku.
Baru dua kali melewati jalan menuju sekolah dan pulang sekolah, aku langsung bisa mengingatnya. Sepulang sekolah, aku dan Sugi harus mengirimkan rantang makan siang dan membantu kakek di sawahnya. Setelah ganti baju, kami berdua bergegas ke sawah. Di sawah, kami harus mengusir burung-burung pemakan padi yang terus berdatangan silih berganti dengan menggoyang-goyangkan tali rafia yang diikatkan dengan kaleng, ada juga yang diikatkan di orang-orangan sawah. Di atas sebuah gubuk yang reot, aku sempatkan untuk belajar Geosains dan mengerjakan PR bersama dengan Sugi. Nyaman sekali.... Sedikit waktu kami menundukkan kepala untuk membaca buku, burung-burung itu datang kembali. Oleh karena itu, kami harus bisa 'multitasking'. Tak terasa, matahari hampir terbenam, itu tandanya kami harus pulang. Aku senang saat menyusuri jalan sawah atau galeng untuk beradu cepat dengan Sugi. Tapi, aku mengalah saja karena ingin berjalan bersama kakek saja. Hari-hari yang kulalui senada dengan sepoi bayu yang membiaskan dedaunan kering.
Hari ke-7
Hari ini aku dan Sugi agak berdebar-debar karena sepulang sekolah ada seleksi olimpiade tingkat sekolah. Saat-saat itu kini telah tiba. Pengawas memasuki ruangan, soal telah dibagikan, dan mulailah mengerjakan.
Satu per satu kukerjakan soal-soal yang masih asing dalam benakku. Entahlah dengan Sugi, apakah dia bisa atau tidak. Usai seleksi, aku dan Sugi tawakkal dan berserah diri kepada Allah. Semoga saja kami berdua bisa lolos seleksi ini. Hasilnya akan diumumkan besok pagi.
Seperti biasa, aku dan Sugi belajar di sawah dan membantu kakek mengusir burung-burung sawah. ''Piye mau, tesmu iso nggarap??'', tanya kakek. ''Saged, tapi nggih wonten ingkang mboten saged, Mbah.'', jawab Sugi sambil menggoyang-goyangkan tali orang-orangan sawah. ''Nggih, Mbah. Soalipun wonten ingkang mboten saged'', sahutku. Kakek menjawab, ''Wis ora apa-apa. Sing penting wis usaha, tak dongakke sesuk kowe cah loro lolos kabeh. Kowe mesti dadi juara. Amin''. ''Amin..'', jawabku. ''Sugi??? Aja ngalamun, lho.'', lanjut kakek. ''E,e, nggih Mbah, Amin.'',balas Sugi terkejut. ''Yo wis, ayo padha mulih dhisik. Srengengene wis ambles.'', kata kakek. Kami semua mengemasi barang-barang dan segera pulang. Esok adalah penentuan, setelah perenungan dan perjuangan, kini tinggal harapan. Petang membayang, malam yang menggandeng segala asaku terbang jauh bersama gelembung impian, terhempas dan bergantung pada ranting yang menjulang.
Esok harinya, sepulang sekolah. Aku dan Sugi dengan cepat berlari menuju ke papan pengumuman, mencari nama kami berdua. ''Alhamdulillah, aku lolos!'', kataku. ''Yog, namaku tidak ada disitu...'', tebas Sugi penuh kecewa. ''Masak sih? Coba lihat lagi?'', sahutku. ''Nggak ada. Selamat ya kamu lolos.'', kata Sugi. ''Ya sudahlah, tahun depan kamu pasti lolos. Ah, ini lihat! Ini kan nama kamu?'', balasku. ''Yeeeee.. Aku lolos! Aku lolos! Kok yang diambil cuma 3 orang ya?'', tanya Sugi. Aku menjawab, ''Iya. Hanya 3 saja. Eh, yang peringkat satu itu cewek ya?''. ''He'em, nih namanya Centrya.'', jawab Sugi. Tiba-tiba ada seorang anak yang memotong pembicaraan kami, ''Oh, jadi kamu yang namanya Yoga dan Sugi. Lihat aja, di perlombaan sesungguhnya aku sudah pasti menang dari kalian!''. ''Oke, nggak masalah.'', sahutku. Lalu, Bu Tutik datang dan mengatakan bahwa seminggu lagi ada OSK dan guru pembimbingnya adalah beliau sendiri. Hati kami serasa berbunga-bunga saat perjalanan pulang. Kakek pun ikut bangga mendenini. Namun, pertandingan yang sesungguhnya akan segera dimulai.
Bimbingan akan terus dilakukan sejak 7 hari menjelang olimpiade. Pagi, siang, sore, aku dan Sugi selalu belajar Geosains bersama Bu Tutik. Saat sore hari, aku dan Sugi harus belajar di rumah Bu Tutik yang berjarak kurang lebih 7 km dari rumahku. Terkadang, aku dan Sugi harus pulang larut malam hingga pukul 19.00 malam. Sungguh menguras tenaga. Tapi, selama aku dibimbing oleh Bu Tutik, Centrya tak pernah datang. Entahlah, mungkin ia lebih memilih belajar bersama guru lesnya.
Sekian lama kami berdua belajar bersama Bu Tutik, hari pertandingan itu tiba juga. Hari ini, olimpiade dilaksanakan di Pati. Aku dan Sugi berangkat bersama Bu Tutik dengan bus jurusan Pati-Jepara, sementara Centrya akan menyusul diantar mobil pribadinya.
Setibanya di tempat pelaksanaan Olimpiade Geosains, ternyata Centrya sudah sampai terlebih dahulu. Kemudian, kami semua mendaftarkan diri sebagai peserta. Tepat pukul 08.00, kami mulai mengerjakan soal-soal olimpiade. Dua jam kemudian, semua peserta termasuk aku, Sugi, dan Centrya telah selesai. Hari ini juga pemenang olimpiade diumumkan. Menanti kurang lebih satu setengah jam, akhirnya ada pengumuman. Jantungku serasa berdegup kencang, juara dua sudah diumumkan, juara tiga sudah diumumkan, kami sempat putus asa karena di benak kami mana mungkin juara satu. Akhirnya, ''Juara satu diraih oleh...... Prayoga dari SMAN 1 Bakti.''. Haaa, aku tidak menyangka bisa juara satu. Bahkan, Centrya yang awalnya juara satu di sekolah, disini tidak mendapat juara. Aku bersyukur sekali kepada Allah, Bu Tutik dan Sugi memberiku selamat.
Begitulah perjuanganku di OSK, sampai OSP, aku dibina lebih keras lagi oleh Bu Tutik seorang diri. Begitu seterusnya sampai aku mendapat medali emas kemenangan di tingkat nasional. Semua itu adalah berkat perjuangan Bu Tutik yang bersedia membimbingku siang dan malam. Kapanpun dan di manapun. Terima kasih Bu Tutik, kau adalah guru yang paling mulia dan berjasa atas kemenanganku. Sesungguhnya, kemenangan ini aku persembahkan untuk Maman dan Jojo dan untuk menepati janjiku kepada mereka.
Itulah, akhirnya aku berhasil terbang bersama gelembung impian untuk menembus langit.
''..Seseorang akan melakukan apapun yang ia bisa, untuk meraih mimpinya dan untuk menembus langit..''
Monday, April 11, 2011
§ INDONESIA TERLUNTA-LUNTA §
INDONESIA TERLUNTA-LUNTA
‘Angkasa Yoga Inspira’
Indonesia tanah air beta
Apa kabarmu Indonesiaku???
Masihkah engkau mengingat masa-masa itu?
Masa disaat bercucuran darah nan rembah, tak kuasa menggempah, merah mewarna
Sayap garuda yang patah dan dicabuli bulu-bulunya oleh orang-orangnya
Berdiri pada setumpu kaki yang retak tulang-tulangnya, putih kuasnya
Di sana, tangan-tangan pengemis menengadah, kecewa kepadamu, Indonesiaku
Ribuan liter tangis air mata yang terlanjur bergantung padamu, dan yang mengabdi sebagai babu, Indonesiaku
Kala ku teropong satu per satu sudut kota, kudapati gedung-gedung menjulang rapuh
Berbeda dengan yang lalu, setiap hari bergonta-ganti layar percintaan, pendidikan dihancurkan olehnya
Kebebasan yang tak terbatas, menjerumuskan dirimu pada lingkup global yang mengganas, Indonesiaku
Pula, tertancap kuat di seremoni jalan-jalan beraspal, kibas-kibas terpa sang bendera
Namun jangan kau salah arah, itu bukan bendera Indonesia, melainkan wajah-wajah hina petinggi negara yang bertuliskan janji-janji belaka
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Jujur, aku malu menjadi penerusmu,
Ke mana pun ku langkahkan kedua kakiku pasti ku dengar cercaan bangsa barat, bangsa mutakhir teknologinya
Indonesia, ke mana aku harus pergi? Jika engkau tak seperti dulu lagi
Sudahkah kau puas akan semua itu, juara korupsi se-Asia, bandar narkoba terlaris di dunia
Ataukah mau tanduk dengan perilaku hina wakil-wakil rakyat, yang tak pantas mereka lakukan
Gudang-gudang semangat kini hangus terbakar oleh nasonalisme yang kian memudar
Pun angin segar telah tercemar oleh persepsi yang terbolak-balik, carut-marut tak menentu
Sadarlah, Indonesiaku! Benahi dirimu!
Tak ada gunanya ku lantunkan sederet peraduan di sepanjang khatulistiwa, hanya menjadi peredam kecil dari kebisingan
Jangan berhenti berbuat, itu yang kau kata, itu yang kau dusta
Merah jadi putih, dari keberanian menjadi ketakutan, itulah Indonesia
Putih bercampur merah, dari kesucian ternoda oleh darah yang mengucur deras karena kecelakaan yang kau perbuat
Indonesia, di zaman ini dan di abad ini, cukuplah kegilaanmu selama ini
Sadarkanlah dirimu, dari kendali hipnotis alam bawah sadarmu, Indonesia
Berkacalah pada beling-beling nista, pertiwi yang merunta-runta, sekarat
Janganlah kau tenggak arak kebohongan, dan bertobatlah pada Tuhan
Apakah kau ingin berubah? Ataukah kau ingin dirubah, oleh jajahan dunia maya
Musnah, diriku akan segera lenyap bersama tujuh bidadari langit yang telah lelah menasihatimu!
Jika kau mampu tabah, ku yakin kau pasti tergugah
Indonesia, jika kau masih terus semena-mena, dan tidak mau berbenah,
Lebih baik kita berpisah. . .
Ingatlah Indonesiaku, mutiara emasmu hampir saja diserobot tetanggamu
Karena itu, aku inginkan Indonesiaku seperti dulu lagi
Kobar semangat, bara api menyala-nyala dalam sehelai kain putih kesucian
Pemimpin negara yang adil dan bijaksana, menginspirasi segenap pena-pena mungil untuk kembali menggoreskan tinta untuk Indonesia
Indonesia tanah airku, sabdaku hanya untukmu, dan sirnaku ada di batinmu
Tuhan, jangan kau cabut Indonesiaku
Dari dalam hatiku. . .
‘Angkasa Yoga Inspira’
Indonesia tanah air beta
Apa kabarmu Indonesiaku???
Masihkah engkau mengingat masa-masa itu?
Masa disaat bercucuran darah nan rembah, tak kuasa menggempah, merah mewarna
Sayap garuda yang patah dan dicabuli bulu-bulunya oleh orang-orangnya
Berdiri pada setumpu kaki yang retak tulang-tulangnya, putih kuasnya
Di sana, tangan-tangan pengemis menengadah, kecewa kepadamu, Indonesiaku
Ribuan liter tangis air mata yang terlanjur bergantung padamu, dan yang mengabdi sebagai babu, Indonesiaku
Kala ku teropong satu per satu sudut kota, kudapati gedung-gedung menjulang rapuh
Berbeda dengan yang lalu, setiap hari bergonta-ganti layar percintaan, pendidikan dihancurkan olehnya
Kebebasan yang tak terbatas, menjerumuskan dirimu pada lingkup global yang mengganas, Indonesiaku
Pula, tertancap kuat di seremoni jalan-jalan beraspal, kibas-kibas terpa sang bendera
Namun jangan kau salah arah, itu bukan bendera Indonesia, melainkan wajah-wajah hina petinggi negara yang bertuliskan janji-janji belaka
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Jujur, aku malu menjadi penerusmu,
Ke mana pun ku langkahkan kedua kakiku pasti ku dengar cercaan bangsa barat, bangsa mutakhir teknologinya
Indonesia, ke mana aku harus pergi? Jika engkau tak seperti dulu lagi
Sudahkah kau puas akan semua itu, juara korupsi se-Asia, bandar narkoba terlaris di dunia
Ataukah mau tanduk dengan perilaku hina wakil-wakil rakyat, yang tak pantas mereka lakukan
Gudang-gudang semangat kini hangus terbakar oleh nasonalisme yang kian memudar
Pun angin segar telah tercemar oleh persepsi yang terbolak-balik, carut-marut tak menentu
Sadarlah, Indonesiaku! Benahi dirimu!
Tak ada gunanya ku lantunkan sederet peraduan di sepanjang khatulistiwa, hanya menjadi peredam kecil dari kebisingan
Jangan berhenti berbuat, itu yang kau kata, itu yang kau dusta
Merah jadi putih, dari keberanian menjadi ketakutan, itulah Indonesia
Putih bercampur merah, dari kesucian ternoda oleh darah yang mengucur deras karena kecelakaan yang kau perbuat
Indonesia, di zaman ini dan di abad ini, cukuplah kegilaanmu selama ini
Sadarkanlah dirimu, dari kendali hipnotis alam bawah sadarmu, Indonesia
Berkacalah pada beling-beling nista, pertiwi yang merunta-runta, sekarat
Janganlah kau tenggak arak kebohongan, dan bertobatlah pada Tuhan
Apakah kau ingin berubah? Ataukah kau ingin dirubah, oleh jajahan dunia maya
Musnah, diriku akan segera lenyap bersama tujuh bidadari langit yang telah lelah menasihatimu!
Jika kau mampu tabah, ku yakin kau pasti tergugah
Indonesia, jika kau masih terus semena-mena, dan tidak mau berbenah,
Lebih baik kita berpisah. . .
Ingatlah Indonesiaku, mutiara emasmu hampir saja diserobot tetanggamu
Karena itu, aku inginkan Indonesiaku seperti dulu lagi
Kobar semangat, bara api menyala-nyala dalam sehelai kain putih kesucian
Pemimpin negara yang adil dan bijaksana, menginspirasi segenap pena-pena mungil untuk kembali menggoreskan tinta untuk Indonesia
Indonesia tanah airku, sabdaku hanya untukmu, dan sirnaku ada di batinmu
Tuhan, jangan kau cabut Indonesiaku
Dari dalam hatiku. . .
Saturday, April 9, 2011
>>> SEBUAH PESAN, UNTUKMU LANGIT <<< |by Angkasa Yoga Inspira
Remang, jerit sekikil batu yang terlempar sambu
Hempas bayu menyiratkan dedaunan kering yang menggumpal
Satu, dua, detik demi detik loji pasir membolak-balik tubuh rampingnya
Terdengar kabar goreh jamban kehidupan sepantang
Retikan gerimis yang bersimphoni dengan dedauna hijan menginspirasi
Terbuang, diriku memang. Mustahil bagi kalian
Namun, sebuah pesan dari pena mungil yang kehausan tinta
Katanya, ia juga mengemis akan keadilan hidup..
Mencari sebuah jawaban, menelisik masa lalu
Bersahabat dengan waktu, sedih menyepi sendiri
Bersandar di bawah payung rumpang dan kain gombal
Dan seorang teman setia, engkau langit
Aku harus bisa, tanganku adalah sayap, kakiku setumpuk harap
Setiap kata mutiara yang terucap, mengadukan buih-buih nista, mencuri-curi pandang
Kala ku pandang sebutir bintang malam itu
Aku berbagi cerita padanya, memberi arti hidupnya
Hari benar-benar sudah memberontak, kelam
Orang-orang mulai menelusur jalan-jalan desa membawa teplok kesombongan
Sementara aku, apa yang kupunya???
Selain secarik kertas dan pena kurus yang mulai tersedak
Aku mulai menggores sebongkah kata dan berkisah
Menggeluti semua penghalang-penghalangku
Mencari sumber energi dengan inspirasi
Ku tatap nenar sorot tajam langit gempar
Ku teriakkan sederet frasa yang menggema
Aku ingin menembus langit, dan menjadi satu-satunya
Walau derita dupa panah-panah menusuk bingkai tulangku
Sekalipun jiwa ragaku harus ku pertaruhkan
Pun melemparkan sekanting darah penghabisan
Horison langit malam, adalah saksi yang pertama
Dan untuk terakhir kalinya. . .
Hempas bayu menyiratkan dedaunan kering yang menggumpal
Satu, dua, detik demi detik loji pasir membolak-balik tubuh rampingnya
Terdengar kabar goreh jamban kehidupan sepantang
Retikan gerimis yang bersimphoni dengan dedauna hijan menginspirasi
Terbuang, diriku memang. Mustahil bagi kalian
Namun, sebuah pesan dari pena mungil yang kehausan tinta
Katanya, ia juga mengemis akan keadilan hidup..
Mencari sebuah jawaban, menelisik masa lalu
Bersahabat dengan waktu, sedih menyepi sendiri
Bersandar di bawah payung rumpang dan kain gombal
Dan seorang teman setia, engkau langit
Aku harus bisa, tanganku adalah sayap, kakiku setumpuk harap
Setiap kata mutiara yang terucap, mengadukan buih-buih nista, mencuri-curi pandang
Kala ku pandang sebutir bintang malam itu
Aku berbagi cerita padanya, memberi arti hidupnya
Hari benar-benar sudah memberontak, kelam
Orang-orang mulai menelusur jalan-jalan desa membawa teplok kesombongan
Sementara aku, apa yang kupunya???
Selain secarik kertas dan pena kurus yang mulai tersedak
Aku mulai menggores sebongkah kata dan berkisah
Menggeluti semua penghalang-penghalangku
Mencari sumber energi dengan inspirasi
Ku tatap nenar sorot tajam langit gempar
Ku teriakkan sederet frasa yang menggema
Aku ingin menembus langit, dan menjadi satu-satunya
Walau derita dupa panah-panah menusuk bingkai tulangku
Sekalipun jiwa ragaku harus ku pertaruhkan
Pun melemparkan sekanting darah penghabisan
Horison langit malam, adalah saksi yang pertama
Dan untuk terakhir kalinya. . .
^^^SENANDUNG ILALANG^^^|by Angkasa Yoga Inspira
Sirna, elak ludah yang kian terbesut oleh laring
Menyematkan sebutir tapal yang terendam
Mendengar kabar di balik bulan yang berlekuk
Menandakan dirinya yang teramat malu
Akan mozaik yang retak gemeretak sebingkah
Hidupmu pula hidupmu
Celoteh ilalang yang kian melapuk tergusur alir hujan
Deretan hijau yang terbentang
Sepanjang jalan dan garis perbatasan
Kini tak mampu lagi ia merunta
Oleh tingkah-tingkah beringas nan kejam
Yang dulu menjadi kawan
Tak pernah lagi kudengar sayupmu
Senandungmu kepada langit sebagai gantungan amarahmu, dan tempat membuyar segala hitamku
Janji setiamu yang kian meragu, yang kian rapuh terbias hempas sudra ilalang
Begitu mudah patahmu, begitu senat bicaramu
Kala kudengar peraduan anyir bingar sore itu
Di tengah pelayar semburat kuning yang hampir tenggak di balik gunung
Kalau ku tahu, hujan rintah darah adalah tangismu dan senandung terakhirmu
Kan ku lahap lendir-lendir yang berselimut dalam daging yang menggelonggong
Kan ku basuh muka hina ini dengan embun-embun yang kau tebarkan
Tiba-tiba saja, sosok sejati mencuat dari gersangnya humus
Sebagian lagi jatuh terkapar dari petir yang menghantar
Detik terakhir antara hidup dan matimu
Menyatu dengan simphoni yang kian terpejam, luluh bersama ragaku
Lalu, jeritan-jeritan maut yang terdengar menjemput nyawamu
Hujan kembali menitikkan air matanya
Lalu, tumbuh secercah ilalang terbang yang merindang
Dari relung nadiku, dan dari serambi jantungku, menaungi dunia
Rimba berdentang untuk langit lebam
Menyematkan sebutir tapal yang terendam
Mendengar kabar di balik bulan yang berlekuk
Menandakan dirinya yang teramat malu
Akan mozaik yang retak gemeretak sebingkah
Hidupmu pula hidupmu
Celoteh ilalang yang kian melapuk tergusur alir hujan
Deretan hijau yang terbentang
Sepanjang jalan dan garis perbatasan
Kini tak mampu lagi ia merunta
Oleh tingkah-tingkah beringas nan kejam
Yang dulu menjadi kawan
Tak pernah lagi kudengar sayupmu
Senandungmu kepada langit sebagai gantungan amarahmu, dan tempat membuyar segala hitamku
Janji setiamu yang kian meragu, yang kian rapuh terbias hempas sudra ilalang
Begitu mudah patahmu, begitu senat bicaramu
Kala kudengar peraduan anyir bingar sore itu
Di tengah pelayar semburat kuning yang hampir tenggak di balik gunung
Kalau ku tahu, hujan rintah darah adalah tangismu dan senandung terakhirmu
Kan ku lahap lendir-lendir yang berselimut dalam daging yang menggelonggong
Kan ku basuh muka hina ini dengan embun-embun yang kau tebarkan
Tiba-tiba saja, sosok sejati mencuat dari gersangnya humus
Sebagian lagi jatuh terkapar dari petir yang menghantar
Detik terakhir antara hidup dan matimu
Menyatu dengan simphoni yang kian terpejam, luluh bersama ragaku
Lalu, jeritan-jeritan maut yang terdengar menjemput nyawamu
Hujan kembali menitikkan air matanya
Lalu, tumbuh secercah ilalang terbang yang merindang
Dari relung nadiku, dan dari serambi jantungku, menaungi dunia
Rimba berdentang untuk langit lebam
Sunday, March 13, 2011
>> CURAH LANGIT YANG TERBUNGKUK << |by Prayoga Ismail
>> CURAH LANGIT YANG TERBUNGKUK <<
Terbinar semu di pandangan lengki berderi tanpa henti..
Mencari sebatang kara, yang tertunduk menanti presipitasi..
Jerat kekuasaan yang membasuh muka-muka pucat petinggi negara..
Kini yang bertapa, berjuasi bertutur gamang menusuk..
Terbias garis tepi pantai dengan ombak yang sejak 7 harinya menjerit-jerit..
Menyemat sasar hati terselimuti hangatnya angin malam, yang tertindas penuh luka..
Yang Maha Kuasa, berpijak di atas sorbia-sorbia pasir putih rintah darah menghentikan goyah lidahku, aku mengemis kepada-Mu..
Kenapa Engkau menangis? Kenapa?kenapa?
Ini bukan waktu yang tepat, ini baru menit ke lima puluh empat aku menegakkan diriku yang cacat..
Aku tau, gemerka seka berjingka pekik menyeka kesunyian malam..
Dua satu satu dua dua tiga nol nol tujuh enam satu lima empat lima enam satu..
Kering perlahan, bukit dan kerajaan runtuh sebar terbenda..
Surat juris gugur tercecar diterpa angin, tergulung pula oleh jeritan ombak yang menderap merenggut kuasanya..
Langit yang kelam, tak ada lagi sebutir bintang yang bergelantungan, bulan pun telah bercerai semalam..
Jejak-jejak kebohonganmu berkabut dan terbenam semu..
Gelap, gulita, nestapa, segalanya terlihat mendusta..
Mata ku buta karenanya, meski tubuhku cacat gemerat dan terbuang..
Aku akan meniti jui, menjadi lilin yang bersinar, menghias blantika langit..
Langit, jangan kau berputus asa. Memang nasib yang mempertemukan kita jua..
Jangan biarkan mendung menghempas
keyakinan, dan merobek kekuatanmu..
Satu kekuatan luar biasa akan terlahir dari keyakinan diri sendiri..
Ingat, 7 hari yang lalu semua menangis darah meratap sirna diriku..
Tapi, keyakinan masih tetap hidup dan memberiku kehidupan baru..
Detak jarum jam yang terus berputar, penanda waktu masih bersabar..
Bersabar demi aku, sampai aku bisa menembus langit..
Entah kapan saat itu tiba??????????
Tertulis di buku catatan tuaku yang sudah menua penuh debu..
Hanya seseorang yang bisa mengertinya..
Dialah orang yang jua senasib dengan kita, langit..
Dia akan mewujudkannya, dia bisa menembus langit..
Menjadi seperti diriku yang tak henti berjuang mengemis keadilan hidup..
Di curah-curah langit yang semakin terbungkuk..
Meskipun hati ini menentang dan bergeming di sisi redup angan-angannya..
Perlahan, gegaran angin yang meniup-niup segalanya, kini jua berkusi perdi akan penyesalan..
Hidup, bukanlah penyesalan. Tapi, untuk menjadi yang terbaik..
Demi waktu, demi jerit-jerit ombak, dan demi langit yang semakin terpuruk, aku tak sanggup..
Kematian sudah merenggut merebak membunuh diriku..
Dia pasti bisa, karena aku akan terus menjadi gerobak yang membentang di langit, membantu dirinya seorang..
Terbinar semu di pandangan lengki berderi tanpa henti..
Mencari sebatang kara, yang tertunduk menanti presipitasi..
Jerat kekuasaan yang membasuh muka-muka pucat petinggi negara..
Kini yang bertapa, berjuasi bertutur gamang menusuk..
Terbias garis tepi pantai dengan ombak yang sejak 7 harinya menjerit-jerit..
Menyemat sasar hati terselimuti hangatnya angin malam, yang tertindas penuh luka..
Yang Maha Kuasa, berpijak di atas sorbia-sorbia pasir putih rintah darah menghentikan goyah lidahku, aku mengemis kepada-Mu..
Kenapa Engkau menangis? Kenapa?kenapa?
Ini bukan waktu yang tepat, ini baru menit ke lima puluh empat aku menegakkan diriku yang cacat..
Aku tau, gemerka seka berjingka pekik menyeka kesunyian malam..
Dua satu satu dua dua tiga nol nol tujuh enam satu lima empat lima enam satu..
Kering perlahan, bukit dan kerajaan runtuh sebar terbenda..
Surat juris gugur tercecar diterpa angin, tergulung pula oleh jeritan ombak yang menderap merenggut kuasanya..
Langit yang kelam, tak ada lagi sebutir bintang yang bergelantungan, bulan pun telah bercerai semalam..
Jejak-jejak kebohonganmu berkabut dan terbenam semu..
Gelap, gulita, nestapa, segalanya terlihat mendusta..
Mata ku buta karenanya, meski tubuhku cacat gemerat dan terbuang..
Aku akan meniti jui, menjadi lilin yang bersinar, menghias blantika langit..
Langit, jangan kau berputus asa. Memang nasib yang mempertemukan kita jua..
Jangan biarkan mendung menghempas
keyakinan, dan merobek kekuatanmu..
Satu kekuatan luar biasa akan terlahir dari keyakinan diri sendiri..
Ingat, 7 hari yang lalu semua menangis darah meratap sirna diriku..
Tapi, keyakinan masih tetap hidup dan memberiku kehidupan baru..
Detak jarum jam yang terus berputar, penanda waktu masih bersabar..
Bersabar demi aku, sampai aku bisa menembus langit..
Entah kapan saat itu tiba??????????
Tertulis di buku catatan tuaku yang sudah menua penuh debu..
Hanya seseorang yang bisa mengertinya..
Dialah orang yang jua senasib dengan kita, langit..
Dia akan mewujudkannya, dia bisa menembus langit..
Menjadi seperti diriku yang tak henti berjuang mengemis keadilan hidup..
Di curah-curah langit yang semakin terbungkuk..
Meskipun hati ini menentang dan bergeming di sisi redup angan-angannya..
Perlahan, gegaran angin yang meniup-niup segalanya, kini jua berkusi perdi akan penyesalan..
Hidup, bukanlah penyesalan. Tapi, untuk menjadi yang terbaik..
Demi waktu, demi jerit-jerit ombak, dan demi langit yang semakin terpuruk, aku tak sanggup..
Kematian sudah merenggut merebak membunuh diriku..
Dia pasti bisa, karena aku akan terus menjadi gerobak yang membentang di langit, membantu dirinya seorang..
Sunday, February 27, 2011
KEMBALIKAN INDONESIA PADAKU Kepada Kang Ilen |by Taufik Ismail
Kembalikan Indonesia Padaku . . .
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya,
Kembalikan Indonesia Padaku . . .
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 watt,
Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 watt, sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang sambil main pingpong di atas Pulau Jawa yang tenggelam dan membawa seratus juta bola lampu 15 watt ke dasar lautan
Kembalikan Indonesia Padaku . . .
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pinpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Kembalikan Indonesia Padaku . . .
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya,
Kembalikan Indonesia Padaku . . .
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 watt,
Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 watt, sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang sambil main pingpong di atas Pulau Jawa yang tenggelam dan membawa seratus juta bola lampu 15 watt ke dasar lautan
Kembalikan Indonesia Padaku . . .
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pinpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Kembalikan Indonesia Padaku . . .
#MENGUNGKAP TERJADINYA PETIR DAN KILAT#
Menurut Wikipedia Indonesia, petir atau halilintar merupakan gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan, ditunjukkan dengan munculnya kilatan cahaya di langit yang menyilaukan sesaat (kilat), kemudian disusul dengan suara menggelegar (guruh). Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya. Prinsip dasarnya kira-kira sama dengan lompatan api pada busi.
Energi dari pelepasan muatan listrik di awan begitu besarnya sehingga menimbulkan rentetan cahaya, panas, dan bunyi yang sangat kuat yaitu geluduk, guntur, atau halilintar. Geluduk, guntur, atau halilintar ini dapat menghancurkan bangunan, membunuh manusia, dan memusnahkan pohon. Sedemikian raksasanya sampai-sampai ketika petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya, sebagai akibat udara yang terbelah, sambarannya yang rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik itu juga akan menimbulkan bunyi yang menggelegar. Ketika akumulasi muatan listrik dalam awan tersebut telah membesar dan stabil, lompatan listrik (electric discharge) yang terjadi pun akan merambah massa bermedan listrik lainnya, dalam hal ini adalah Bumi. Besar medan listrik minimal yang memungkinkan terpicunya petir ini adalah sekitar 1.000.000 volt per meter.
Kapan Petir Datang?
Petir datang ketika langit tiba-tiba menjadi gelap disertai angin datang begitu cepatnya dan awan yang menjulang tinggi menyerupai bunga kol berwarna keabuan-abuan, kemudian udara terasa pengap. Awan ini biasanya disebut dengan awan petir CB (Comulunimbus) Dalam musim penghujan seperti saat inilah awan-awan jenis ini banyak terbentuk. Bangunan bumi yang kerap sebagai penghantar petir di bumi, merujuk Hukum Faraday, tak lain adalah bangunan, pohon, atau tiang-tiang metal berujung lancip. Proses Terjadinya Petir Secara fisika, petir merupakan gejala alam yang bisa kita analogikan dengan sebuah kapasitor raksasa, dimana lempeng pertama adalah awan (bisa lempeng negatif atau lempeng positif) dan lempeng kedua adalah bumi (dianggap netral). Seperti kita ketahui, kapasitor adalah sebuah komponen pasif pada rangkaian listrik yang bisa menyimpan energi sesaat (energy storage). Petir juga dapat terjadi dari awan ke awan (intercloud), dimana salah satu awan bermuatan negatif dan awan lainnya bermuatan positif.
Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya. Proses terjadinya muatan pada awan yaitu karena partikel- partikel penyusun awan bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.
Sedangkan terjadinya sendiri secara lebih detail disebabkan oleh 2 teori, yaitu Ionisasi dan gesekan antar awan.
a. Proses Ionisasi Petir terjadi diakibatkan terkumpulnya ion bebas bermuatan negatif dan positif di awan, ion listrik dihasilkan oleh gesekan antar awan dan juga kejadian Ionisasi ini disebabkan oleh perubahan bentuk air mulai dari cair menjadi gas atau sebaliknya, bahkan padat (es) menjadi cair.Ion bebas menempati permukaan awan dan bergerak mengikuti angin yang berhembus, bila awan-awan terkumpul di suatu tempat maka awan bermuatan akan memiliki beda potensial yang cukup untuk menyambar permukaan bumi maka inilah yang disebut petir.
b.Gesekan antar awan Pada awalnya awan bergerak mengikuti arah angin, selama proses bergeraknya awan ini maka saling bergesekan satu dengan yang lainya , dari proses ini terlahir electron-electron bebas yang memenuhi permukaan awan. Proses ini bisa digambarkan secara sederhana pada sebuah penggaris plastic yang digosokkan pada rambut maka penggaris ini akan mampu menarik potongan kertas. Pada suatu saat awan ini akan terkumpul di sebuah kawasan, saat inilah petir dimungkinkan terjadi karena electron-elektron bebas ini saling menguatkan satu dengan lainnya. Sehingga memiliki cukup beda potensial untuk menyambar permukaan bumi.
Tipe-Tipe Petir
Secara umum petir itu dapat terjadi di dalam awan itu sendiri, antara awan dengan awan, antara awan dengan udara, dan awan dengan bumi (tanah). Kemungkinan-kemungkinan tersebut melahirkan empat tipe petir, yaitu :
#Petir dari awan ke Tanah (CG) petir ini tergolong berbahaya dan paling merusak, berasal dari muatan yang lebih rendah lalu mengalirkan muatan negatif ke tanah. Terkadang petir jenis ini mengandung muatan positif (+) terutama pada musim dingin. #Petir dalam awan (IC), merupakan tipe yang paling sering terjadi antara pusat muatan yang berlawanan pada awan yang sama.
#Petir antar awan (CC), terjadi antara pusat muatan dari dua awan yang berbeda. Pelepasan muatan nya sendiri terjadi saat udara cerah antara awan tersebut.
#Petir awan ke udara (CA) terjadi jika udara di sekitaran awan yang bermuatan positif (+) berinteraksi dengan udara yang bermuatan negatif (-). Jika ini terjadi pada awan bagian bawah maka merupakan kombinasi dengan petir tipe CG. Petir CA tampak seperti jari-jari yang berasal dari petir CG
Menurut muatannya sendiri, petir dibagi menjadi dua yaitu petir negatif (+) dan petir positif (-). Perbedaannya yaitu petir negatif cenderung menyambar berulang ulang dan bercabang cabang seperti sebuah akar pohon, sedangkan petir positif, hanya menyambar sekali.
Dampak Negatif dan Cara Menghindari
Umumnya petir-petir mengincar korban di wilayah datar yang terbuka. Besar medan listrik minimal yang memungkinkan terpicunya petir ini adalah sekitar 1.000.000 volt per meter. Bayangkan betapa mengerikannya jika lompatan bunga api ini mengenai tubuh makhluk hidup! Korban tiba-tiba terpental ketika sebuah petir menyambar. Seperti juga korban lainnya, ia tewas seketika dengan tubuh terbakar. Apabila petir menyambar rumah, rumah tersebut akan rusak dan perabotan elektronik akan rusak seperti telepon, televisi, atau yang lainnya. Kebanyakan disebabkan karena kelebihan voltase yang mengalir melalui media listrik (kabel) terlalu besar sehingga mampu membakar komponen elektronis didalamnya.
Bagaimana menghindarinya ?
1. Apabila sebuah bangunan yang tinggi dengan penangkal petir, maka jika ada petir akan menyambar alat penangkal kemudian disalurkan melalui kawat besar yang terbuat dari tembaga atau kuningan menuju ke tanah.
2. Apabila terjadi hujan dan petir, lebih baik kita menghindari di tempat terbuka.
3. Untuk menhindari kerusakan alat listri di rumah apabila terjadi hujan dan petir adalah mematikan listri, mencabut saluran antene di televisi, dan mencabut kabel telepon.
Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Petir
http://www.indoforum.org/showthread.php?t=6688
http://achtungpanzer.blogspot.com/2009/11/
bagaimana-terjadinya-petir-dan.html
Energi dari pelepasan muatan listrik di awan begitu besarnya sehingga menimbulkan rentetan cahaya, panas, dan bunyi yang sangat kuat yaitu geluduk, guntur, atau halilintar. Geluduk, guntur, atau halilintar ini dapat menghancurkan bangunan, membunuh manusia, dan memusnahkan pohon. Sedemikian raksasanya sampai-sampai ketika petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya, sebagai akibat udara yang terbelah, sambarannya yang rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik itu juga akan menimbulkan bunyi yang menggelegar. Ketika akumulasi muatan listrik dalam awan tersebut telah membesar dan stabil, lompatan listrik (electric discharge) yang terjadi pun akan merambah massa bermedan listrik lainnya, dalam hal ini adalah Bumi. Besar medan listrik minimal yang memungkinkan terpicunya petir ini adalah sekitar 1.000.000 volt per meter.
Kapan Petir Datang?
Petir datang ketika langit tiba-tiba menjadi gelap disertai angin datang begitu cepatnya dan awan yang menjulang tinggi menyerupai bunga kol berwarna keabuan-abuan, kemudian udara terasa pengap. Awan ini biasanya disebut dengan awan petir CB (Comulunimbus) Dalam musim penghujan seperti saat inilah awan-awan jenis ini banyak terbentuk. Bangunan bumi yang kerap sebagai penghantar petir di bumi, merujuk Hukum Faraday, tak lain adalah bangunan, pohon, atau tiang-tiang metal berujung lancip. Proses Terjadinya Petir Secara fisika, petir merupakan gejala alam yang bisa kita analogikan dengan sebuah kapasitor raksasa, dimana lempeng pertama adalah awan (bisa lempeng negatif atau lempeng positif) dan lempeng kedua adalah bumi (dianggap netral). Seperti kita ketahui, kapasitor adalah sebuah komponen pasif pada rangkaian listrik yang bisa menyimpan energi sesaat (energy storage). Petir juga dapat terjadi dari awan ke awan (intercloud), dimana salah satu awan bermuatan negatif dan awan lainnya bermuatan positif.
Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya. Proses terjadinya muatan pada awan yaitu karena partikel- partikel penyusun awan bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.
Sedangkan terjadinya sendiri secara lebih detail disebabkan oleh 2 teori, yaitu Ionisasi dan gesekan antar awan.
a. Proses Ionisasi Petir terjadi diakibatkan terkumpulnya ion bebas bermuatan negatif dan positif di awan, ion listrik dihasilkan oleh gesekan antar awan dan juga kejadian Ionisasi ini disebabkan oleh perubahan bentuk air mulai dari cair menjadi gas atau sebaliknya, bahkan padat (es) menjadi cair.Ion bebas menempati permukaan awan dan bergerak mengikuti angin yang berhembus, bila awan-awan terkumpul di suatu tempat maka awan bermuatan akan memiliki beda potensial yang cukup untuk menyambar permukaan bumi maka inilah yang disebut petir.
b.Gesekan antar awan Pada awalnya awan bergerak mengikuti arah angin, selama proses bergeraknya awan ini maka saling bergesekan satu dengan yang lainya , dari proses ini terlahir electron-electron bebas yang memenuhi permukaan awan. Proses ini bisa digambarkan secara sederhana pada sebuah penggaris plastic yang digosokkan pada rambut maka penggaris ini akan mampu menarik potongan kertas. Pada suatu saat awan ini akan terkumpul di sebuah kawasan, saat inilah petir dimungkinkan terjadi karena electron-elektron bebas ini saling menguatkan satu dengan lainnya. Sehingga memiliki cukup beda potensial untuk menyambar permukaan bumi.
Tipe-Tipe Petir
Secara umum petir itu dapat terjadi di dalam awan itu sendiri, antara awan dengan awan, antara awan dengan udara, dan awan dengan bumi (tanah). Kemungkinan-kemungkinan tersebut melahirkan empat tipe petir, yaitu :
#Petir dari awan ke Tanah (CG) petir ini tergolong berbahaya dan paling merusak, berasal dari muatan yang lebih rendah lalu mengalirkan muatan negatif ke tanah. Terkadang petir jenis ini mengandung muatan positif (+) terutama pada musim dingin. #Petir dalam awan (IC), merupakan tipe yang paling sering terjadi antara pusat muatan yang berlawanan pada awan yang sama.
#Petir antar awan (CC), terjadi antara pusat muatan dari dua awan yang berbeda. Pelepasan muatan nya sendiri terjadi saat udara cerah antara awan tersebut.
#Petir awan ke udara (CA) terjadi jika udara di sekitaran awan yang bermuatan positif (+) berinteraksi dengan udara yang bermuatan negatif (-). Jika ini terjadi pada awan bagian bawah maka merupakan kombinasi dengan petir tipe CG. Petir CA tampak seperti jari-jari yang berasal dari petir CG
Menurut muatannya sendiri, petir dibagi menjadi dua yaitu petir negatif (+) dan petir positif (-). Perbedaannya yaitu petir negatif cenderung menyambar berulang ulang dan bercabang cabang seperti sebuah akar pohon, sedangkan petir positif, hanya menyambar sekali.
Dampak Negatif dan Cara Menghindari
Umumnya petir-petir mengincar korban di wilayah datar yang terbuka. Besar medan listrik minimal yang memungkinkan terpicunya petir ini adalah sekitar 1.000.000 volt per meter. Bayangkan betapa mengerikannya jika lompatan bunga api ini mengenai tubuh makhluk hidup! Korban tiba-tiba terpental ketika sebuah petir menyambar. Seperti juga korban lainnya, ia tewas seketika dengan tubuh terbakar. Apabila petir menyambar rumah, rumah tersebut akan rusak dan perabotan elektronik akan rusak seperti telepon, televisi, atau yang lainnya. Kebanyakan disebabkan karena kelebihan voltase yang mengalir melalui media listrik (kabel) terlalu besar sehingga mampu membakar komponen elektronis didalamnya.
Bagaimana menghindarinya ?
1. Apabila sebuah bangunan yang tinggi dengan penangkal petir, maka jika ada petir akan menyambar alat penangkal kemudian disalurkan melalui kawat besar yang terbuat dari tembaga atau kuningan menuju ke tanah.
2. Apabila terjadi hujan dan petir, lebih baik kita menghindari di tempat terbuka.
3. Untuk menhindari kerusakan alat listri di rumah apabila terjadi hujan dan petir adalah mematikan listri, mencabut saluran antene di televisi, dan mencabut kabel telepon.
Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Petir
http://www.indoforum.org/showthread.php?t=6688
http://achtungpanzer.blogspot.com/2009/11/
bagaimana-terjadinya-petir-dan.html
Monday, February 21, 2011
*** RAMALAN DUNIA DARI 2010 SAMPAI 5079 ***
Nabiah Baba Vanga akan memprediksi apa yang akan terjadi dalam 3000 tahun depan di dunia.Vanga (Vangelia) Pandeva lahir pada 31 Januari 1911 dan menghabiskan hidupnya tinggal di Bulgaria sampai dia meninggal pada 11 Agustus 1996. Ia kehilangan penglihatannya ketika ia berusia 12 tahun ketika ia tersapu oleh tornado. Dia ditemukan hidup dengan pasir di matanya, sehingga mengalami kebutaan. Vanga mulai membuat prediksi ketika ia berusia 16 tahun. Dia menjadi sangat terkenal karena karunia ini agak cepat. Banyak negarawan termasuk Hitler mengunjunginya dan dilaporkan bahwa Hitler meninggalkan rumahnya tampak sedih. Prediksi Vanga paling mengejutkan adalah: “Pada pergantian abad, pada bulan Agustus 1999 atau 2000, Kursk akan ditutupi dengan air, dan seluruh dunia akan menangis di atasnya. ” (1980) Prediksi tidak masuk akal saat itu. Sayangnya, dua puluh tahun kemudian, hal itu banyak yang percaya, ketika kapal selam nuklir Rusia tenggelam dalam kecelakaan pada bulan Agustus 2000. Kapal selam itu bernama Kursk. Kursk – kota (setelah mana kapal selam itu bernama), bisa tidak berarti telah tertutup dengan air (mungkin itu sebabnya dia tampak begitu realistis prediksi pada awalnya).
“Mengerikan,mengerikan ! Saudara-saudara Amerika akan jatuh setelah diserang oleh burung-
burung baja. Serigala akan melolong dalam semak,
dan banyak orang tak berdosa menjadi korban.
“(1989) Terjadi seperti yang diperkirakan. World Trade Center Towers di New York runtuh setelah serangan teroris pada 11 September 2001. WTC Towers itu dijuluki “Kembar ” atau “Brothers.” Para teroris mengantar penumpang pesawat – “burung besi” – ke dalam menara. “Semak” jelas berkaitan dengan nama keluarga presiden AS saat itu. Anda dapat tertawa dan menolaknya, atau menjadi paranoid. Faktanya adalah tidak ada yang tahu apakah semua itu akan menjadi kenyataan atau tidak, jadi saya rasa kita harus menunggu dan melihatnya.
2010 – Awal Perang Dunia ke 3. Perang akan dimulai pada bulan November. 2010 dan akan berakhir pada bulan Oktober 2014. menggunakan senjata nuklir dan kimia.
2011 – Karena hujan radioaktif di belahan bumi utara – tidak ada hewan atau tumbuh-tumbuhan akan tertinggal.
2014 – Sebagian besar orang di dunia ini akan memiliki kulit kanker kulit dan penyakit yang terkait. (sebagai akibat dari perang kimia)
2016 – Eropa hampir gak ada yang menempati
2018 – Cina menjadi kekuatan dunia baru.
2023 – orbit Bumi akan berubah sedikit
2028 – Pengembangan sumber energi baru. (Mungkin controller reaksi termonuklir) Kelaparan perlahan berhenti menjadi masalah. Dapat Mengemudikan pesawat luar angkasa samapi ke Venus.
2033 – es di kutub utara dan selatan mencair.
2043 – Dunia ekonomi makmur. Muslim menjalankan Eropa.
2046 – Setiap organ dapat diproduksi secara massal. Pertukaran organ tubuh menjadi metode pengobatan favorit.
2076 – Tidak ada masyarakat kelas (komunisme) 2088 – penyakit baru mewabah. – Orang-orang mulai tua dalam hitungan detik.
2097 – Penyakit tua itu mulai sembuh.
2100 – Manusia dibuat Matahari menerangi sisi gelap dari planet bumi.
2111 – Orang-orang menjadi robot.
2123 – Perang di antara negara-negara kecil.
2125 – Kelaparan di seantero bumi (Orang-orang akan teringat Vanga lagi)
2130 – Koloni di bawah air (saran dari orang asing) 2154 – Hewan menjadi setengah manusia.
2167 – agama baru muncul.
2170 – kekeringan di seantero bumi.
2183 – Koloni di Mars menjadi negara nuklir dan meminta kemerdekaan dari Bumi.
2187 – Berhasil menghentikan 2 letusan gunung berapi.
2195 – Koloni Laut sepenuhnya dikembangkan, energi dan makanan berlimpah
2196 – Kendali campuran antara Asia dan Eropa. 2201 – proses termonuklir lambat. Suhu turun.
2221 – Dalam pencarian kehidupan di luar Bumi, manusia berhubungan dengan semua hal yang
mengerikan.
2256 – Spaceship freighting membawa penyakit baru ke dalam bumi.
2262 – Orbit planet mulai berubah secara bertahap. 2271 – Hukum-hukum fisika berubah
2273 – Mencampurnya Ras kuning, putih dan hitam. Ras baru muncul.
2279 – Tidak ada Energi (mungkin dari vakum atau lubang hitam).
2288 – Perjalanan kembali ke masa lalu (Sisa Perjalanan diciptakan?). Kontak baru dengan orang
asing.
2291 – Matahari mendingin. Upaya-upaya sedang dilakukan untuk menyalakannya lagi.
2296 – Perubahan gaya gravitasi.
2299 – Di Perancis, ada pemberontakan terhadap Islam.
2302 – Misteri tentang alam semesta yang terungkap.
2304 – Misteri Bulan terungkap.
2341 – Sesuatu yang mengerikan mendekati Bumi dari ruang angkasa.
2354 – Kekeringan.
2371 – Kelaparan dimana mana.
2378 – Ras baru tumbuh dengan cepat.
2480 – Dua pria membuat matahari akan bertabrakan. Bumi berada dalam kegelapan.
3.005 – Perang di Mars. Lintasan planet perubahan. 3010 – Komet menabrak Bulan. Sekitar Bumi – cincin / zona dari batu dan debu.
3.797 – Pada saat itu di Bumi membunuh semua kehidupan, tetapi manusia akan dapat meletakkan
dasar bagi kehidupan baru di sistem bintang lain. 3.803 – Sebuah planet baru dihuni oleh sedikit orang, Iklim planet baru mempengaruhi organisme orang – mereka bermutasi.
3.805 – Perang antara manusia memperebutkan sumber daya.
3.815 – Perang sudah usai
3.854 – Perkembangan peradaban hampir berhenti. 4.302 – kota-kota baru tumbuh di dunia. pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi baru.
4.302 – Perkembangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan menemukan dalam keseluruhan dampak
dari semua penyakit dalam perilaku organisme. 4.304 – Ditemukan cara untuk mengobati semua penyakit.
4.308 – Karena mutasi pada akhirnya orang mulai menggunakan otak mereka lebih dari 34%. Benar-
benar kehilangan pengertian tentang kejahatan dan
kebencian.
4.509 – Memahami Allah.
4.599 – Orang orang mencapai keabadian.
4.674 – Perkembangan peradaban telah mencapai puncaknya. Jumlah orang yang hidup di planet yang
berbeda adalah 340 miliar. Asimilasi dimulai dengan
alien.
5.076 – Sebuah batas alam semesta. Dengan itu, tak ada yang tahu.
5.078 – Keputusan untuk meninggalkan batas-batas alam semesta. Sementara sekitar 40 persen dari
populasi yang menentangnya.
5.079 – End of the World
sumber: http://dunia-panas.blogspot.com/2010/03/
ramalan-dunia-dari-2010-sampai-5079.htm
“Mengerikan,mengerikan ! Saudara-saudara Amerika akan jatuh setelah diserang oleh burung-
burung baja. Serigala akan melolong dalam semak,
dan banyak orang tak berdosa menjadi korban.
“(1989) Terjadi seperti yang diperkirakan. World Trade Center Towers di New York runtuh setelah serangan teroris pada 11 September 2001. WTC Towers itu dijuluki “Kembar ” atau “Brothers.” Para teroris mengantar penumpang pesawat – “burung besi” – ke dalam menara. “Semak” jelas berkaitan dengan nama keluarga presiden AS saat itu. Anda dapat tertawa dan menolaknya, atau menjadi paranoid. Faktanya adalah tidak ada yang tahu apakah semua itu akan menjadi kenyataan atau tidak, jadi saya rasa kita harus menunggu dan melihatnya.
2010 – Awal Perang Dunia ke 3. Perang akan dimulai pada bulan November. 2010 dan akan berakhir pada bulan Oktober 2014. menggunakan senjata nuklir dan kimia.
2011 – Karena hujan radioaktif di belahan bumi utara – tidak ada hewan atau tumbuh-tumbuhan akan tertinggal.
2014 – Sebagian besar orang di dunia ini akan memiliki kulit kanker kulit dan penyakit yang terkait. (sebagai akibat dari perang kimia)
2016 – Eropa hampir gak ada yang menempati
2018 – Cina menjadi kekuatan dunia baru.
2023 – orbit Bumi akan berubah sedikit
2028 – Pengembangan sumber energi baru. (Mungkin controller reaksi termonuklir) Kelaparan perlahan berhenti menjadi masalah. Dapat Mengemudikan pesawat luar angkasa samapi ke Venus.
2033 – es di kutub utara dan selatan mencair.
2043 – Dunia ekonomi makmur. Muslim menjalankan Eropa.
2046 – Setiap organ dapat diproduksi secara massal. Pertukaran organ tubuh menjadi metode pengobatan favorit.
2076 – Tidak ada masyarakat kelas (komunisme) 2088 – penyakit baru mewabah. – Orang-orang mulai tua dalam hitungan detik.
2097 – Penyakit tua itu mulai sembuh.
2100 – Manusia dibuat Matahari menerangi sisi gelap dari planet bumi.
2111 – Orang-orang menjadi robot.
2123 – Perang di antara negara-negara kecil.
2125 – Kelaparan di seantero bumi (Orang-orang akan teringat Vanga lagi)
2130 – Koloni di bawah air (saran dari orang asing) 2154 – Hewan menjadi setengah manusia.
2167 – agama baru muncul.
2170 – kekeringan di seantero bumi.
2183 – Koloni di Mars menjadi negara nuklir dan meminta kemerdekaan dari Bumi.
2187 – Berhasil menghentikan 2 letusan gunung berapi.
2195 – Koloni Laut sepenuhnya dikembangkan, energi dan makanan berlimpah
2196 – Kendali campuran antara Asia dan Eropa. 2201 – proses termonuklir lambat. Suhu turun.
2221 – Dalam pencarian kehidupan di luar Bumi, manusia berhubungan dengan semua hal yang
mengerikan.
2256 – Spaceship freighting membawa penyakit baru ke dalam bumi.
2262 – Orbit planet mulai berubah secara bertahap. 2271 – Hukum-hukum fisika berubah
2273 – Mencampurnya Ras kuning, putih dan hitam. Ras baru muncul.
2279 – Tidak ada Energi (mungkin dari vakum atau lubang hitam).
2288 – Perjalanan kembali ke masa lalu (Sisa Perjalanan diciptakan?). Kontak baru dengan orang
asing.
2291 – Matahari mendingin. Upaya-upaya sedang dilakukan untuk menyalakannya lagi.
2296 – Perubahan gaya gravitasi.
2299 – Di Perancis, ada pemberontakan terhadap Islam.
2302 – Misteri tentang alam semesta yang terungkap.
2304 – Misteri Bulan terungkap.
2341 – Sesuatu yang mengerikan mendekati Bumi dari ruang angkasa.
2354 – Kekeringan.
2371 – Kelaparan dimana mana.
2378 – Ras baru tumbuh dengan cepat.
2480 – Dua pria membuat matahari akan bertabrakan. Bumi berada dalam kegelapan.
3.005 – Perang di Mars. Lintasan planet perubahan. 3010 – Komet menabrak Bulan. Sekitar Bumi – cincin / zona dari batu dan debu.
3.797 – Pada saat itu di Bumi membunuh semua kehidupan, tetapi manusia akan dapat meletakkan
dasar bagi kehidupan baru di sistem bintang lain. 3.803 – Sebuah planet baru dihuni oleh sedikit orang, Iklim planet baru mempengaruhi organisme orang – mereka bermutasi.
3.805 – Perang antara manusia memperebutkan sumber daya.
3.815 – Perang sudah usai
3.854 – Perkembangan peradaban hampir berhenti. 4.302 – kota-kota baru tumbuh di dunia. pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi baru.
4.302 – Perkembangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan menemukan dalam keseluruhan dampak
dari semua penyakit dalam perilaku organisme. 4.304 – Ditemukan cara untuk mengobati semua penyakit.
4.308 – Karena mutasi pada akhirnya orang mulai menggunakan otak mereka lebih dari 34%. Benar-
benar kehilangan pengertian tentang kejahatan dan
kebencian.
4.509 – Memahami Allah.
4.599 – Orang orang mencapai keabadian.
4.674 – Perkembangan peradaban telah mencapai puncaknya. Jumlah orang yang hidup di planet yang
berbeda adalah 340 miliar. Asimilasi dimulai dengan
alien.
5.076 – Sebuah batas alam semesta. Dengan itu, tak ada yang tahu.
5.078 – Keputusan untuk meninggalkan batas-batas alam semesta. Sementara sekitar 40 persen dari
populasi yang menentangnya.
5.079 – End of the World
sumber: http://dunia-panas.blogspot.com/2010/03/
ramalan-dunia-dari-2010-sampai-5079.htm
Sunday, February 20, 2011
~ MAKNA JIWAKU YANG RETAK ~ by Prayoga Ismail
Derasnya arus sungai di parit itu
Menandakan suatu bangsa yang dilanda coba
Ada kala musim berganti musim
Mengubah kepengapan zaman
Sungguh malang nasibmu
Keindahan alam ciptaan-Mu
Terhimpit diantara batu-batu yang sombong
Pencemaran dikalang korupsi manipulasi
Kini, hancur semua harapku
Tangan-tangan kotor perusak alam!
Tak adakah sesal yang menghimpit jiwa
Batu-batu melapuk dan retak
Lelah meniti jembatan perasaan sepi
Sadarlah jiwa-jiwa yang agung
Berjalanlah ke jalan nurani
Akrabi sang rimba sunyi
Bersihkan sampah kepenatan
Usir lalat-lalat yang hinggap
Inikah sebuah negeri besar?
Dengarlah jerit pohon-pohon tumbang
Lihatlah para gelandangan terseret-seret
Tak adakah rasa kontras bagimu?
Kami adalah suatu bangsa,
Bangsa yang dilanda coba,
Dan dicampakkan oleh raja
Ditegur pula oleh alam semesta
Hanya kami sendiri yang harus bangkit
Bangkit demi kehancuran alam,
Dan kebobrokan mental-mental busuk
Membangun peradaban yang baru..
Menandakan suatu bangsa yang dilanda coba
Ada kala musim berganti musim
Mengubah kepengapan zaman
Sungguh malang nasibmu
Keindahan alam ciptaan-Mu
Terhimpit diantara batu-batu yang sombong
Pencemaran dikalang korupsi manipulasi
Kini, hancur semua harapku
Tangan-tangan kotor perusak alam!
Tak adakah sesal yang menghimpit jiwa
Batu-batu melapuk dan retak
Lelah meniti jembatan perasaan sepi
Sadarlah jiwa-jiwa yang agung
Berjalanlah ke jalan nurani
Akrabi sang rimba sunyi
Bersihkan sampah kepenatan
Usir lalat-lalat yang hinggap
Inikah sebuah negeri besar?
Dengarlah jerit pohon-pohon tumbang
Lihatlah para gelandangan terseret-seret
Tak adakah rasa kontras bagimu?
Kami adalah suatu bangsa,
Bangsa yang dilanda coba,
Dan dicampakkan oleh raja
Ditegur pula oleh alam semesta
Hanya kami sendiri yang harus bangkit
Bangkit demi kehancuran alam,
Dan kebobrokan mental-mental busuk
Membangun peradaban yang baru..
....KUMBANG-KUMBANG BERSIMPANGAN...
Kumbang-Kumbang Bersimpangan
Kumbang-kumbang yang bersimpangan, ke manakah dikau hendak berkubang..
Gundah telah berkisah padaku setiap kau lewat di depanku..
Walau semilir angin yang meniup-niup daun pisang hijau kan bersumpah..
Sumpah yang akan ku pegang selama kau bertitikkan hujan-hujan embun pagi..
Manis bukan, kumbang yang gemetaran sayapnya tak kembali ke bunga biru..
Bunga yang selalu ia hinggapi dan ia sedot manisnya madu kandungnya..
Sedikit rahasia masih ku simpan baik-baik..
Tak akan mengubah rasa sepi yang selalu menghampiri..
Eramku kini tak kau hiraukan seperti dulu lagi..
Ke mana dirimu kumbang? Aku masih menunggumu di tempat biasa..
Ya, di atas pohon matoa yang tumbuh merindangi rumahku..
Tapi, ini bukankah sebuah gemeliang siulan angin malam..
Yang membawa kabar kematianmu baru saja, di balik awan yang mendung..
Kumbang..kumbang.. Siapa yang membunuhmu???
Aku tak punya lagi seorang pun sahabat yang setia sepertimu..
Kumbang, kumbang yang bersimpangan Kenangan akan kesendirian..
Alam kini menangis mengenang kepergianmu..
Sembari menuda akan lilin kecil yg terhempas terkandas oleh turbulensi yg semakin memutar dan mencekam..
Apalah semua ini? Korelasi kesedihan alam akan hilangnya gegaran petir, kilat, dan hujan pun mendendammu..
Tak taukah kau semua itu, langit kini bergeming atas kebohonganmu. Mencuat terderap semat-semat panah goreh hati yg tak tertahankan..
Mungkin, realita hidup terkadang tak seadil-adilnya para berjuasi..
Aku malu akan semua ini, bui telah meringkih sebar gurat air yg turun dari langit..
Walau sampai habisnya jam pasir yg membolak-balikkan butir-butirnya, aku akan tetap..
Tetap mengguluh pedang keyakinan, untuk menembus langit..
Setujuh pun akan kutembus langit itu, sampai habisnya puncak langit ketujuh.
Kumbang-kumbang yang bersimpangan, ke manakah dikau hendak berkubang..
Gundah telah berkisah padaku setiap kau lewat di depanku..
Walau semilir angin yang meniup-niup daun pisang hijau kan bersumpah..
Sumpah yang akan ku pegang selama kau bertitikkan hujan-hujan embun pagi..
Manis bukan, kumbang yang gemetaran sayapnya tak kembali ke bunga biru..
Bunga yang selalu ia hinggapi dan ia sedot manisnya madu kandungnya..
Sedikit rahasia masih ku simpan baik-baik..
Tak akan mengubah rasa sepi yang selalu menghampiri..
Eramku kini tak kau hiraukan seperti dulu lagi..
Ke mana dirimu kumbang? Aku masih menunggumu di tempat biasa..
Ya, di atas pohon matoa yang tumbuh merindangi rumahku..
Tapi, ini bukankah sebuah gemeliang siulan angin malam..
Yang membawa kabar kematianmu baru saja, di balik awan yang mendung..
Kumbang..kumbang.. Siapa yang membunuhmu???
Aku tak punya lagi seorang pun sahabat yang setia sepertimu..
Kumbang, kumbang yang bersimpangan Kenangan akan kesendirian..
Alam kini menangis mengenang kepergianmu..
Sembari menuda akan lilin kecil yg terhempas terkandas oleh turbulensi yg semakin memutar dan mencekam..
Apalah semua ini? Korelasi kesedihan alam akan hilangnya gegaran petir, kilat, dan hujan pun mendendammu..
Tak taukah kau semua itu, langit kini bergeming atas kebohonganmu. Mencuat terderap semat-semat panah goreh hati yg tak tertahankan..
Mungkin, realita hidup terkadang tak seadil-adilnya para berjuasi..
Aku malu akan semua ini, bui telah meringkih sebar gurat air yg turun dari langit..
Walau sampai habisnya jam pasir yg membolak-balikkan butir-butirnya, aku akan tetap..
Tetap mengguluh pedang keyakinan, untuk menembus langit..
Setujuh pun akan kutembus langit itu, sampai habisnya puncak langit ketujuh.
§ ERUPSI DAHSYAT BINTIK MATAHARI MENGARAH KE BUMI §
Pada tanggal 13 Februari 2011 pada pukul 23.38 wib, bintik Matahari 1158 melepaskan flare Matahari yang cukup besar dengan skala M6,6 dan erupsi tersebut mencapai puncaknya pada tanggal 15 Februari 2011 jam 08.56 wib saat ia kembali melepaskan flare Matahari dengan skala X2. Flare Matahari yang dilepaskan Bintik Matahari 1158. Kredit : SDO/NASA Skala atau Kelas X2 merupakan tipe flare Matahari yang paling kuat dan menjadi erupsi pertama dari Siklus Matahari ke-24 yang akan berlangsung di waktu yang akan datang. Kedua erupsi yang terjadi pada tanggal 13 dan 15
Februari ini direkam oleh Solar Dynamic Observatory
milik NASA dan SDO juga berhasil melihat radiasi ultra ungu yang ekstrim yang muncul dari flare tersebut. Selain mengirimkan radiasi UV (ultraungu) ke Bumi, ledakan ini juga melontarkan CME (lontaran massa korona) ke arah Bumi.
Pada film yang diambil STEREO-B, tampak perluasan awan dan diduga badai geomagnetik akan terjadi saat CME tiba di Bumi pada tanggal 17 Februari 2011. Saat CME mencapai Bumi, ia akan berinteraksi dengan medan magnet di Bumi dan berpotensi untuk menimbulkan badai geomagnetik. Pada kejadian tersebut, aliran partikel Matahari akan mengalir turun sesuai dengan garis-garis medan magnetik Bumi ke kutub-kutub Bumi dan bertabrakan dengan atom nitrogen dan oksigen di atmosfer. Saat itulah para pengamat di lintang tinggi akan dapat menikmati aurora atau tirai cahaya warna warni.
Tidak akan ada efek signifikan bagi Bumi. Dampak yang mungkin terjadi, antara lain gangguan
pada jaringan listrik karena transformator dalam
jaringan listrik akan mengalami kelebihan muatan,
gangguan telekomunikasi (merusak satelit,
menyebabkan black-out frekuensi HF radio, dll),
navigasi, dan menyebabkan korosi pada jaringan pipa bawah tanah. Pengamatan terjadinya flare atau semburan Matahari pada tanggal 15 Februari 2011 juga dilakukan oleh Alfan Nasrulloh dengan menggunakan teleskop radio JOVE dari observatorium Bosscha. Selain data terjadinya semburan, para pengamat juga berhasil merekam suara dari semburan radio tersebut. Hasil ini merupakan milestone atau tonggak sejarah yang besar dalam pengembangan teleskop Radio JOVE di Observatorium Bosscha. Dengan hasil tersebut, Observatorium Bosscha bisa terlibat aktif di radio (frekuensi rendah) untuk “menyambut ” siklus aktifitas matahari ke-24 dengan puncak aktifitas matahari sekitar 2012-2014 dalam bentuk solar patrol.
Flare Matahari skala M6,6 tanggal 13
Februari 2011 Sebelum bintik Matahari 1158 melepas flare dengan skala X2, pada tanggal 13 Februari 2011, ia juga melepaskan ledakan dengan skala M6,6 yang berhasil direkam oleh SDO milik NASA. Erupsi tersebut menyebabkan terjadinya ledakan keras pada gelombang radio yang bisa didengar oleh penerima gelombang pendek di siang hari. Thomas Ashcraft di New Meksiko berhasil merekam suara tersebut pada gelombang 19 - 21 MHz. Menurut Thomas, itu merupakan letupan gelombang radio terkuat dalam siklus Matahari yang baru ini. Sumber terjadinya flare Matahari tersebut yakni bintik Matahari 1158 berkembang sangat cepat dan area aktifnya sudah memiliki lebar lebih dari 100000 km, dengan setidaknya ada selusin inti hitam seukuran Bumi tersebar dibawah kanopi magnetik yang tidak stabil. Awan lontaran massa korona dari flare Matahari tanggal 13 Februari ini juga bergerak ke Bumi dan menghasilkan aurora yang spektakuler bagi pengamat di lintang tinggi Aurora yang tampak di Henningsvaer, Lofoten, Norwegia. Aurora yang tampak dari area Murmansk, Russia.
Sumber : langitselatan.com
Februari ini direkam oleh Solar Dynamic Observatory
milik NASA dan SDO juga berhasil melihat radiasi ultra ungu yang ekstrim yang muncul dari flare tersebut. Selain mengirimkan radiasi UV (ultraungu) ke Bumi, ledakan ini juga melontarkan CME (lontaran massa korona) ke arah Bumi.
Pada film yang diambil STEREO-B, tampak perluasan awan dan diduga badai geomagnetik akan terjadi saat CME tiba di Bumi pada tanggal 17 Februari 2011. Saat CME mencapai Bumi, ia akan berinteraksi dengan medan magnet di Bumi dan berpotensi untuk menimbulkan badai geomagnetik. Pada kejadian tersebut, aliran partikel Matahari akan mengalir turun sesuai dengan garis-garis medan magnetik Bumi ke kutub-kutub Bumi dan bertabrakan dengan atom nitrogen dan oksigen di atmosfer. Saat itulah para pengamat di lintang tinggi akan dapat menikmati aurora atau tirai cahaya warna warni.
Tidak akan ada efek signifikan bagi Bumi. Dampak yang mungkin terjadi, antara lain gangguan
pada jaringan listrik karena transformator dalam
jaringan listrik akan mengalami kelebihan muatan,
gangguan telekomunikasi (merusak satelit,
menyebabkan black-out frekuensi HF radio, dll),
navigasi, dan menyebabkan korosi pada jaringan pipa bawah tanah. Pengamatan terjadinya flare atau semburan Matahari pada tanggal 15 Februari 2011 juga dilakukan oleh Alfan Nasrulloh dengan menggunakan teleskop radio JOVE dari observatorium Bosscha. Selain data terjadinya semburan, para pengamat juga berhasil merekam suara dari semburan radio tersebut. Hasil ini merupakan milestone atau tonggak sejarah yang besar dalam pengembangan teleskop Radio JOVE di Observatorium Bosscha. Dengan hasil tersebut, Observatorium Bosscha bisa terlibat aktif di radio (frekuensi rendah) untuk “menyambut ” siklus aktifitas matahari ke-24 dengan puncak aktifitas matahari sekitar 2012-2014 dalam bentuk solar patrol.
Flare Matahari skala M6,6 tanggal 13
Februari 2011 Sebelum bintik Matahari 1158 melepas flare dengan skala X2, pada tanggal 13 Februari 2011, ia juga melepaskan ledakan dengan skala M6,6 yang berhasil direkam oleh SDO milik NASA. Erupsi tersebut menyebabkan terjadinya ledakan keras pada gelombang radio yang bisa didengar oleh penerima gelombang pendek di siang hari. Thomas Ashcraft di New Meksiko berhasil merekam suara tersebut pada gelombang 19 - 21 MHz. Menurut Thomas, itu merupakan letupan gelombang radio terkuat dalam siklus Matahari yang baru ini. Sumber terjadinya flare Matahari tersebut yakni bintik Matahari 1158 berkembang sangat cepat dan area aktifnya sudah memiliki lebar lebih dari 100000 km, dengan setidaknya ada selusin inti hitam seukuran Bumi tersebar dibawah kanopi magnetik yang tidak stabil. Awan lontaran massa korona dari flare Matahari tanggal 13 Februari ini juga bergerak ke Bumi dan menghasilkan aurora yang spektakuler bagi pengamat di lintang tinggi Aurora yang tampak di Henningsvaer, Lofoten, Norwegia. Aurora yang tampak dari area Murmansk, Russia.
Sumber : langitselatan.com
Pangeran ''El Nino'' dan Putri ''La Nina''
Pangeran “El Nino” dan Putri “La Nina”
Berawal ketika Festival Natal Peruvian, terjadi
pemanasan di Pantai Peru. Ahli meteorologi
memberikan nama fenomena Osilasi Selatan El Nino
atau El Nino Southern Oscillation (ENSO). El Nino berarti seorang laki-laki, karena bertepatan dengan
peringatan hari kelahiran Nabi Isa. Kebalikan dari fenomena ini yaitu pendinginan samudra Pasifik
Selatan, pertama kali dinamakan dengan Anti El Nino.
Untuk menghindari pengertian yang berlawanan,
kemudian diberikan nama La Nina. La Nina berarti
seorang perempuan. Apakah El Nino dan La Nina Itu?
Pengukuran temperatur permukaan air laut secara
global yang dilakukan oleh Universitas Wiconsin- Madison, menunjukkan bahwa temperatur Samudra
Pasifik Timur (dekat dengan Ecuador, Peru, dan Galapagos) adalah hasil osilasi selatan El Nino. Osilasi Selatan El Nino merupakan pergantian siklus
pemanasan dan pendiginan permukaan Samudra
Pasifik Tengah dan Timur. Pada kondisi normal, bagian samudra tersebut lebih dingin dari wilayah
khatulistiwa, sebagian besar karena pengaruh angin
pasat timur laut. Arus dingin mengalir naik ke Pantai Chili, hingga ke sumber air dingin di Pantai Peru. Saat sumber air dingin menyusut, menyebabkan
permukaan Pasifik Tengah dan Timur menjadi hangat karena penyinaran musim kemarau.
Fenomena tersebut dinamakan dengan fenomena El Nino. Hal tersebut berpengaruh pada curah hujan di Amerika Selatan dan kekeringan panjang di Australia Timur. Pada waktu lain, injeksi air dingin lebih hebat dari biasanya hingga menyebabkan permukaan Pasifik Timur menjadi dingin. Fenomena tersebut dinamakan dengan fenomena La Nina. Hal tersebut berpengaruh pada curah hujan panjang di Australia Timur dan musim kemarau di Amerika Selatan. Fenomena El Nino dan La Nina Pada peta temperatur permukaan air laut, 18 Maret 2002 (gambar 1) menunjukkan hampir seluruh Pasifik Timur tertutup air hangat dan menghapus “lidah dingin” yang merupakan ciri khas La Nina di khatulistiwa.
Penelitian tentang El Nino-La Nina disampaikan oleh Tahiti dan Bureau of Meteorology dari Australia. NOOA juga melaporkan setiap sub-permukaan air menghangat, menandai terjadinya El Nino kembali. Menurut Dr. Theodor Landscheidt, dalam hipotesisnya menyatakan bahwa fenomena matahari merupakan pemicu fenomena El Nino dan La Nina. Intensitas keduanya dan lama peristiwa menentukan siapa yang terkena banjir, siapa yang terkena kekeringan, serta berapa lama bencana terjadi.
Kapan El Nino dan La Nina Terjadi? El Nino hebat pernah terjadi tahun 1982-1983 yang menyebabkan kekeringan panjang di Australia Timur dan Tasmania. Sedangkan pada tahun 1988, terjadi La Nina yang ditandai dengan banjir di Queensland dan new South Wales. Pada periode 1991-1995, El Nino lebih lemah dari peristiwa tahun 1982/1983 tetapi lebih lama berakhir. Queensland dan pedalaman New South Wales menderita ketimpangan kekeringan panjang selama 4 tahun penuh karena El Nino. Baru pada tahun 1996, La Nina memperbaiki hal tersebut, curah hujan meluas ke seluruh Australia Timur. El Nino kembali pada pertengahan 1997, diikuti dengan La Nina pada pertengahan 1998. Akhir tahun 2002, Fl Nino dan La Nina telah berkurang. Namun, penelitian El Nino-La Nina masih merupakan hal vital bagi warganegara Australia dan pantas menjadi penelitian iklim utama bagi para ilmuwan.
Telah diterbitkan di salah satu media cetak
Anna La Vidda -- 2006
Berawal ketika Festival Natal Peruvian, terjadi
pemanasan di Pantai Peru. Ahli meteorologi
memberikan nama fenomena Osilasi Selatan El Nino
atau El Nino Southern Oscillation (ENSO). El Nino berarti seorang laki-laki, karena bertepatan dengan
peringatan hari kelahiran Nabi Isa. Kebalikan dari fenomena ini yaitu pendinginan samudra Pasifik
Selatan, pertama kali dinamakan dengan Anti El Nino.
Untuk menghindari pengertian yang berlawanan,
kemudian diberikan nama La Nina. La Nina berarti
seorang perempuan. Apakah El Nino dan La Nina Itu?
Pengukuran temperatur permukaan air laut secara
global yang dilakukan oleh Universitas Wiconsin- Madison, menunjukkan bahwa temperatur Samudra
Pasifik Timur (dekat dengan Ecuador, Peru, dan Galapagos) adalah hasil osilasi selatan El Nino. Osilasi Selatan El Nino merupakan pergantian siklus
pemanasan dan pendiginan permukaan Samudra
Pasifik Tengah dan Timur. Pada kondisi normal, bagian samudra tersebut lebih dingin dari wilayah
khatulistiwa, sebagian besar karena pengaruh angin
pasat timur laut. Arus dingin mengalir naik ke Pantai Chili, hingga ke sumber air dingin di Pantai Peru. Saat sumber air dingin menyusut, menyebabkan
permukaan Pasifik Tengah dan Timur menjadi hangat karena penyinaran musim kemarau.
Fenomena tersebut dinamakan dengan fenomena El Nino. Hal tersebut berpengaruh pada curah hujan di Amerika Selatan dan kekeringan panjang di Australia Timur. Pada waktu lain, injeksi air dingin lebih hebat dari biasanya hingga menyebabkan permukaan Pasifik Timur menjadi dingin. Fenomena tersebut dinamakan dengan fenomena La Nina. Hal tersebut berpengaruh pada curah hujan panjang di Australia Timur dan musim kemarau di Amerika Selatan. Fenomena El Nino dan La Nina Pada peta temperatur permukaan air laut, 18 Maret 2002 (gambar 1) menunjukkan hampir seluruh Pasifik Timur tertutup air hangat dan menghapus “lidah dingin” yang merupakan ciri khas La Nina di khatulistiwa.
Penelitian tentang El Nino-La Nina disampaikan oleh Tahiti dan Bureau of Meteorology dari Australia. NOOA juga melaporkan setiap sub-permukaan air menghangat, menandai terjadinya El Nino kembali. Menurut Dr. Theodor Landscheidt, dalam hipotesisnya menyatakan bahwa fenomena matahari merupakan pemicu fenomena El Nino dan La Nina. Intensitas keduanya dan lama peristiwa menentukan siapa yang terkena banjir, siapa yang terkena kekeringan, serta berapa lama bencana terjadi.
Kapan El Nino dan La Nina Terjadi? El Nino hebat pernah terjadi tahun 1982-1983 yang menyebabkan kekeringan panjang di Australia Timur dan Tasmania. Sedangkan pada tahun 1988, terjadi La Nina yang ditandai dengan banjir di Queensland dan new South Wales. Pada periode 1991-1995, El Nino lebih lemah dari peristiwa tahun 1982/1983 tetapi lebih lama berakhir. Queensland dan pedalaman New South Wales menderita ketimpangan kekeringan panjang selama 4 tahun penuh karena El Nino. Baru pada tahun 1996, La Nina memperbaiki hal tersebut, curah hujan meluas ke seluruh Australia Timur. El Nino kembali pada pertengahan 1997, diikuti dengan La Nina pada pertengahan 1998. Akhir tahun 2002, Fl Nino dan La Nina telah berkurang. Namun, penelitian El Nino-La Nina masih merupakan hal vital bagi warganegara Australia dan pantas menjadi penelitian iklim utama bagi para ilmuwan.
Telah diterbitkan di salah satu media cetak
Anna La Vidda -- 2006
¤ HIKAYAT KAKEK YANG JENIUS [CERPEN] ¤ by Prayoga Ismail
- Hikayat Kakek yang Jenius -
Prizega namanya, semua terlihat berantakan lagi sepi. Di dalam sebuah rumah dg atap rumbia, tinggallah seorang diri. Terlihat seorang lelaki dg usia menua duduk di sebuah kursi, namun tak pantas disebut kursi. Dinding rumah yang rentan ambruk, tak membuat ia bersedih hati. Bahkan, menangis pun tak sanggup ia lakukan, air matanya telah habis di masa muda. Menyendiri, berdiam diri, sebenarnya bukan itu yang ia lakukan. Dulu, ia adalah orang jenius yang dianggap gila oleh semua orang. Dendam memang pernah terlintas di pikirannya, namun bukanlah dendam terhadap mereka. Dendam baginya adalah membuktikan bahwa ia bukanlah orang gila. Pada akhirnya, ia melarikan diri ke sebuah tempat yang tak seorang pun merambahnya. Ia tak punya apa-apa, hanya jenius yang ia punya. Keberhasilan hanya membutuhkan modal dan usaha, jenius adalah modalnya dan pelarian diri ini adalah usaha. Itulah prinsip hidup yang selalu memberi semangat dalam diri. Tak jarang, ia membuat berbagai macam alat mutakhir dg sederhana. Tak jarang pula, ia meneliti apa saja yang tak ia ketahui. Sering ia gagal dalam semua itu, namun ia tak pernah berhenti melakukannya. Dalam kurun waktu yang tak lama, ia telah berhasil membuat sebuah pil pengganti makan yang dibuat dari hasil reaksi 50 gram dedaunan+10 gram kulit maupun potongan daging/binatang yang diambil kandungan gizinya+oksigen sebagai pereaksi+K2O sebagai penyerap CO2+H2O->kapsul antilapar. Tak heran, dari sebuah daun dan seekor binatang ia bisa membuat ratusan pil semacam itu dg berbagai jenis dan tidak merusak lingkungan. Pil itulah makanan sehari-harinya, karena ia telah kehabisan bekal.
Suatu hari ia berhasil menyelesaikan sebuah robot assistant yg ia beri nama ''AsisLonev1''. Bentuknya seperti seorang manusia, memiliki otak mutasi dari gen binatang shg ia bisa berpikir, dan tanpa bahan bakar ataupun baterai. Prizega menganggap robot itu sbg teman dan asistant dalam segala hal. Suatu ketika, AsisLonev1 mengalami kerusakan di bagian otak. Prizega kembali dalam kesendirian, ia belum bisa memperbaiki robot itu.
Di lain sisi, ada sekelompok peneliti muda yg akan mengadakan penelitian di dekat rumah Prizega selama seminggu. Seminggu pun berlalu tak terasa, penelitian gagal karena ada gangguan karena gelombang udara asing dan mereka memutuskan kembali pulang. Saat seorang peneliti masih menyibukkan diri, tanpa sadar ia telah di tinggal oleh rekan-rekannya. Karena dirinya tengah disibukkan oleh penelitian fosil-fosil purba, tak lama kemudian ia teringat rekan-rekannya. Sarmiento segera mencari mereka, ia telah ditinggalkan oleh rekan-rekan yang juga sama sekali tak ingat dirinya.
Hari esok telah tiba dengan cepatnya. Pagi yang cerah, Sarmiento mencoba mengajak bicara para penghuni alam yang cukup mencekam itu. Ia berbicara pada batu, burung, jerapah, gajah, kelinci, tikus, monyet, namun mereka semua tak mempedulikan Sarmiento. Ia berniat ingin melanjutkan penelitiannya namun ia terlalu kelaparan, bekalnya telah habis. Ia pun pergi membawa seluruh barang-barangnya dan mencari-cari apa yang bisa ia makan. Sekian jauhnya dan luasnya area tersebut, sampailah ia di sebuah gubuk tua yang disamping rumahnya ada berbagai jenis tanaman dan buah. Itu adalah tanaman hasil kultur jaringan yang berhasil dikembangkan oleh Prizega. Tanpa basa-basi lagi, Sarmiento memetik sebuah jeruk milik Prizega, namun ia tak tahu bahwa gubuk dan tanaman itu ada orang yang tinggal. Mendengar suara gemeresak, Prizega keluar dari gubuknya dan ia melihat ada seseorang telah memetik buah dari tanamannya. ''Hai, anak muda apa yang kau lakukan?'', tanya Prizega. Sarmiento terkejut dan ia menjawab, ''Maafkan saya Kek, saya kelaparan. Karena itu, saya memetik buah tanaman kakek.'' ''Lalu kenapa kau bisa disini? Dari mana kau tau tempat ini?'', sambung Prizega. ''Begini, kek. Seminggu yg lalu saya datang ke sini bersama beberapa rekan saya untuk melakukan penelitian di daerah ini. Namun, kemarin mereka telah kembali dan saya masih tertinggal di sini. Mereka meninggalkan saya, dan akhirnya saya kelaparan. Saya mencari makanan dan akhirnya sampai di sini.'', jelas anak muda itu. '' Baiklah, apakah kau mau tinggal bersama kakek di gubuk yang reot ini?'' kata Prizega. Sarmiento berkata, '' Baik kek. Saya mau tinggal di sini.'' Mereka berdua segera masuk ke dalam gubuk. Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Sarmiento kepada Prizega tentang semua hasil penelitiannya. Sesekali dalam pandangannya yang tampak heran atas semua yang dimiliki oleh seorang kakek jenius. Dalam hatinya ia berkata bahwa Prizega pasti kakek paling jenius sedunia.
Semakin hari, semakin akrab. Prizega telah menganggap Sarmiento sebagai anaknya sendiri. Mereka berdua terus melakukan penelitian, siang malam tak mereka pedulikan. Tiada rasa sedih ataupun tertekan, semangatlah yg menggugah mereka untuk seperti ini. Sarmiento tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya, ''Em, kakek tau virus yang sedang menyerang di negara Soindural?''. ''Virus yang bagaimana, Nak?'' Prizega berbalik menanya. ''Virus itu sangat mematikan, kek. Sekali orang terjangkit, maka dalam waktu 1 jam ia akan segera mati. Apa kakek bisa membantu membuatkan vaksin atau obatnya?'' tanya Sarmiento. ''Mungkin, tapi apa kau sudah pernah menelitinya, Nak?'' terus Prizega. Anak muda menjawab, '' Ya, saya pernah menelitinya dan kebetulan saya masih membawa data-datanya.'' ''Baiklah, mari kita berjuang bersama.'' pekik kakek jenius itu. Kemudian, penelitian dan pembuatan vaksin dimulai. Seorang peneliti kimia dan seorang geologist tengah memadukan kejeniusannya. Akhirnya, 2 hari mereka berdua berhasil menyelesaikan misi yang sangat luar biasa itu.
Setelah puas atas segala hal yang ia dapat dari seorang kakek jenius yang gigih berjuang seorang diri di tengah sebuah hunian yang tak pernah dirambah siapapun itu. Sarmiento berniat hendak pulang dan mengajak kakek Prizega untuk ikut dengannya. Jurus rayuan gombal kini dilontarkan untuk kakek yang sangat ia kagumi itu. Butuh waktu yang tak sebentar untuk merayu kakek yang sangat kritis itu, karena ia selalu berpikiran apa yang akan terjadi. Akhirnya, Sarmiento berhasil membujuk dengan rayuan yang cukup dramatis. Mereka berdua diam-diam telah membuat sebuah kapsul terbang untuk dua penumpang, tanpa bahan bakar, tapi menyerap elektron-elektron sebagai energinya. Dan itulah yang mereka gunakan untuk pulang menuju rumah Sarmiento, di Parzojava.
Menakjubkan, dari sekian mil jarak yang ditempuh, mereka terbang hanya 1 jam satu menit lima puluh detik, wajarlah dengan kecepatan 200 mil/jam mereka terbang supercepat. Sarmiento dan Prizega mendarat dengan selamat dan tepat di depan rumahnya. Tetangga-tetangga Sarmiento terheran-heran melihat kapsul terbangnya. Sarmiento dan Prizega segera memasukkan barang-barangnya ke dalam rumah pribadi Sarmiento, jadi ia juga masih tinggal sendirian disana. Beruntung ada seorang kakek yang superhebat mau tinggal bersamanya, Prizega pun senang tinggal bersama Sarmiento. Hari sudah malam, mereka pun tidur dengan gunungan kecapekan.
Keesokan harinya, Sarmiento mengajak Prizega ke markas peneliti tempatnya bekerja. Sesampainya di sana, Sarmiento memperkenalkan kakek itu kepada rekan-rekannya. Rekan-rekannya pun terkejut setelah mendengar bahwa selama ia tertinggal di hutan, ia bertemu Prizega dan belajar banyak hal darinya dan ia pula yang menyelamatkan hidupnya. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa dan tentunya takkan terlupakan, itulah baginya. Di sana Prizega telah membawa obat antivirus dan obat penyembuh virus yang mematikan itu. Ia mempublikasikan di sebuah saluran televisi yang bekerja sama dengan markas peneliti tersebut. Seseorang yang terjangkit virus itu mencoba menelan pil tersebut dan terbukti sudah ia langsung sembuh dan hasilnya negative ketika di rontgen.Prizega mulai mendapat berbagai penghargaan dari markas peneliti dari hasil penelitiannya yang luar biasa. Sejak saat itulah, Prizega mulai terkenal sebagai kakek yang jenius. Bahkan dalam sebuah teknologi baru yang ia revolusikan elektron sebagai energi yang sangat berarti bagi kehidupan. Ingat, motivasi adalah keberhasilan. Dan keyakinan adalah pendukung keberhasilan itu. Walaupun terbuang, tetaplah berjuang. Itulah pesan terakhir yang Prizega sampaikan menjelang hembusan nafas terakhirnya sebelum ia wafat dalam usianya yang sudah menuntutnya kembali ke Tuhan.
__THE END__
Prizega namanya, semua terlihat berantakan lagi sepi. Di dalam sebuah rumah dg atap rumbia, tinggallah seorang diri. Terlihat seorang lelaki dg usia menua duduk di sebuah kursi, namun tak pantas disebut kursi. Dinding rumah yang rentan ambruk, tak membuat ia bersedih hati. Bahkan, menangis pun tak sanggup ia lakukan, air matanya telah habis di masa muda. Menyendiri, berdiam diri, sebenarnya bukan itu yang ia lakukan. Dulu, ia adalah orang jenius yang dianggap gila oleh semua orang. Dendam memang pernah terlintas di pikirannya, namun bukanlah dendam terhadap mereka. Dendam baginya adalah membuktikan bahwa ia bukanlah orang gila. Pada akhirnya, ia melarikan diri ke sebuah tempat yang tak seorang pun merambahnya. Ia tak punya apa-apa, hanya jenius yang ia punya. Keberhasilan hanya membutuhkan modal dan usaha, jenius adalah modalnya dan pelarian diri ini adalah usaha. Itulah prinsip hidup yang selalu memberi semangat dalam diri. Tak jarang, ia membuat berbagai macam alat mutakhir dg sederhana. Tak jarang pula, ia meneliti apa saja yang tak ia ketahui. Sering ia gagal dalam semua itu, namun ia tak pernah berhenti melakukannya. Dalam kurun waktu yang tak lama, ia telah berhasil membuat sebuah pil pengganti makan yang dibuat dari hasil reaksi 50 gram dedaunan+10 gram kulit maupun potongan daging/binatang yang diambil kandungan gizinya+oksigen sebagai pereaksi+K2O sebagai penyerap CO2+H2O->kapsul antilapar. Tak heran, dari sebuah daun dan seekor binatang ia bisa membuat ratusan pil semacam itu dg berbagai jenis dan tidak merusak lingkungan. Pil itulah makanan sehari-harinya, karena ia telah kehabisan bekal.
Suatu hari ia berhasil menyelesaikan sebuah robot assistant yg ia beri nama ''AsisLonev1''. Bentuknya seperti seorang manusia, memiliki otak mutasi dari gen binatang shg ia bisa berpikir, dan tanpa bahan bakar ataupun baterai. Prizega menganggap robot itu sbg teman dan asistant dalam segala hal. Suatu ketika, AsisLonev1 mengalami kerusakan di bagian otak. Prizega kembali dalam kesendirian, ia belum bisa memperbaiki robot itu.
Di lain sisi, ada sekelompok peneliti muda yg akan mengadakan penelitian di dekat rumah Prizega selama seminggu. Seminggu pun berlalu tak terasa, penelitian gagal karena ada gangguan karena gelombang udara asing dan mereka memutuskan kembali pulang. Saat seorang peneliti masih menyibukkan diri, tanpa sadar ia telah di tinggal oleh rekan-rekannya. Karena dirinya tengah disibukkan oleh penelitian fosil-fosil purba, tak lama kemudian ia teringat rekan-rekannya. Sarmiento segera mencari mereka, ia telah ditinggalkan oleh rekan-rekan yang juga sama sekali tak ingat dirinya.
Hari esok telah tiba dengan cepatnya. Pagi yang cerah, Sarmiento mencoba mengajak bicara para penghuni alam yang cukup mencekam itu. Ia berbicara pada batu, burung, jerapah, gajah, kelinci, tikus, monyet, namun mereka semua tak mempedulikan Sarmiento. Ia berniat ingin melanjutkan penelitiannya namun ia terlalu kelaparan, bekalnya telah habis. Ia pun pergi membawa seluruh barang-barangnya dan mencari-cari apa yang bisa ia makan. Sekian jauhnya dan luasnya area tersebut, sampailah ia di sebuah gubuk tua yang disamping rumahnya ada berbagai jenis tanaman dan buah. Itu adalah tanaman hasil kultur jaringan yang berhasil dikembangkan oleh Prizega. Tanpa basa-basi lagi, Sarmiento memetik sebuah jeruk milik Prizega, namun ia tak tahu bahwa gubuk dan tanaman itu ada orang yang tinggal. Mendengar suara gemeresak, Prizega keluar dari gubuknya dan ia melihat ada seseorang telah memetik buah dari tanamannya. ''Hai, anak muda apa yang kau lakukan?'', tanya Prizega. Sarmiento terkejut dan ia menjawab, ''Maafkan saya Kek, saya kelaparan. Karena itu, saya memetik buah tanaman kakek.'' ''Lalu kenapa kau bisa disini? Dari mana kau tau tempat ini?'', sambung Prizega. ''Begini, kek. Seminggu yg lalu saya datang ke sini bersama beberapa rekan saya untuk melakukan penelitian di daerah ini. Namun, kemarin mereka telah kembali dan saya masih tertinggal di sini. Mereka meninggalkan saya, dan akhirnya saya kelaparan. Saya mencari makanan dan akhirnya sampai di sini.'', jelas anak muda itu. '' Baiklah, apakah kau mau tinggal bersama kakek di gubuk yang reot ini?'' kata Prizega. Sarmiento berkata, '' Baik kek. Saya mau tinggal di sini.'' Mereka berdua segera masuk ke dalam gubuk. Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh Sarmiento kepada Prizega tentang semua hasil penelitiannya. Sesekali dalam pandangannya yang tampak heran atas semua yang dimiliki oleh seorang kakek jenius. Dalam hatinya ia berkata bahwa Prizega pasti kakek paling jenius sedunia.
Semakin hari, semakin akrab. Prizega telah menganggap Sarmiento sebagai anaknya sendiri. Mereka berdua terus melakukan penelitian, siang malam tak mereka pedulikan. Tiada rasa sedih ataupun tertekan, semangatlah yg menggugah mereka untuk seperti ini. Sarmiento tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya, ''Em, kakek tau virus yang sedang menyerang di negara Soindural?''. ''Virus yang bagaimana, Nak?'' Prizega berbalik menanya. ''Virus itu sangat mematikan, kek. Sekali orang terjangkit, maka dalam waktu 1 jam ia akan segera mati. Apa kakek bisa membantu membuatkan vaksin atau obatnya?'' tanya Sarmiento. ''Mungkin, tapi apa kau sudah pernah menelitinya, Nak?'' terus Prizega. Anak muda menjawab, '' Ya, saya pernah menelitinya dan kebetulan saya masih membawa data-datanya.'' ''Baiklah, mari kita berjuang bersama.'' pekik kakek jenius itu. Kemudian, penelitian dan pembuatan vaksin dimulai. Seorang peneliti kimia dan seorang geologist tengah memadukan kejeniusannya. Akhirnya, 2 hari mereka berdua berhasil menyelesaikan misi yang sangat luar biasa itu.
Setelah puas atas segala hal yang ia dapat dari seorang kakek jenius yang gigih berjuang seorang diri di tengah sebuah hunian yang tak pernah dirambah siapapun itu. Sarmiento berniat hendak pulang dan mengajak kakek Prizega untuk ikut dengannya. Jurus rayuan gombal kini dilontarkan untuk kakek yang sangat ia kagumi itu. Butuh waktu yang tak sebentar untuk merayu kakek yang sangat kritis itu, karena ia selalu berpikiran apa yang akan terjadi. Akhirnya, Sarmiento berhasil membujuk dengan rayuan yang cukup dramatis. Mereka berdua diam-diam telah membuat sebuah kapsul terbang untuk dua penumpang, tanpa bahan bakar, tapi menyerap elektron-elektron sebagai energinya. Dan itulah yang mereka gunakan untuk pulang menuju rumah Sarmiento, di Parzojava.
Menakjubkan, dari sekian mil jarak yang ditempuh, mereka terbang hanya 1 jam satu menit lima puluh detik, wajarlah dengan kecepatan 200 mil/jam mereka terbang supercepat. Sarmiento dan Prizega mendarat dengan selamat dan tepat di depan rumahnya. Tetangga-tetangga Sarmiento terheran-heran melihat kapsul terbangnya. Sarmiento dan Prizega segera memasukkan barang-barangnya ke dalam rumah pribadi Sarmiento, jadi ia juga masih tinggal sendirian disana. Beruntung ada seorang kakek yang superhebat mau tinggal bersamanya, Prizega pun senang tinggal bersama Sarmiento. Hari sudah malam, mereka pun tidur dengan gunungan kecapekan.
Keesokan harinya, Sarmiento mengajak Prizega ke markas peneliti tempatnya bekerja. Sesampainya di sana, Sarmiento memperkenalkan kakek itu kepada rekan-rekannya. Rekan-rekannya pun terkejut setelah mendengar bahwa selama ia tertinggal di hutan, ia bertemu Prizega dan belajar banyak hal darinya dan ia pula yang menyelamatkan hidupnya. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa dan tentunya takkan terlupakan, itulah baginya. Di sana Prizega telah membawa obat antivirus dan obat penyembuh virus yang mematikan itu. Ia mempublikasikan di sebuah saluran televisi yang bekerja sama dengan markas peneliti tersebut. Seseorang yang terjangkit virus itu mencoba menelan pil tersebut dan terbukti sudah ia langsung sembuh dan hasilnya negative ketika di rontgen.Prizega mulai mendapat berbagai penghargaan dari markas peneliti dari hasil penelitiannya yang luar biasa. Sejak saat itulah, Prizega mulai terkenal sebagai kakek yang jenius. Bahkan dalam sebuah teknologi baru yang ia revolusikan elektron sebagai energi yang sangat berarti bagi kehidupan. Ingat, motivasi adalah keberhasilan. Dan keyakinan adalah pendukung keberhasilan itu. Walaupun terbuang, tetaplah berjuang. Itulah pesan terakhir yang Prizega sampaikan menjelang hembusan nafas terakhirnya sebelum ia wafat dalam usianya yang sudah menuntutnya kembali ke Tuhan.
__THE END__
Tuesday, February 15, 2011
- WAITING FOR MIRACLE OF NEW YEAR - [CERPEN] by Prayoga Ismail
^Menanti Keajaiban Tahun Baru^
Setiap juta detik yg berlalu, melulu lirih meluluh tanpa arti. Apakah surya kala ia memancang tak membuatmu merasakan sakit ini. Kilau cahaya putih yg bersembunyi di balik bayangku akan segera menyatu. Lantaran duka sukma menusuk bagai duri-duri yg tajam. Semua itu bisa membuatku MATI. Entah sampai kapan aku memikirkannya. Jiwaku yang akan pergi melayang. Jauh di atas bintang yang semakin redup cahayanya.
Waktu bukanlah penentu masa hidupku, Tuhanlah yg berkehendak. Ada benalu di pikiranku yg mengatakan aku akan mati. Mati, meninggalkan dunia yg penuh sengsara ini. Aku tidak boleh takut. Waktu yg datang, waktu yg pergi, membuat resah hidup ini. Tapi juga, waktu adalah teman dan jawaban atas berbagai teka-teki paradoks dalam diri yg semakin menjadi-jadi. Malam pun tiba, seberkas cahaya indah yg bergelantung menghiasi langit2 mulai berpencar berwujud suatu bentuk yg unik. Bulan yg memantulkan cahayanya membuat mataku mengantuk dan aku pun tertidur memandangnya. Hikh..hikh..hikh.. Aku terbangun dari tidur malam yg tak lelap, dan terbatuk. Darah yg keluar memerahkan pikiranku yg semakin tak menentu. Aku mendengar jerit histeris organ2 tubuhku yg semakin sakit keras.
Eiga, janganlah kau menambah sesak dadaku dengan tangismu. Aku ingin kau menemaniku selalu. Tenang saja, tak lama lagi sayangku. Kini ku sedikit beranjak dari kasur putih bergambar strawberry, berdiri menuju jendela 'tuk melihat takjubnya sawah2 yg menguning di samping rumahku.
Ibu, obat itu pahit terasa. Aku tak mau meminumnya
lagi, buang saja. Perlahan, pipiku banjir dg air mata yg mengucur deras. Semua terasa sakit, bahkan makanan yg kutelan pasti kumuntahkan lagi. Aku tak mampu melawan rombakan penyakit ini.
Usai sarapan pagi, kepalaku sangat pusing dan aku
terjatuh. Kelargaku panik, mereka membawaku ke RS terdekat yg cukup baik pelayanannya. Sesaat, dokter berwajah Chinese itu keluar dari ruang UGD, dan menerangkan bahwa aku terkena penyakit parah dan ganas, secepatnya harus di operasi. Ibuku sontak menangis dan memelukku yg masih koma. Sungguh, inikah akhir hidupku ? Inikah akhir kisah2 yg kuukir bersama sahabatku ?
Malam, kini kau datang menemuiku lagi. Kilau cahaya kuning telah sirna dari pandangku yang agak kabur. Derap suara jangkrik dan hewan kecil lain mulai melantunkan suara khasnya. Daun-daun kering yg terjun begitu saja, menandakan segenap rutinitas terhenti walau sejenak. Harimau malam meraum dan kunang-kunang berkedip-kedip menyorotkan sinarnya, seolah ingin menemaniku dalam kesepian ini. Menunggu, tanpa kepastian. Ya, hanya itulah yg bisa kulakukan saat ini, saat aku terbaring lemah dengan tubuh kaku nan menggigil. Entah apa yang bisa kutunggu, aku tak tahu. Dari bilik jendela bergandar itu, aku dikejutkan dengan gulungan kertas yg tiba-tiba saja jatuh di atas kasur. Aku memungut dan membacanya yg berisi ''Tahun Baru adalah keajaiban bagi dirimu, percayalah dengan keajaiban''. Aku bingung apa maksud surat itu lantas siapa pula yg melemparkannya kepadaku, ahh.. Aku semakin pusing. Keadaan yg semakin parah tak membuatku lengah, aku sempatkan
menulis sesuatu di buku harian bercorak bunga
matahari kesayanganku. Banyak kata yg kugoreskan
dg tinta hitam ini akan mengingatkan tentang diriku,
esok akan kuberikan kepada Eiga.
Tujuh hari sudah aku menginap opname di RS, namun Eiga belum pernah menjengukku kemari, aku rindu sekali dengannya. Apa mungkin dia tak tahu aku opname di RS ? Ataukah dia meninggalkanku karena penyakitku yang semakin parah ini? Malam, aku bertanya dan mengadu padamu ? Kenapa kau tak menjawabku ? Sisipan kalbu masihkah tersisa untuk Tahun Baru nanti ? Ataukah sebatas nista yg membara penuh kegorehan ? Penuh dengan pertanyaan paradoks menjelang ajalku. Kokok ayam jantan t'lah berkumandang, menggema, meriuh dan menggebu suasana pagi.
Sosok tatapanmerah kekuningan sang bintang mulai menyongsong hari. Semua rutinitas kembali beraksi, menyisir jalan-jalan rusak demi mengejar lowongan kerja atau sekedar untuk memburu sesuap nasi. Hari ini aku merasa sedikit enak badan dan aku diperbolehkan pulang. Sampai di rumah aku kembali terbaring lemah di kasur yang 7 hari aku tinggalkan. Siang pun memancang tepat di atas kepala yg seakan retak karena panasnya yg begitu menyengat dan tak bersekat. Usai makan siang, tiba-tiba ada yg mengetuk pintu depan dan ibu pun membukakannya. Surprise, lihat siapa yang datang. Ternyata Eiga datang menjengukku bersama teman2 dan satu orang yg sejak dulu ingin ku bertemu dengannya, Jonathan. Sedari dulu aku mengidolakan Jonathan yg keren dan bersuara merdu itu. Aku senang dan tak menyangka mereka datang, terutama Eiga dan Jonathan. Mereka membawa plakat dan semacam kado untukku yang sangat berarti bagiku. Mereka pun memberiku semangat untuk berjuang mencapai kesembuhan. Rasa empati dan simpati yang begitu besar kurasakan memancar secara radiatif dari support mereka. Beberapa jam sudah mereka duduk di sampingku dengan disuguhi jus apel dan biskuit kelapa. Semangat yg mereka berikan membuat diriku memberanikan diri untuk operasi. Karena hanya itulah jalan satu-satunya untuk mencapai kesembuhan.
Sesaat kemudian, akhirnya mereka
pulang. Sebelum pulang, aku meminta Jonathan untuk menyanyikan lagu yg paling kusuka, oooh... Suaranya indah sekali. Semua pun pulang kecuali Eiga yang ingin menemaniku seharian. Aku pun diajak berbincang kesana kemari dengannya. Malam tiba, Eiga kembali pulang. Kini suasana rumah sunyi sepi. Rasa rindu dan cinta seakan menusuk jantungku lagi. Dini hari sekitar pukul 03.00 di rumah, tiba-tiba suhu tubuhku naik drastis dan batuk darah pula terulang kembali. Rasanya aku tak kuat lagi menopang sakit ini. Ayah menggendongku menuju ke RS itu lagi. Ibu sangat khawatir dengan keadaanku sekarang. Kata dokter, aku harus segera di operasi. Sebelum operasi, aku menitipkan buku harianku kepada Eiga. Permintaan terakhirku hanyalah ingin bertemu Eiga seorang. Operasi akan berlangsung selama 3-4 jam. Selama itu pula semua orang yang mengantarku berdo'a demi keberhasilan operasiku. Saatnya telah tiba, dokter pun mulai membiusku dengan suntikan obat penenang. Ketegangan mulai hinggap di benakku, tiba-tiba aku teringat gulungan kertas kemarin dan aku berharap itu terjadi padaku. Menanti keajaiban. Akhirnya, 4 jam berlalu begitu cepat. Tim dokter segera memindahkanku dari ruang operasi ke ruang perawatan. Semua menunggu dengan was-was dan terlihat cemas. Sampai dokter menyatakan bahwa operasiku BERHASIL. Semua tampak lega dan bersyukur kepada Tuhan. Mereka pun segera masuk dan melihat keadaanku yang masih lemas. Eiga duduk di samping kiri, ayah dan ibu duduk di samping kanan, Jonathan pun datang lagi. Semua terharu, Eiga memeluk erat diriku bergantian setelah orang tuaku.
Sembuh total bisa kudapatkan dengan istirahat cukup dan matuhi anjuran dokter serta minum obat dengan teratur. Terima kasih Tuhan, aku selalu percaya padamu dan keajaiban yang kau kirimkan kepadaku. Entah siapapun yg melemparkan kertas itu, ialah malaikat penyelamat hidupku yg selalu ada di hatiku. Kan kuingat kejadian kemarin sebagai cobaan. Tuhan, kau telah memberiku kesempatan hidup lagi. Hidup kedua ini, aku akan berusaha menjadi yang terbaik. Malam ini adalah malam Tahun Baru. Aku berharap keajaiban Tahun Baru ini tidak hanya datang padaku, semoga juga bagi semua orang. Malam yang indah penuh dengan meriah. Sekarang pukul 23.00, satu jam lagi akan terjadi pergantian tahun. Aku ingin merayakannya walau sederhana saja. Menanti keajaiban adalah motivasi untuk percaya dan berusaha.
~ THE END ~
LIKE IT YA!!! :)
Setiap juta detik yg berlalu, melulu lirih meluluh tanpa arti. Apakah surya kala ia memancang tak membuatmu merasakan sakit ini. Kilau cahaya putih yg bersembunyi di balik bayangku akan segera menyatu. Lantaran duka sukma menusuk bagai duri-duri yg tajam. Semua itu bisa membuatku MATI. Entah sampai kapan aku memikirkannya. Jiwaku yang akan pergi melayang. Jauh di atas bintang yang semakin redup cahayanya.
Waktu bukanlah penentu masa hidupku, Tuhanlah yg berkehendak. Ada benalu di pikiranku yg mengatakan aku akan mati. Mati, meninggalkan dunia yg penuh sengsara ini. Aku tidak boleh takut. Waktu yg datang, waktu yg pergi, membuat resah hidup ini. Tapi juga, waktu adalah teman dan jawaban atas berbagai teka-teki paradoks dalam diri yg semakin menjadi-jadi. Malam pun tiba, seberkas cahaya indah yg bergelantung menghiasi langit2 mulai berpencar berwujud suatu bentuk yg unik. Bulan yg memantulkan cahayanya membuat mataku mengantuk dan aku pun tertidur memandangnya. Hikh..hikh..hikh.. Aku terbangun dari tidur malam yg tak lelap, dan terbatuk. Darah yg keluar memerahkan pikiranku yg semakin tak menentu. Aku mendengar jerit histeris organ2 tubuhku yg semakin sakit keras.
Eiga, janganlah kau menambah sesak dadaku dengan tangismu. Aku ingin kau menemaniku selalu. Tenang saja, tak lama lagi sayangku. Kini ku sedikit beranjak dari kasur putih bergambar strawberry, berdiri menuju jendela 'tuk melihat takjubnya sawah2 yg menguning di samping rumahku.
Ibu, obat itu pahit terasa. Aku tak mau meminumnya
lagi, buang saja. Perlahan, pipiku banjir dg air mata yg mengucur deras. Semua terasa sakit, bahkan makanan yg kutelan pasti kumuntahkan lagi. Aku tak mampu melawan rombakan penyakit ini.
Usai sarapan pagi, kepalaku sangat pusing dan aku
terjatuh. Kelargaku panik, mereka membawaku ke RS terdekat yg cukup baik pelayanannya. Sesaat, dokter berwajah Chinese itu keluar dari ruang UGD, dan menerangkan bahwa aku terkena penyakit parah dan ganas, secepatnya harus di operasi. Ibuku sontak menangis dan memelukku yg masih koma. Sungguh, inikah akhir hidupku ? Inikah akhir kisah2 yg kuukir bersama sahabatku ?
Malam, kini kau datang menemuiku lagi. Kilau cahaya kuning telah sirna dari pandangku yang agak kabur. Derap suara jangkrik dan hewan kecil lain mulai melantunkan suara khasnya. Daun-daun kering yg terjun begitu saja, menandakan segenap rutinitas terhenti walau sejenak. Harimau malam meraum dan kunang-kunang berkedip-kedip menyorotkan sinarnya, seolah ingin menemaniku dalam kesepian ini. Menunggu, tanpa kepastian. Ya, hanya itulah yg bisa kulakukan saat ini, saat aku terbaring lemah dengan tubuh kaku nan menggigil. Entah apa yang bisa kutunggu, aku tak tahu. Dari bilik jendela bergandar itu, aku dikejutkan dengan gulungan kertas yg tiba-tiba saja jatuh di atas kasur. Aku memungut dan membacanya yg berisi ''Tahun Baru adalah keajaiban bagi dirimu, percayalah dengan keajaiban''. Aku bingung apa maksud surat itu lantas siapa pula yg melemparkannya kepadaku, ahh.. Aku semakin pusing. Keadaan yg semakin parah tak membuatku lengah, aku sempatkan
menulis sesuatu di buku harian bercorak bunga
matahari kesayanganku. Banyak kata yg kugoreskan
dg tinta hitam ini akan mengingatkan tentang diriku,
esok akan kuberikan kepada Eiga.
Tujuh hari sudah aku menginap opname di RS, namun Eiga belum pernah menjengukku kemari, aku rindu sekali dengannya. Apa mungkin dia tak tahu aku opname di RS ? Ataukah dia meninggalkanku karena penyakitku yang semakin parah ini? Malam, aku bertanya dan mengadu padamu ? Kenapa kau tak menjawabku ? Sisipan kalbu masihkah tersisa untuk Tahun Baru nanti ? Ataukah sebatas nista yg membara penuh kegorehan ? Penuh dengan pertanyaan paradoks menjelang ajalku. Kokok ayam jantan t'lah berkumandang, menggema, meriuh dan menggebu suasana pagi.
Sosok tatapanmerah kekuningan sang bintang mulai menyongsong hari. Semua rutinitas kembali beraksi, menyisir jalan-jalan rusak demi mengejar lowongan kerja atau sekedar untuk memburu sesuap nasi. Hari ini aku merasa sedikit enak badan dan aku diperbolehkan pulang. Sampai di rumah aku kembali terbaring lemah di kasur yang 7 hari aku tinggalkan. Siang pun memancang tepat di atas kepala yg seakan retak karena panasnya yg begitu menyengat dan tak bersekat. Usai makan siang, tiba-tiba ada yg mengetuk pintu depan dan ibu pun membukakannya. Surprise, lihat siapa yang datang. Ternyata Eiga datang menjengukku bersama teman2 dan satu orang yg sejak dulu ingin ku bertemu dengannya, Jonathan. Sedari dulu aku mengidolakan Jonathan yg keren dan bersuara merdu itu. Aku senang dan tak menyangka mereka datang, terutama Eiga dan Jonathan. Mereka membawa plakat dan semacam kado untukku yang sangat berarti bagiku. Mereka pun memberiku semangat untuk berjuang mencapai kesembuhan. Rasa empati dan simpati yang begitu besar kurasakan memancar secara radiatif dari support mereka. Beberapa jam sudah mereka duduk di sampingku dengan disuguhi jus apel dan biskuit kelapa. Semangat yg mereka berikan membuat diriku memberanikan diri untuk operasi. Karena hanya itulah jalan satu-satunya untuk mencapai kesembuhan.
Sesaat kemudian, akhirnya mereka
pulang. Sebelum pulang, aku meminta Jonathan untuk menyanyikan lagu yg paling kusuka, oooh... Suaranya indah sekali. Semua pun pulang kecuali Eiga yang ingin menemaniku seharian. Aku pun diajak berbincang kesana kemari dengannya. Malam tiba, Eiga kembali pulang. Kini suasana rumah sunyi sepi. Rasa rindu dan cinta seakan menusuk jantungku lagi. Dini hari sekitar pukul 03.00 di rumah, tiba-tiba suhu tubuhku naik drastis dan batuk darah pula terulang kembali. Rasanya aku tak kuat lagi menopang sakit ini. Ayah menggendongku menuju ke RS itu lagi. Ibu sangat khawatir dengan keadaanku sekarang. Kata dokter, aku harus segera di operasi. Sebelum operasi, aku menitipkan buku harianku kepada Eiga. Permintaan terakhirku hanyalah ingin bertemu Eiga seorang. Operasi akan berlangsung selama 3-4 jam. Selama itu pula semua orang yang mengantarku berdo'a demi keberhasilan operasiku. Saatnya telah tiba, dokter pun mulai membiusku dengan suntikan obat penenang. Ketegangan mulai hinggap di benakku, tiba-tiba aku teringat gulungan kertas kemarin dan aku berharap itu terjadi padaku. Menanti keajaiban. Akhirnya, 4 jam berlalu begitu cepat. Tim dokter segera memindahkanku dari ruang operasi ke ruang perawatan. Semua menunggu dengan was-was dan terlihat cemas. Sampai dokter menyatakan bahwa operasiku BERHASIL. Semua tampak lega dan bersyukur kepada Tuhan. Mereka pun segera masuk dan melihat keadaanku yang masih lemas. Eiga duduk di samping kiri, ayah dan ibu duduk di samping kanan, Jonathan pun datang lagi. Semua terharu, Eiga memeluk erat diriku bergantian setelah orang tuaku.
Sembuh total bisa kudapatkan dengan istirahat cukup dan matuhi anjuran dokter serta minum obat dengan teratur. Terima kasih Tuhan, aku selalu percaya padamu dan keajaiban yang kau kirimkan kepadaku. Entah siapapun yg melemparkan kertas itu, ialah malaikat penyelamat hidupku yg selalu ada di hatiku. Kan kuingat kejadian kemarin sebagai cobaan. Tuhan, kau telah memberiku kesempatan hidup lagi. Hidup kedua ini, aku akan berusaha menjadi yang terbaik. Malam ini adalah malam Tahun Baru. Aku berharap keajaiban Tahun Baru ini tidak hanya datang padaku, semoga juga bagi semua orang. Malam yang indah penuh dengan meriah. Sekarang pukul 23.00, satu jam lagi akan terjadi pergantian tahun. Aku ingin merayakannya walau sederhana saja. Menanti keajaiban adalah motivasi untuk percaya dan berusaha.
~ THE END ~
LIKE IT YA!!! :)
Subscribe to:
Posts (Atom)