Sunday, March 13, 2011

>> CURAH LANGIT YANG TERBUNGKUK << |by Prayoga Ismail

>> CURAH LANGIT YANG TERBUNGKUK <<

Terbinar semu di pandangan lengki berderi tanpa henti..

Mencari sebatang kara, yang tertunduk menanti presipitasi..

Jerat kekuasaan yang membasuh muka-muka pucat petinggi negara..

Kini yang bertapa, berjuasi bertutur gamang menusuk..

Terbias garis tepi pantai dengan ombak yang sejak 7 harinya menjerit-jerit..

Menyemat sasar hati terselimuti hangatnya angin malam, yang tertindas penuh luka..

Yang Maha Kuasa, berpijak di atas sorbia-sorbia pasir putih rintah darah menghentikan goyah lidahku, aku mengemis kepada-Mu..

Kenapa Engkau menangis? Kenapa?kenapa?

Ini bukan waktu yang tepat, ini baru menit ke lima puluh empat aku menegakkan diriku yang cacat..

Aku tau, gemerka seka berjingka pekik menyeka kesunyian malam..

Dua satu satu dua dua tiga nol nol tujuh enam satu lima empat lima enam satu..

Kering perlahan, bukit dan kerajaan runtuh sebar terbenda..

Surat juris gugur tercecar diterpa angin, tergulung pula oleh jeritan ombak yang menderap merenggut kuasanya..

Langit yang kelam, tak ada lagi sebutir bintang yang bergelantungan, bulan pun telah bercerai semalam..
Jejak-jejak kebohonganmu berkabut dan terbenam semu..

Gelap, gulita, nestapa, segalanya terlihat mendusta..

Mata ku buta karenanya, meski tubuhku cacat gemerat dan terbuang..

Aku akan meniti jui, menjadi lilin yang bersinar, menghias blantika langit..

Langit, jangan kau berputus asa. Memang nasib yang mempertemukan kita jua..

Jangan biarkan mendung menghempas
keyakinan, dan merobek kekuatanmu..

Satu kekuatan luar biasa akan terlahir dari keyakinan diri sendiri..

Ingat, 7 hari yang lalu semua menangis darah meratap sirna diriku..

Tapi, keyakinan masih tetap hidup dan memberiku kehidupan baru..

Detak jarum jam yang terus berputar, penanda waktu masih bersabar..

Bersabar demi aku, sampai aku bisa menembus langit..

Entah kapan saat itu tiba??????????

Tertulis di buku catatan tuaku yang sudah menua penuh debu..

Hanya seseorang yang bisa mengertinya..

Dialah orang yang jua senasib dengan kita, langit..

Dia akan mewujudkannya, dia bisa menembus langit..

Menjadi seperti diriku yang tak henti berjuang mengemis keadilan hidup..

Di curah-curah langit yang semakin terbungkuk..

Meskipun hati ini menentang dan bergeming di sisi redup angan-angannya..

Perlahan, gegaran angin yang meniup-niup segalanya, kini jua berkusi perdi akan penyesalan..

Hidup, bukanlah penyesalan. Tapi, untuk menjadi yang terbaik..
Demi waktu, demi jerit-jerit ombak, dan demi langit yang semakin terpuruk, aku tak sanggup..

Kematian sudah merenggut merebak membunuh diriku..

Dia pasti bisa, karena aku akan terus menjadi gerobak yang membentang di langit, membantu dirinya seorang..

2 comments:

  1. Bagus bgt,, cerpen kamu yg baru mana??? Judulnya apa???

    ReplyDelete
  2. Sabar y, Vin.. In the process of making, entitled 'Menembus Langit'. Coming soon!! Thanks for visit, Alvin :)

    ReplyDelete