Saturday, April 9, 2011

^^^SENANDUNG ILALANG^^^|by Angkasa Yoga Inspira

Sirna, elak ludah yang kian terbesut oleh laring

Menyematkan sebutir tapal yang terendam

Mendengar kabar di balik bulan yang berlekuk

Menandakan dirinya yang teramat malu

Akan mozaik yang retak gemeretak sebingkah

Hidupmu pula hidupmu

Celoteh ilalang yang kian melapuk tergusur alir hujan

Deretan hijau yang terbentang

Sepanjang jalan dan garis perbatasan

Kini tak mampu lagi ia merunta

Oleh tingkah-tingkah beringas nan kejam

Yang dulu menjadi kawan

Tak pernah lagi kudengar sayupmu

Senandungmu kepada langit sebagai gantungan amarahmu, dan tempat membuyar segala hitamku

Janji setiamu yang kian meragu, yang kian rapuh terbias hempas sudra ilalang

Begitu mudah patahmu, begitu senat bicaramu

Kala kudengar peraduan anyir bingar sore itu

Di tengah pelayar semburat kuning yang hampir tenggak di balik gunung

Kalau ku tahu, hujan rintah darah adalah tangismu dan senandung terakhirmu

Kan ku lahap lendir-lendir yang berselimut dalam daging yang menggelonggong

Kan ku basuh muka hina ini dengan embun-embun yang kau tebarkan

Tiba-tiba saja, sosok sejati mencuat dari gersangnya humus

Sebagian lagi jatuh terkapar dari petir yang menghantar

Detik terakhir antara hidup dan matimu

Menyatu dengan simphoni yang kian terpejam, luluh bersama ragaku

Lalu, jeritan-jeritan maut yang terdengar menjemput nyawamu

Hujan kembali menitikkan air matanya

Lalu, tumbuh secercah ilalang terbang yang merindang

Dari relung nadiku, dan dari serambi jantungku, menaungi dunia

Rimba berdentang untuk langit lebam

No comments:

Post a Comment