BANGUN PAGI
Saat mentari memulai hari
Dari ufuk timur ia melepas selimut, untuk mandi di parit nan sempit
Sembari menilik arloji yang bersandar di atas bukit dan gambar diri
Kau berhenti sesaat menghitung-hitung waktu
Ternyata kau bangun sepagi itu
Belum terdengar kokok pejantan dari kandang belakang rumah
Dan genta bedug subuh menyusul dibunyikan
Tak usah bingung, lebih baik bangun pagi daripada selama ini
Barangkali kau mau mengambil air wudlu dari pancuran
Dan sembahyang subuh sebelum mengirim doa
Piring nasi dan sendok-sendok kecil pun telah menanti untuk kau mandi
Lihatlah hamparan daun-daun kering yang berguguran jua menanti untuk kau goyahkan sapu-sapu lidi
Menikmati udara yang sejuk ini, lumayan untuk menggganjal pelangi
Sementara kau masih tertegun memandang belantara sawah nan hijau
Bukankah kau bangun sepagi ini untuk membantu orang tuamu
Mencetak batu bata, merajang sayur di dapur, atau mencuci baju-baju lusuh
Segeralah bergegas menuju pesta kerja
Sebelum waktu menutup pintu, sebelum matahari setinggi bahu
Bangun pagi, besok lagi dan lain kali.
No comments:
Post a Comment