INDONESIA TERLUNTA-LUNTA
‘Angkasa Yoga Inspira’
Indonesia tanah air beta
Apa kabarmu Indonesiaku???
Masihkah engkau mengingat masa-masa itu?
Masa disaat bercucuran darah nan rembah, tak kuasa menggempah, merah mewarna
Sayap garuda yang patah dan dicabuli bulu-bulunya oleh orang-orangnya
Berdiri pada setumpu kaki yang retak tulang-tulangnya, putih kuasnya
Di sana, tangan-tangan pengemis menengadah, kecewa kepadamu, Indonesiaku
Ribuan liter tangis air mata yang terlanjur bergantung padamu, dan yang mengabdi sebagai babu, Indonesiaku
Kala ku teropong satu per satu sudut kota, kudapati gedung-gedung menjulang rapuh
Berbeda dengan yang lalu, setiap hari bergonta-ganti layar percintaan, pendidikan dihancurkan olehnya
Kebebasan yang tak terbatas, menjerumuskan dirimu pada lingkup global yang mengganas, Indonesiaku
Pula, tertancap kuat di seremoni jalan-jalan beraspal, kibas-kibas terpa sang bendera
Namun jangan kau salah arah, itu bukan bendera Indonesia, melainkan wajah-wajah hina petinggi negara yang bertuliskan janji-janji belaka
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Jujur, aku malu menjadi penerusmu,
Ke mana pun ku langkahkan kedua kakiku pasti ku dengar cercaan bangsa barat, bangsa mutakhir teknologinya
Indonesia, ke mana aku harus pergi? Jika engkau tak seperti dulu lagi
Sudahkah kau puas akan semua itu, juara korupsi se-Asia, bandar narkoba terlaris di dunia
Ataukah mau tanduk dengan perilaku hina wakil-wakil rakyat, yang tak pantas mereka lakukan
Gudang-gudang semangat kini hangus terbakar oleh nasonalisme yang kian memudar
Pun angin segar telah tercemar oleh persepsi yang terbolak-balik, carut-marut tak menentu
Sadarlah, Indonesiaku! Benahi dirimu!
Tak ada gunanya ku lantunkan sederet peraduan di sepanjang khatulistiwa, hanya menjadi peredam kecil dari kebisingan
Jangan berhenti berbuat, itu yang kau kata, itu yang kau dusta
Merah jadi putih, dari keberanian menjadi ketakutan, itulah Indonesia
Putih bercampur merah, dari kesucian ternoda oleh darah yang mengucur deras karena kecelakaan yang kau perbuat
Indonesia, di zaman ini dan di abad ini, cukuplah kegilaanmu selama ini
Sadarkanlah dirimu, dari kendali hipnotis alam bawah sadarmu, Indonesia
Berkacalah pada beling-beling nista, pertiwi yang merunta-runta, sekarat
Janganlah kau tenggak arak kebohongan, dan bertobatlah pada Tuhan
Apakah kau ingin berubah? Ataukah kau ingin dirubah, oleh jajahan dunia maya
Musnah, diriku akan segera lenyap bersama tujuh bidadari langit yang telah lelah menasihatimu!
Jika kau mampu tabah, ku yakin kau pasti tergugah
Indonesia, jika kau masih terus semena-mena, dan tidak mau berbenah,
Lebih baik kita berpisah. . .
Ingatlah Indonesiaku, mutiara emasmu hampir saja diserobot tetanggamu
Karena itu, aku inginkan Indonesiaku seperti dulu lagi
Kobar semangat, bara api menyala-nyala dalam sehelai kain putih kesucian
Pemimpin negara yang adil dan bijaksana, menginspirasi segenap pena-pena mungil untuk kembali menggoreskan tinta untuk Indonesia
Indonesia tanah airku, sabdaku hanya untukmu, dan sirnaku ada di batinmu
Tuhan, jangan kau cabut Indonesiaku
Dari dalam hatiku. . .
No comments:
Post a Comment