Remang, jerit sekikil batu yang terlempar sambu
Hempas bayu menyiratkan dedaunan kering yang menggumpal
Satu, dua, detik demi detik loji pasir membolak-balik tubuh rampingnya
Terdengar kabar goreh jamban kehidupan sepantang
Retikan gerimis yang bersimphoni dengan dedauna hijan menginspirasi
Terbuang, diriku memang. Mustahil bagi kalian
Namun, sebuah pesan dari pena mungil yang kehausan tinta
Katanya, ia juga mengemis akan keadilan hidup..
Mencari sebuah jawaban, menelisik masa lalu
Bersahabat dengan waktu, sedih menyepi sendiri
Bersandar di bawah payung rumpang dan kain gombal
Dan seorang teman setia, engkau langit
Aku harus bisa, tanganku adalah sayap, kakiku setumpuk harap
Setiap kata mutiara yang terucap, mengadukan buih-buih nista, mencuri-curi pandang
Kala ku pandang sebutir bintang malam itu
Aku berbagi cerita padanya, memberi arti hidupnya
Hari benar-benar sudah memberontak, kelam
Orang-orang mulai menelusur jalan-jalan desa membawa teplok kesombongan
Sementara aku, apa yang kupunya???
Selain secarik kertas dan pena kurus yang mulai tersedak
Aku mulai menggores sebongkah kata dan berkisah
Menggeluti semua penghalang-penghalangku
Mencari sumber energi dengan inspirasi
Ku tatap nenar sorot tajam langit gempar
Ku teriakkan sederet frasa yang menggema
Aku ingin menembus langit, dan menjadi satu-satunya
Walau derita dupa panah-panah menusuk bingkai tulangku
Sekalipun jiwa ragaku harus ku pertaruhkan
Pun melemparkan sekanting darah penghabisan
Horison langit malam, adalah saksi yang pertama
Dan untuk terakhir kalinya. . .
No comments:
Post a Comment