LANGIT MENDUNG
Sesaat aku memejamkan mata, melihat seisi alam tanpa kedip
Di sini aku sendiri, menanti seberkas cahaya cinta
Menatap seekor kupu-kupu yang kembali ke sarangnya
Gerak-gerik awan pun tak pernah kulewatkan
Bahkan untuk menanti hujan
Langit telah dipenuhi oleh jejal awan-awan hitam
Yang bergelantung dan sesekali mendecap pada rantai pelangi
Udara menjadi panas, namun langit tak meninggalkan bekas
Yang ia rajut dengan jarum kukunya
Kenapa kerut wajah petani terlihat murung?
Kenapa orang-orang telah sedia payung?
Kenapa semut-semut berlarian menuju huma?
Kenapa dengan para loper koran berhenti menjajakan surat kabarnya?
Lalu dari mana aku harus mendapatkan gosip hari ini?
Atau sekedar menilik berita yang heboh saat ini?
Kenapa listrik tiba-tiba berpulang? Pada saklar yang dimatikan
Kenapa pula dengan dirimu yang kelam?
Ada apa sebenarnya? Apakah engkau sedang membalas dendam?
Ataukah engkau ingin bercanda dengan nyawa?
Bukan salah siapa-siapa, tapi kaulah yang tidak merasa
Merasa diberi susu oleh ibumu dan diberi makan oleh bapakmu
Oleh tanah yang semakin sempit, oleh air yang semakin keruh
Mereka semua memang telah ternoda
Kini biarlah mereka memberimu sekali cambuk untuk membangunkan dirimu
Padahal sedetik sebelumnya, ia masih bersabar
Tapi, kau makin keterlaluan
Tahukah kamu? Langit sedang mendung
Sebentar lagi yang akan turun adalah batu, bukan air
Karena kau telah membuat air menangis
Denyut nadiku terasa kembang-kempis, ketakutanku belum menepis
Langit sedang mendung, ia juga mengandung 6 bulan
Lihatlah perutnya buncit karena terus kau jejali tiap hari
Aku tak mau tahu, jika langit telah membakar jagung
Untuk memenuhi hasrat bayi dalam perutnya
Dan aku tak mau tahu karena langit semakin mendung
Ia mendung, mendung, mendung, mendung, mendung, mendung
Tidak, aku tidak tahu jika kau mau menanggung
Semua kini terlambat, hujan turun lebat
Menghanyutkan dirimu, dan membinasakan dirimu
Pada lubang liang kubur, dan sekarang langit tengah merenung
Ia merenung dan memutuskan untuk menjadi mendung
Mendung lagi, setiap hari,
Hingga mengakhiri
No comments:
Post a Comment