Saturday, May 7, 2011

[PUISI] ~LANGIT MENDUNG~ |Angkasa Yoga Inspira

LANGIT MENDUNG

Sesaat aku memejamkan mata, melihat seisi alam tanpa kedip

Di sini aku sendiri, menanti seberkas cahaya cinta

Menatap seekor kupu-kupu yang kembali ke sarangnya

Gerak-gerik awan pun tak pernah kulewatkan

Bahkan untuk menanti hujan

Langit telah dipenuhi oleh jejal awan-awan hitam

Yang bergelantung dan sesekali mendecap pada rantai pelangi

Udara menjadi panas, namun langit tak meninggalkan bekas

Yang ia rajut dengan jarum kukunya

Kenapa kerut wajah petani terlihat murung?

Kenapa orang-orang telah sedia payung?

Kenapa semut-semut berlarian menuju huma?

Kenapa dengan para loper koran berhenti menjajakan surat kabarnya?

Lalu dari mana aku harus mendapatkan gosip hari ini?

Atau sekedar menilik berita yang heboh saat ini?

Kenapa listrik tiba-tiba berpulang? Pada saklar yang dimatikan

Kenapa pula dengan dirimu yang kelam?

Ada apa sebenarnya? Apakah engkau sedang membalas dendam?

Ataukah engkau ingin bercanda dengan nyawa?

Bukan salah siapa-siapa, tapi kaulah yang tidak merasa

Merasa diberi susu oleh ibumu dan diberi makan oleh bapakmu

Oleh tanah yang semakin sempit, oleh air yang semakin keruh

Mereka semua memang telah ternoda

Kini biarlah mereka memberimu sekali cambuk untuk membangunkan dirimu

Padahal sedetik sebelumnya, ia masih bersabar

Tapi, kau makin keterlaluan

Tahukah kamu? Langit sedang mendung

Sebentar lagi yang akan turun adalah batu, bukan air

Karena kau telah membuat air menangis

Denyut nadiku terasa kembang-kempis, ketakutanku belum menepis

Langit sedang mendung, ia juga mengandung 6 bulan

Lihatlah perutnya buncit karena terus kau jejali tiap hari

Aku tak mau tahu, jika langit telah membakar jagung

Untuk memenuhi hasrat bayi dalam perutnya

Dan aku tak mau tahu karena langit semakin mendung

Ia mendung, mendung, mendung, mendung, mendung, mendung

Tidak, aku tidak tahu jika kau mau menanggung

Semua kini terlambat, hujan turun lebat

Menghanyutkan dirimu, dan membinasakan dirimu

Pada lubang liang kubur, dan sekarang langit tengah merenung

Ia merenung dan memutuskan untuk menjadi mendung

Mendung lagi, setiap hari,

Hingga mengakhiri

No comments:

Post a Comment