Monday, April 11, 2011

§ INDONESIA TERLUNTA-LUNTA §

INDONESIA TERLUNTA-LUNTA
‘Angkasa Yoga Inspira’

Indonesia tanah air beta

Apa kabarmu Indonesiaku???

Masihkah engkau mengingat masa-masa itu?

Masa disaat bercucuran darah nan rembah, tak kuasa menggempah, merah mewarna

Sayap garuda yang patah dan dicabuli bulu-bulunya oleh orang-orangnya

Berdiri pada setumpu kaki yang retak tulang-tulangnya, putih kuasnya

Di sana, tangan-tangan pengemis menengadah, kecewa kepadamu, Indonesiaku

Ribuan liter tangis air mata yang terlanjur bergantung padamu, dan yang mengabdi sebagai babu, Indonesiaku

Kala ku teropong satu per satu sudut kota, kudapati gedung-gedung menjulang rapuh

Berbeda dengan yang lalu, setiap hari bergonta-ganti layar percintaan, pendidikan dihancurkan olehnya

Kebebasan yang tak terbatas, menjerumuskan dirimu pada lingkup global yang mengganas, Indonesiaku

Pula, tertancap kuat di seremoni jalan-jalan beraspal, kibas-kibas terpa sang bendera

Namun jangan kau salah arah, itu bukan bendera Indonesia, melainkan wajah-wajah hina petinggi negara yang bertuliskan janji-janji belaka


Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku

Jujur, aku malu menjadi penerusmu,

Ke mana pun ku langkahkan kedua kakiku pasti ku dengar cercaan bangsa barat, bangsa mutakhir teknologinya

Indonesia, ke mana aku harus pergi? Jika engkau tak seperti dulu lagi

Sudahkah kau puas akan semua itu, juara korupsi se-Asia, bandar narkoba terlaris di dunia

Ataukah mau tanduk dengan perilaku hina wakil-wakil rakyat, yang tak pantas mereka lakukan

Gudang-gudang semangat kini hangus terbakar oleh nasonalisme yang kian memudar

Pun angin segar telah tercemar oleh persepsi yang terbolak-balik, carut-marut tak menentu
Sadarlah, Indonesiaku! Benahi dirimu!

Tak ada gunanya ku lantunkan sederet peraduan di sepanjang khatulistiwa, hanya menjadi peredam kecil dari kebisingan

Jangan berhenti berbuat, itu yang kau kata, itu yang kau dusta

Merah jadi putih, dari keberanian menjadi ketakutan, itulah Indonesia

Putih bercampur merah, dari kesucian ternoda oleh darah yang mengucur deras karena kecelakaan yang kau perbuat

Indonesia, di zaman ini dan di abad ini, cukuplah kegilaanmu selama ini

Sadarkanlah dirimu, dari kendali hipnotis alam bawah sadarmu, Indonesia

Berkacalah pada beling-beling nista, pertiwi yang merunta-runta, sekarat

Janganlah kau tenggak arak kebohongan, dan bertobatlah pada Tuhan

Apakah kau ingin berubah? Ataukah kau ingin dirubah, oleh jajahan dunia maya

Musnah, diriku akan segera lenyap bersama tujuh bidadari langit yang telah lelah menasihatimu!

Jika kau mampu tabah, ku yakin kau pasti tergugah

Indonesia, jika kau masih terus semena-mena, dan tidak mau berbenah,

Lebih baik kita berpisah. . .


Ingatlah Indonesiaku, mutiara emasmu hampir saja diserobot tetanggamu

Karena itu, aku inginkan Indonesiaku seperti dulu lagi

Kobar semangat, bara api menyala-nyala dalam sehelai kain putih kesucian

Pemimpin negara yang adil dan bijaksana, menginspirasi segenap pena-pena mungil untuk kembali menggoreskan tinta untuk Indonesia

Indonesia tanah airku, sabdaku hanya untukmu, dan sirnaku ada di batinmu

Tuhan, jangan kau cabut Indonesiaku

Dari dalam hatiku. . .

No comments:

Post a Comment