Sirna, elak ludah yang kian terbesut oleh laring
Menyematkan sebutir tapal yang terendam
Mendengar kabar di balik bulan yang berlekuk
Menandakan dirinya yang teramat malu
Akan mozaik yang retak gemeretak sebingkah
Hidupmu pula hidupmu
Celoteh ilalang yang kian melapuk tergusur alir hujan
Deretan hijau yang terbentang
Sepanjang jalan dan garis perbatasan
Kini tak mampu lagi ia merunta
Oleh tingkah-tingkah beringas nan kejam
Yang dulu menjadi kawan
Tak pernah lagi kudengar sayupmu
Senandungmu kepada langit sebagai gantungan amarahmu, dan tempat membuyar segala hitamku
Janji setiamu yang kian meragu, yang kian rapuh terbias hempas sudra ilalang
Begitu mudah patahmu, begitu senat bicaramu
Kala kudengar peraduan anyir bingar sore itu
Di tengah pelayar semburat kuning yang hampir tenggak di balik gunung
Kalau ku tahu, hujan rintah darah adalah tangismu dan senandung terakhirmu
Kan ku lahap lendir-lendir yang berselimut dalam daging yang menggelonggong
Kan ku basuh muka hina ini dengan embun-embun yang kau tebarkan
Tiba-tiba saja, sosok sejati mencuat dari gersangnya humus
Sebagian lagi jatuh terkapar dari petir yang menghantar
Detik terakhir antara hidup dan matimu
Menyatu dengan simphoni yang kian terpejam, luluh bersama ragaku
Lalu, jeritan-jeritan maut yang terdengar menjemput nyawamu
Hujan kembali menitikkan air matanya
Lalu, tumbuh secercah ilalang terbang yang merindang
Dari relung nadiku, dan dari serambi jantungku, menaungi dunia
Rimba berdentang untuk langit lebam
No comments:
Post a Comment