Sunday, February 20, 2011

....KUMBANG-KUMBANG BERSIMPANGAN...

Kumbang-Kumbang Bersimpangan

Kumbang-kumbang yang bersimpangan, ke manakah dikau hendak berkubang..
Gundah telah berkisah padaku setiap kau lewat di depanku..
Walau semilir angin yang meniup-niup daun pisang hijau kan bersumpah..
Sumpah yang akan ku pegang selama kau bertitikkan hujan-hujan embun pagi..
Manis bukan, kumbang yang gemetaran sayapnya tak kembali ke bunga biru..
Bunga yang selalu ia hinggapi dan ia sedot manisnya madu kandungnya..
Sedikit rahasia masih ku simpan baik-baik..
Tak akan mengubah rasa sepi yang selalu menghampiri..
Eramku kini tak kau hiraukan seperti dulu lagi..

Ke mana dirimu kumbang? Aku masih menunggumu di tempat biasa..
Ya, di atas pohon matoa yang tumbuh merindangi rumahku..
Tapi, ini bukankah sebuah gemeliang siulan angin malam..
Yang membawa kabar kematianmu baru saja, di balik awan yang mendung..
Kumbang..kumbang.. Siapa yang membunuhmu???
Aku tak punya lagi seorang pun sahabat yang setia sepertimu..
Kumbang, kumbang yang bersimpangan Kenangan akan kesendirian..
Alam kini menangis mengenang kepergianmu..

Sembari menuda akan lilin kecil yg terhempas terkandas oleh turbulensi yg semakin memutar dan mencekam..
Apalah semua ini? Korelasi kesedihan alam akan hilangnya gegaran petir, kilat, dan hujan pun mendendammu..
Tak taukah kau semua itu, langit kini bergeming atas kebohonganmu. Mencuat terderap semat-semat panah goreh hati yg tak tertahankan..
Mungkin, realita hidup terkadang tak seadil-adilnya para berjuasi..

Aku malu akan semua ini, bui telah meringkih sebar gurat air yg turun dari langit..
Walau sampai habisnya jam pasir yg membolak-balikkan butir-butirnya, aku akan tetap..
Tetap mengguluh pedang keyakinan, untuk menembus langit..
Setujuh pun akan kutembus langit itu, sampai habisnya puncak langit ketujuh.

No comments:

Post a Comment