Tahukah kau, mengapa langit berwarna biru?
Aku pun tak tahu, hanya sedikit saja kutahu
Langit berwarna biru, sebab ia iri pada samudera
Yang juga berwarna biru
Dari ketinggian ia terus memandang
Ada juga yang berkata, langit kian berpendar
Jauh dari teropong bintang yang menjadi pengamat angsa-angsa bisa terbang
Menyusur belantara dan belum juga berbalas
***
Apakah semburat yang memecah di langit
Kan tetap menyatu pada bayang-bayang semu
Yang dulu pernah terurai di sebuah buku lawas
Di sana jelas terkemas
Oleh bias tangis yang mereda
Di tengah perebutan podium sengsara
***
Sementara di belahan bumi utara
Kudapati jeritan bayi-bayi penguin
Erangan makin keras
Ke dengar menyesali akan hidupnya
Bahkan terdengar dari puncak kemajuan
***
Mengapa langit berwarna biru?
Tidak hitam, putih, atau warna magis
Terbias bayu utara kembali ke jurang atlantis
Sempat ku menatap, hingga mata ini mengeluarkan tangis
Padahal langit berwarna biru
Tapi, biru adalah warna yang pantas
Untuk menaungi dunia yang makin panas
Saking panasnya, artis-artis ikut panas
Dalam kamar diskotik setiap Kamis dan Jumat
***
Jangan biarkan ia luntur karena dosa
Yang ia pungut sepanjang jalan menuju kota
Gubris akan tipis baju yang ia kena
Ulah dari asap-asap mengendara
Sepanjang lintas horison di dalam bola
***
Adakah seorang yang tahu?
Mengapa langit berwarna biru?
Dan berganti merah di kala senja
Tampaknya, ia tak kuat menahan kantuk
Dari jejal bola-bola surya
Kapan ini berakhir?
Mungkin kapan-kapan
Kata seorang penyair yang mahir
Dalam diksi rona pelangi, untuk kata yang ia iris, dari bungkus sebuah puisi
***
Hari terakhir, langit makin membiru
Sepasang mata mulai tertuju
Pada tenggak seribu arak, yang ia minum dengan elak
Kini wajahnya merah merona, bukan biru
Karena ajal yang tak bisa diganjal
Dengan setitik rona biru
No comments:
Post a Comment